Menulis: Proses Sabar dan Syukur

Minggu, 26 Juni 2011

Siska Yuniati

Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang Dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat (QS. Asy-Syura: 27).

Saya terhenti mendaras terjemahan Al-Quran. Pada surat dan ayat tersebut saya merasa tersindir. Betapa tidak, dua bulan yang lalu saya mengikuti berbagai lomba menulis. Sengaja saya mengikuti banyak lomba agar saya “terpaksa” mengasah keterampilan menulis saya. Menulis di tengah keterbatasan tidaklah pekerjaan mudah. Saya harus berbagi waktu dengan keluarga, pekerjaan, serta kesibukan lainnya. Tiga anak saya (5,8 th, 4,2 th, dan 2,2 th) sering sekali mengacaukan aktivitas menulis yang telah saya jadwalkan. Belum lagi tahun ini saya mendapat jatah dalam kepanitiaan Ujian Nasional. Bermacam persiapan menjelang Ujian Nasional mau tidak mau membuat waktu longgar saya terkurangi.

Pertengahan Mei, beberapa lomba diumumkan pemenangnya. Sudah empat lomba memberitakan bahwa saya bukan pemenangnya. Saya akui, saya merasa kecewa. Biarpun kita tahu, bahwa yang namanya lomba tentu saja ada yang menang dan kalah. Seorang kawan (yang sama-sama belum menang) mengirimi saya pesan, “Bukankah kita sudah menang, bisa menulis. Lebih bagus daripada yang tidak nulis”.

Ya, saya sangat menyadari itu. Tapi untuk legowo, duh sepertinya butuh proses panjang. Hingga saya membaca terjemahan surat Asy-Syura ayat 27. Saya tercekat, berusaha mencerna maknanya semampu saya. Dalam perenungan itu saya menemukan bahwa rezeki memang sudah ditakar. Barangkali memang karya saya masih jauh dari layak juara karena persiapannya yang mendadak dan kurang fokus. Barangkali saya harus mengalami beberapa kekalahan agar saya lebih banyak belajar dan tidak menjadi sombong. Barangkali kalau kemenangan itu jatuh pada orang lain tentulah manfaatnya menjadi lebih luas.

Saya teringat ketika saya menjadi juara I Lomba Menulis Cerpen Tempoe Doeloe yang diselenggarakan Arsitektur Indis (2009). Waktu itu saya baru saja melahirkan anak ketiga. Bulan ke delapan usia kandungan, saya mengalami pendarahan hebat. Setelah lahir, rupa-rupanya anak saya masih harus tinggal di rumah sakit selama sepuluh hari untuk menjalani terapi. Anak saya ikterik (kuning) lantaran ketidakcocokan darah antara saya dan anak saya. Tentu saja banyak biaya yang harus kami keluarkan. Saya berusaha mengalihkan perhatian dengan menulis cerpen. Alhamdulillah, cerpen tersebut berhasil saya kirimkan kepada panitia lomba dan menang.

Menengok kegagalan dan keberhasilan yang pernah saya raih, saya menemukan bahwa ada proses sabar dan syukur dalam menulis. Bersabar untuk terus berlatih dan berusaha. Bersyukur karena Allah telah menjernihkan dan menajamkan pikiran kita untuk menuangkan ide.

Alhamdulillah, akhir Mei saya mendapat kabar bahwa cerpen saya masuk 15 besar dari 113 yang turut dilombakan. Secara materi, saya mendapat sebuah buku. Pihak penyelenggara juga akan menerbitkan kumcer kelima belas cerpen tersebut (semoga diberi kelancaran). Di luar itu, saya mendapat teman-teman dengan semangat menulis yang luar biasa. Saya dapat belajar banyak dari mereka.

Rezeki tidak harus berupa uang atau barang, akan tetapi keluarga, sahabat adalah rezeki yang besar. Kewajiban kita adalah berkarya dan biarlah Allah memberikan yang terbaik untuk kita.***

Diikutkan dalam kompetisi GiveAway “Angka 100″ yang diselenggarakan oleh deyfikri.com yang diumumkan pada 26 Juni 2011.



6/26/2011