Guru pun Harus Go-Blog!

Sabtu, 22 Oktober 2011

Sabjan Badio

Beberapa waktu silam, saya mendapatkan sebuah e-mail di milis para guru. Seorang guru protes atas ajakan Guru Go-Blog. Bagaimana tidak protes, coba Anda lafalkan ajakan tersebut. Teman guru yang protes tersebut menginginkan kata-kata yang lebih menghormatkan guru. Kalau seperti itu, bayangkan sendiri apa yang dapat terjadi pada guru blogger.

Saya sendiri adalah seorang guru. Sebagai seorang guru, banyak persyaratan yang harus saya lalui sebelum menuangkan tulisan di blog. Di antara syarat-syarat tersebut adalah (1) tulisan tidak boleh bersifat pribadi karena banyak mata yang mengamati aktivitas saya di dunia maya, terutama teman-teman sesama guru dan para siswa, (2) tulisan harus berbobot, masa guru menulis sembarangan, (3) tulisan harus mendidik, dan banyak persyaratan lain yang semuanya serasa menyakiti pundak saya.

Semua pandangan tersebut, tak urung membuat saya mandeg menulis. Mau menulis ini malu, ini takut dikritisi, menulis anu tidak pantas untuk seorang guru, jadinya saya tidak memosting tulisan di blog saya. Oleh karena itu, wajarlah jika Anda menemukan tulisan ini adalah posting pertama di blog mediaksara.wordpress.com ini.

Beberapa lama “bersemedi” akhirnya saya mendapatkan sebuah penerangan. Hal ini berkaitan dengan aktivitas saya menulis di majalah departeman. Beberapa kali berkontribusi menulis di sana, saya selalu menemukan kekurangan pada tulisan-tulisan terdahulu. Pada saat itu, saya pun menemukan beberapa pembaruan dan peningaktan pada tulisan-tulisan kemudian. Kenyataan ini membawa saya pada kesimpulan bahwa seseorang menjadi pintar menulis sama sekali bukan karena bakat, melainkan karena latihan. Latihan-latihan yang kita lakukan membuat kita semakin profesional menulis.

Beberapa pelatihan yang saya ikuti mendukung penafsiran saya tersebut. Hingga, kemudian, saya berprinsip bahwa seseorang akan menjadi penulis adalah dengan menulis itu sendiri: menulislah, maka anda akan menjadi penulis! Seiring dengan kesadaran ini, ada beberapa hal yang dapat saya petik dari aktivitas para blogger (berdasarkan sharing mereka di beberapa blog).

Menulis Harus Fokus

Siapa pun kita, pasti akan lebih nyaman berada pada tempat yang tertata. Saat mencari sesuatu kita pun akan lebih nyaman melakukannya pada koleksi yang tertata, apalagi terkatalog. Coba bayangkan, saat Anda berada di perpustakaan dengan berbagai informasi, tanpa katalog yang memandu, mungkin Anda tidak akan menemukan buku yang dicari.

Kefokusan juga bisa mendatangkan manfaat finansial. Beberapa penulis buku mengawali tulisan-tulisannya di blog. Saat pihak-pihak tertentu menemukan kumpulan tulisan tersebut dan memandangnya sebagai ide-ide cemerlang, tidak mustahil akan memintanya untuk diterbitkan. Anda tentu juga dapat membayangkan, tidak mungkin sebuah penerbit akan mengambil tulisan-tulisan di blog yang materinya gado-gado.

Menulis Harus Bertanggung Jawab

Kita harus bertanggung jawab atas apa yang kita tulis, termasuk ketika mencuplik tulisan blogger lain. Kejujuran adalah kunci aman dalam menulis. Banyak pelajaran yang dapat kita ambil akibat sandungan ketidakjujuran. Saya mengenal seorang doktor senior yang tidak bisa diangkat sebagai guru besar (professor) karena terbukti beberapa kali menjiplak. Untuk para blogger lebih riskan lagi, saat ini sudah ada situs yang bisa melacak duplikasi tulisan-tulisan di internet.

Selain berhubungan dengan jiplakan, kita harus bertanggung jawab menyelesaikan tulisan-tulisan yang telah kita mulai. Jangan sampai materi-materi yang disajikan justru menggantung atau membuat repot pembaca.

Menulis Harus Didukung oleh Data-Data

Bagian ini sebenarnya berhubungan dengan poin bertanggung jawab. Seorang penulis akan lebih dipercaya jika menyajikan materi tidak sekadar berdasarkan asumsi pribadinya semata. Tulisan-tulisan yang disajikan dengan dukungan data-data akurat terasa lebih hidup dan nyata. Dengan begitu, sangat mungkin jika pihak-pihak lain menjadikannya sebagai rujukan.

Perlu disadari juga, data-data yang terpelihara keakurasiannya tersebut juga diperlukan untuk tulisan-tulisan yang sifatnya pribadi, misalnya curhat dan catatan harian. Dalam catatan harian, salah satu data yang harus kita penuhi dengan baik adalah keakuratan waktu. Kita semua dapat menganalisa bahwa catatan harian Anne Frank tidak akan selaris sekarang jika tidak didukung oleh data-data yang akurat. Dengan tidak adanya data, orang-orang bisa meragukan keasilan bahkan kevalidan tulisan yang kita buat.

Menulis Harus Ikhlas

Banyak penulis yang mata duitan. Tidak salah, karena aktivitas tulis-menulis membutuhkan modal dan berujung pada harapan finansial. Hanya saja, jika setiap kita menuliskan kata demi kata selalu berdasarkan akhir finansial, tentu bukanlah hal yang bijak. Aspek finansial akan secara otomatis hadir ketika kita menjadi penulis “sungguhan” yang tulisannya diakui dan dibutuhkan oleh banyak pihak.

Saya terkesan pada pernyataan seorang blogger bahwa tulisannya bebas dikopi baik dengan pencatuman sumber maupun tidak. Pernyataan ini tentu bukanlah tindakan yang mendidik. Sebagai etika dalam dunia tulis-menulis, walaupun satu kalimat, sumber aslinya harus dinyatakan. Selain untuk menghormati penulis aslinya, pernyataan atas sumber asli ini juga berhubungan dengan pertanggung jawaban yang telah dibasas di depan. Jika ternyata tulisa tersebut di kemudian hari menimbulkan kontroversi, dengan adanya tata krama pengutipan, akan mudah untuk menemukan penulis asli untuk kemudian melacak hal-hal yang perlu diketahui tentang tulisan yang telah dibuatnya. Jika tidak, akan sama kasusnya dengan SMS layar merah yang menghebohkan beberapa waktu silam, tidak tahu siapa sumbernya, banyak orang sampai dicekam ketakutan.

Ini adalah catatan pendek dari seorang blogger pemula, masih perlu banyak belajar dari para suhu yang mungkin di antaranya sedang membaca tulisan ini (saya tunggu masukannya). Akhirnya, saya katakan pada calon-calon blogger yang lain: Menulislah, hanya itulah yang akan menjadikan Anda seorang penulis. Satu lagi, tulisan ke-sepuluh, ke seratus, dan ke berapa pun selalu dimulai dari tulisan pertama, sejelek apa pun tulisan pertama itu. Tunggu apa lagi, mumpung ada blog yang sangat praktis, murah, dan mendunia yang menunggu untuk dimanfaatkan.***

Tulisan ini adalah salah satu pemenang dalam lomba menulis yang diadakan indonesiamenulis.com tahun 2009.



10/22/2011