Hujan Bulan Juni

Jumat, 18 November 2011

Hujan Bulan Juni
Sapardi Djoko Damono
[dikutip dari www.kumpulan-puisi.com]

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Membaca puisi tersebut, yang terbayang di benak saya adalah ketulusan mengabdi, ketulusan berbakti, ketulusan membantu, ketulusan kasih-sayang. Senang jika hal ini benar-benar terjadi di dunia nyata sebab nilai ketulusan mulai memudar seiring semakin hedonisnya kehidupan manusia.

Saya teringat, suatu ketika saya bertamu. Pertama saya mengetuk pintu, tidak ada jawaban. Yang ada, seseorang menatap dengan curiga dari balik pagar besi. Dia bertanya dengan tidak membuka pintu. Setelah mengemukakan maksud, pintu pun dibuka. Akan tetapi, suasana tetap tegang.

Kedatangan saya karena ada kepentingan, memang bukan karena saling mengenal. Kaku sekali rasanya melihat tuan rumah begitu dinginnya. Namun, itu tidak lama. Tiba-tiba saja keadaan berubah. Obrolan berjalan panjang, yang dibicarakan tidak sekadar urusan yang direncanakan, banyak hal lain di luar topik.

Beberapa hari kemudian, si Tuan Rumah menelpon saya. Dia mengatakan senang berbincang dengan saya, sebab saya ramah. Saya pun terkejut. Ternyata tuan rumah yang dingin itu, bukan tidak bersahabat, dia hanya memiliki sifat “curigaan” dan tidak mudah mempercayai orang. Saya tidak menyalahkannya melihat keadaan sekarang memang menuntut banyak orang berlaku seperti itu.

Andai semua orang tabah dan tidak mudah mencari jalan pintas dengan berbuat jahat. Andai semua orang bijak dalam berbuat dan arif dalam berlaku. Saya kira, tidak akan ada kehidupan saling curiga, hidup akan lebih damai dan saya tidak akan disambut dengan tatapan dingin oleh si Tuan Rumah.

Hambarnya kehidupan, rupa-rupanya tidak sekadar terjadi antara orang-orang yang tidak saling kenal. Dalam kehidupan keluarga pun demikian, bahkan dalam hubungan orang tua-anak. Tidak jarang kita saksikan orang tua yang membanting tulang demi anaknya, dia tidak pernah mengeluh tentang hal itu. Tidak jarang pula kita saksikan orang tua yang begitu bijak mengatasi pertengkaran antaranaknya. Dan, tidak jarang pula, kita saksikan orang tua yang begitu arif memaafkan kesalahan-kesalahan dan tingkah tak benar anak-anaknya.

Namun, sayang, tidak jarang pula kita saksikan anak yang mencium tangan orang tuanya saja tidak mau lagi. Kerap terlihat anak yang berkata kasar kepada orang tuanya. Sering nampak anak-anak yang memaksa ini mamaksa itu kepada orang tuanya. Walaupun orang tua tidak berharap imbalan, senantiasa merahasiakan rintik rindunya, selalu menghapus jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu, dan senantiasa ikhlas mendapati anaknya yang laksana akar menyerap apa pun yang dia punya, walaupun orang tua kita tidak sempurna, anak tetap punya kewajiban berbakti. Seperti yang tertulis dalam Nibiru dan Kesatria Atlantis, “Kau tidak perlu memiliki ibu yang sempurna untuk menghormatinya. Siapa pun ibumu, dia berhak engkau kenang dan engkau cintai”.

Tulisan ini merupakan satu di antara pemenang kompetisi GiveAway “Angka 100″ yang diselenggarakan oleh keluargadeyfikri.blogspot.com.



11/18/2011