Awas Ada Polisi!

Senin, 23 April 2012

Sabjan Badio

Awas ada polisi! Kalau nangis terus, nanti saya serahkan ke polisi! Itulah di antara kalimat-kalimat yang kerap saya dengar ketika kecil. Dalam benak saya, seorang polisi adalah momok menakutkan, seragamnya laksana hantu, senjatanya seolah setiap saat siap menyalak memuntahkan peluru, mengantar seseorang meregang nyawa. Kesan tersebut terus terbina hingga saya remaja, apalagi beberapa polisi yang saya temui selalu arogan, membanggakan seragam dan senjata yang ada di pinggang. Pun di jalanan, mereka seolah sang pemilik, penguasa, yang siap menghukum siapa pun yang tidak taat.

Sampai suatu ketika, saat itu saya melakukan perjalanan jauh menggunakan bis. Setiap memasuki teriminal, saya selalu ketakutan dengan para calo, dengan tukang becak, tukang ojek, sopir taksi, dan semua penghuni terimal yang begitu agresif. Sedikit saja mereka tahu tujuan saya, akan langsung ditarik mengikuti, tidak peduli saya setuju ataupun tidak. Kerap saya harus membayar lebih mahal karena kadung mengikuti tarikan mereka.

Tidak mau selalu menjadi bulan-bulanan, saya pun mencari akal. Saya teringat, hampir di setiap terminal ada pos polisi, paling tidak ada polisi yang berjaga. Mengetahui hal itu, saya pun langsung mengabaikan tawaran para calo ketika akan naik bis, mengabaikan tawaran tukang becak, tukang ojek, dan taksi ketika turun dari bis. Saya pura-pura tidak mendengar tawaran mereka sembari terus berjalan mencari pos polisi. Tahu saya mendekat pos polisi, biasanya para calo, tukang becak, tukang ojek, dan sopir taksi akan mundur selangkah demi selangkah. Mereka membiarkan saya masuk dengan tenang ke pos polisi dan berkomunikasi dengan damai di sana.

Lazimnya, Pak Polisi akan langsung menyambut dengan senyuman. Bahkan, yang berkumis tebal dan berwajah sangar pun langsung berusaha untuk tersenyum. Kadang, lucu juga menyaksikannya, cukup membuat hati saya—yang semula dongkol karena diikuti—menjadi tersenyum kembali. Pak Polisi yang saya temui langsung bersiap, yang duduk membungkuk langsung menegakkan dada, yang santai langsung siaga, sembari mengucapkan: Selamat pagi, siang, sore, atau malam. Kata berikutnya yang sangat saya suka: Ada yang bisa kami bantu?

Lega rasanya, seolah mengadu kepada ibu sendiri. Saya pun bertanya ini-itu, tentang daerah, tentang bis, tentang ojek, tentang becak, tentang taksi, tentang tarif-tarifnya. Para polisi itu ternyata benar-benar siaga, seperti yang terlihat dari sikapnya. Setelah menjawab semua pertanyaan, mereka pun berdiri, berjalan memanggil jasa transportasi yang saya butuhkan. Otomatis, karena polisi yang memanggil, para penawar jasa itu tidak ada yang berani macam-macam, tarif yang ditetapkan adalah tarif wajar.Tentu saja saya sangat berterima kasih untuk semua itu.

Itu cerita ketika remaja.Setamat SMA, saya kuliah di Yogyakarta. Kuliah di sana memiliki cerita sendiri, tak jarang kami harus jalan kaki sebab angkutan mogok karena memprotes sesuatu. Biasanya angkutan beroperasi pada pagi hari dan penduduk beraktivitas seperti biasa. Siangnya, saat akan pulang, kami pun kebingungan karena kendaraan umum mogok semua. Saat-saat seperti itu, yang kami tunggu biasanya mobil-mobil polisi, baik truk maupun kendaraan lain. Lumayan, daripada berjalan kaki.Tidak jarang mobil polisi yang ada tidak mencukupi untuk mengangkut semua penumpang. Jika sudah begini, ya terpaksa berjalan kaki.

Setamat kuliah, saya tinggal di Bantul, menikah dengan penduduk lokal. Saya ingat ketika istri saya mengandung anak pertama. Di lampu merah sebuah perempatan dia berhenti, akan tetapi lain dengan becak yang di belakangnya. Tukang becak tersebut langsung saja menyeruduk sepeda motor istri saya sehingga terjatuh. Pak Polisi yang menyaksikan kejadian itu langsung turun tangan membantu mengangkat sepeda motor istri saya yang rebah. Tak urung tukang becak langsung “disemprot” karena melanggar rambu lalu lintas—di Jogja memang banyak tukang becak yang melanggar lalu lintas karena merasa aman dan merasa tidak akan ditilang.

Di lain waktu, istri saya serempetan dengan kendaraan lain di Jalan Parangtritis Bantul. Dia jatuh dan luka-luka.Berdasarkan cerita, Pak Polisi yang datang tergopoh mengambil semua identitas mereka, baik istri saya maupun “lawannya”. Mengetahui istri saya cidera, lebih tergopoh lagi Pak Polisi, dia langsung memacu kendaraannya menuju puskesmas. Pak Polisi turun dari kendaraan memeriksa puskesmas yang terlihat sepi, ternyata memang sudah tutup. Sigap Pak Polisi menghidupkan kendaraannya lagi dan memacunya ke utara, menuju RS Patmasuri Krapyak.

Memasuki halaman rumah sakit, klakson dibunyikan, para perawat berlarian dan menyambut dengan sigap. Tahu korban telah ditangani, Pak Polisi langsung memacu kendaraannya, pergi. Tak lama kemudian, kami datang dan istri saya pun diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Kami pun menuju pos polisi, memeriksa kendaraan.

Di sana Pak Polisi yang tadi menangani istri saya ternyata telah siaga. Segala sesuatu telah disiapkan, “si lawan” serempetan berada di dekatnya. Mulanya istri saya sempat berburuk sangka karena Pak Polisi langsung ngeloyor pergi meninggalkan istri saya di rumah sakit, ternyata kepergiannya itu untuk kembali ke lokasi dan mengurus segala sesuatunya. Dilakukan “sidang” singkat, karena semua surat-menyurat lengkap, kendaraanboleh dibawa pulang. Hanya saja, karena istri saya mengalami luka-luka, Pak Polisi menyiapkan surat perjanjian terhadap “lawan” serempetan istri saya. Isinya tentang kesanggupan untuk ikut bertanggung jawab jika di kemudian hari terjadi sesuatu dengan istri saya. Karena istri saya tidak menghendaki perjanjian tersebut, kami pun pulang dengan damai. Terima kasih Pak Polisi.

Itu adalah sedikit pengalaman saya selama berurusan dengan polisi. Sama sekali tidak terbukti apa yang saya takutkan selama ini, pun tidak terbukti kinerja buruk polisi yang banyak didengungkan di berbagai media oleh banyak kalangan. Jujur, saya ingin mengatakan, jika ada orang yang hanya bisa menilai polisi sebagai institusi yang buruk belaka, itu namanya tidak tahu terima kasih. Kekhilafan, kecelakaan, kelalaian, mungkin saja terjadi pada siapa pun, tak terkecuali pada diri polisi. Biasanya hal tersebut dialami, terjadi, ataupun dilakukan oleh oknum tertentu, sehingga tidak bisa generalisasikan, melainkan harus dinilai secara objektif.

Kemudian, saya sadari beberapa teman saya menjadi polisi. Mereka begitu ramah, suka bergurau dengan anak saya, tak kalah ramahnya dengan teman-teman lain. Setiap saya mengantar anak sekolah dan menyeberang Jalan Bantul, Pak Polisi dan Ibu Polisi selalu membantu menyeberangkan, maklum Jalan Bantul pada pagi hari lumayan ramai. Hingga suatu ketika, anak saya mem­bawa buku tulis berlogo Polri. Di halaman depan ada gambar Kapolri.

Saya tanya kepada anak, tentang asal-usul buku tersebut. Anak saya pun dengan semangat menceritakan. Dia baru saja bertemu dengan Pak Polisi dan Bu Polisi, mereka bahkan berkesempatan memegang senjata Pak Polisi, berkesempatan bertanya ini dan itu, diajari cara menyeberang jalan, dan diajari hal-hal lain. Saya pun sadar, masanya sudah berbeda, Pak Polisi tidak lagi tampil menakutkan seperti dulu, lebih kepada disegani sebagai aparat penegak hukum. Mungkin, kunjungan Pak Polisi ke taman kanak-kanak tersebut adalah diantara program masyarakat sadar hukum, sejak dini. Sehingga, masyarakat akan benar mematuhi hukum atas kesadarannya, bukan karena takut ada polisi. Dan, Pak Polisi pun tidak perlu lagi menggunakan kesangaran wajahnya untuk menghadapi masyarakat.

Penasaran dengan hal itu, saya pun mencoba browsing, mencari informasi tentang polisi, mengunjungi www.polri.go.idi, mengunjungi www.propam.polri.go.id, dan mengunjungi situs-situs lain untuk mengetahui perkembangan polisi saat ini. Saya pun mendapatkan bahwa salah satu program Propam Polri dalam yang tertuang dalam Renstra Propam Polri 2010-2014 adalah Coordination Role (Kemitraan).

Dalam program kemitraan tersebut, Polri akan meningkatkankerjasama eksternal dengan seluruh pihak terkait, baik Kompolnas, LSM, media, maupun pihak-pihak lain. Program tersebut bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap standar profesi polisi, meningkatkan kontribusi masyarakat dalam mencegah terjadinya pelanggaran oleh polisi, meningkatkan akses masyarakat untuk menyampaikan pengaduan pelanggaran polisi,dan meningkatkan tindak lanjut penyelesaian pelanggaran polisi.

Mungkin saja, program kemitraan Propam Polri dalam pengawasan anggota polisi dan program kemitraan Polri secara keseluruhan dalam usaha melancarkan tugas-tugas preemtif dan preventif Polri untuk meningkatkan kesadaran dan kepatuhan hukum masyarakat inilah di antara yang berperan banyak atas kelancaran tugas-tugas Polri. Sehingga, di tengah keadaan yang cenderung labil, meningkatnya tindak kejahatan, meningkatnya aksi terorisme, keadaan masyarakat justru terlihat stabil dan aman damai.

Dalam suasana damai ini, saya dapat kembali mengenang kata-kata yang sering terdengar waktu kecil: Awas ada polisi! Akan tetapi, awas polisi kali adalah awas ada Briptu Norman Kamaru yang menghibur,awas ada Briptu Eka Frestya dan Brigadir Avvy Olivia yang murah senyum dalam upaya manjalankan tugas polisi, setia melayani masyarakat.***
Juara Harapan I Lomba Menulis Artikel HUT Bhayangkara Polri 2011 yang diselenggarakan oleh Divisi Propam Mabes Polri 2011.



4/23/2012