Jadilah Guru Inspiratif

Jumat, 16 September 2011

Siska Yuniati
 
Menjadi guru ternyata tak sekadar berdiri di depan kelas, menjelaskan materi pelajaran sesuai dengan jadwal mengajarnya. Pun tak sekadar pula mangejar target sertifikasi dan menjadi sosok yang pantas untuk digugu dan ditiru.

Penggalan paragraf di atas menjadi pengantar buku Begini Cara Menjadi Guru Inspiratif & Disenangi Siswa. Acep Yonny dan Sri Rahayu Yunus mengelompokkan sosok guru menjadi dua tipe. Pertama, guru konvensional dan kedua, guru inspiratif. Tipe-tipe guru tersebut bertolak belakang dalam hal karakter dan cara mengajar. Guru konvensional memandang pekerjaannya sebagai beban, menghayati profesi keguruan dalam batas jam atau bunyi bel sekolah, dan berpikir bahwa sertifikasi guru adalah segalanya. Sementara guru inspiratif sangat terbuka dan membuka wawasan, baik untuk dirinya sendiri maupun bagi siswa-siwanya. Guru inspiratif tidak hanya memiliki kemampuan mentransformasikan pengetahuan dan pengalamannya, namun juga memberikan ketauladanan dan menginspirasi anak didiknya agar mereka dapat mengembangkan potensi diri dan memiliki akhlak yang baik.

Prof. Dr. Komaruddin Hidayat dalam Active Learning karya Mel Silberman juga menyebutkan bahwa kita tidak boleh terjebak dalam proses pendidikan dan pengajaran yang hanya melahirkan sarjana bermental tukang dan mental pengawal yang miskin imajinasi dan lemah karakter. Pendidikan harus bersifat emansipasif dan liberatif, pendidikan harus membebaskan manusia. Bebas dari apa? Dari kebodohan, dari ketertinggalan, dari penindasan, dan dari berbagai hal-hal yang membelenggu pertumbuhan manusia. Pendeknya, pendidikan harus mengantarkan manusia menjadi pribadi yang merdeka dan senatiasa tumbuh dan berkembang.

Untuk mencapai pribadi yang merdeka dan berkembang diperlukan guru yang inspiratif. Mengapa? Karena Guru inspiratif senantiasa mencari terobosan baru dalam mengajar serta memfasilitasi peserta didik untuk mencapai kesuksesan. Untuk menjadi guru inspiratif tidak serta merta dibentuk secara instans, melainkan diperlukan modal dasar. Dalam bab 2 dijelaskan modal dasar guru inspiratif adalah berpandangan positif, menjalin ikatan emosional, membuat aturan main bersama, membuat kegembiraan, membuat afirmasi, memberi pujian, berani mengambil resiko, serta membangun kesatuan.

Guru inspiratif juga mengetahui tipe belajar siswa untuk menciptakan proses pembelajaran yang mengasyikan. Sebagaimana kita ketahui bahwa seriap orang mempunyai kecenderungan tipe belajar tertentu. Sebagai contoh, siswa yang bertipe belajar olfaktoris, keberhasilan belajar bergantung pada indra penciuman. Dalam proses pembelajaran, guru dapat melakukan (1) gunakan aroma terapi saat kegiatan belajar sehingga menggugah minat belajar siswa, (2) perbanyak kegiatan belajar di alam terbuka, dan (3) hiasi ruang kelas dengan bunga-bunga alami (hal. 70).

Selain menjabarkan tipe belajar dan alternatif cara menyampaikan materi, buku ini juga memberikan teknik untuk mengatasi lupa dan kejenuhan. Di antara teknik yang diberikan adalah mnemonic device. Mnemonic device biasa juga disebuat muslihat memori, yaitu memasukkan informasi ke dalam otak dengan alat pengait mental. Ada bermacam-macam teknik mnemonic, seperti membuat rima (sajak) dan singkatan atau kata kunci. Contoh kata kunci dikreasikan dalam tepuk bersama-sama

TEPUK PARAGRAF

Plok-plok-plok narasi
Plok-plok-plok itu cerita
Plok-plok-plok deskripsi
Plok-plok-plok itu paparan
Plok-plok-plok argumentasi
Plok-plok-plok pakai alasan
Plok-plok-plok persuasi
Plok-plok-plok itu bujukan

Teknik semacam ini membuat suasana belajar tidak terkesan kaku. Siswa dapat mengingat materi dengan perasaan suka cita.Apalagi jika dipadu dengan sepuluh metode yang paling digemari siswa. Ya, ternyata siswa lebih senang belajar dengan metode bermain peran, eksperimen, diskusi, demonstrasi, proyek, widyawisata, permainan, cerita, latihan bersama teman, dan pemecahan masalah (brainstorming).

Bisa kita bayangkan seandainya proses pembelajaran berlangsung menyenangkan dan siswa tertantang untuk terus bersemangat melahap ilmu, tentulah di masa mendatang bangsa ini akan dipenuhi generasi kreatif yang membanggakan. Di sinilah dedikasi seorang guru dipertaruhkan. Dedikasi guru dapat dibangun dengan cara menumbuhkan keyakinan akan kekuasaan Tuhan dan rasa ikhlas. Jangan bertanya tentang apa yang akan saya peroleh, tetapi bertanyalah tentang apa yang dapat saya sumbangkan. Jiwa dedikasi juga dapat diperoleh dengan mengajar dengan cinta serta belajar pada tokoh-tokoh yang memiliki idealisme tinggi. Nah, jika Anda seorang guru sudahkan mempunyai dedikasi yang tinggi? Dengan dedikasi yang tinggi Anda akan menjadi guru inspiratif, guru yang terus menginspirasi peserta didik untuk lebih kreatif dan mandiri.

Judul Buku: Begini Cara Menjadi Guru Inspiratif & disenangi Siswa
Penulis: Acep Yonny dan Sri Rahayu Yunus
Penerbit: Pustaka Widyatama
Tahun Terbit: 2011
ISBN: 978-979-610-469-7
Tebal: 160 halaman



9/16/2011