Kampung Batik Giriloyo, Melestarikan Batik melalui Pariwisata

Sabtu, 28 April 2012

Sabjan Badio

Pendahuluan

Sejarah bangsa ini mencatat bahwa suatu zaman, batik sempat menjadi begitu terkenal dan agung. Upacara adat hingga kenegaraan pun identik dengan pemakaian batik. Maka, tak heran kalau keraton mewajibkan putri-putrinya mengerti batik.


Teknik membatik itu sendiri diperkenalkan sejak ribuan tahun lalu. Tidak ada keterangan pasti mengenai hal itu, namun diperkirakan batik berasal dari Sumeria, dikembangkan di Jawa oleh pedagang India. Saat ini batik dikenal di Indonesia, Malaysia, Thailand, India, Sri Lanka, Iran, dan Afrika. Walaupun demikian, batik yang sangat terkenal di dunia adalah batik dari Indonesia, terutama dari tanah Jawa (id.wikipedia.org).

Dalam bahasa Jawa, batik berasal dari kata “amba” dan “nitik”. Kata batik itu sendiri dimaksudkan sebagai teknik pembuatan corak, baik tulis atau cap, dan mencelupkan kain dengan menggunakan bahan perintang (penghalang) warna yang disebut malam. KBBI mendefinisikan batik sebagai corak atau gambar pada kain yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu.

Awalnya, membatik (batik tulis) adalah kegiatan khusus perempuan. Sejak ditemukannya teknik cap, kegiatan membatik pun mulai dilakukan oleh lelaki. Perbedaan batik tulis dan batik cap terletak pada pembuatan tekstur dan coraknya.  Batik tulis tekstur dan coraknya dibuat menggunakan tangan, batik cap menggunakan cap dari tembaga. Berdasarkan waktu pembuatan juga berbeda, batik tulis membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan pembuatan batik cap.

Baik batik tulis maupun cap, hadir dengan banyak ragam, pembagiannya pun bisa berdasarkan berjenis keriteria. Selain berdasarkan cara pembuatannya di atas, Thebatik.com melansir pembagian berdasarkan nama (oleh Sewan Soesanto), yaitu lereng, semen, parang, truntum, kaung, gringsing, ceplok, nitik, motif pinggiran, dan terang bulan. Balai penelitian batik sendiri membagi batik menjadi motif figuratif, semi figuratif, dan nonfiguratif. Sementara itu, berdasarkan warna, batik dibagi menjadi bambangan (merah), bangjo (merah-hijau), dan kelengan (ungu). Sedangkan Vanderhoop, membagi motif batik menjadi dua macam, yaitu batik geometris dan non-geometris. Motif geometris menggambarkan adanya birokrasi pada pemerintahan, adanya keteraturan dari raja sampai dengan rakyat sementara motif non-geometris tercermin dengan gambar binatang, tanaman, hutan, dan sejenisnya yang menggambarkan harapan atas terkecukupinya sandang, pangan, dan papan.

Pada perkembangannya, juga dikenal batik printing, yaitu batik yang dibuat oleh pabrik. Bersamaan dengan kemunculan batik jenis ini, motif-motif batik pun berkembang lebih luas. Kehadiran batik pabrikan yang diproduksi secara massal dan dengan motif yang lebih beragam ini (disebut juga batik modern) sedikit banyak mulai menggeser kedudukan batik tulis dan batik cap (batik tradisional).

Walaupun begitu, hanya batik tradisional yang tetap taat pada pakem-nya, baik terhadap proses, corak, maupun unsur folosfisnya. Proses pembuatan batik tradisional melibatkan penafsiran seni yang tak tergantikan oleh batik modern. Batik modern hanya dapat dinikmati berupa produk jadinya semata.

Ekspansi batik modern ini, ditambah menurunnya minat generasi muda untuk membatik tentu harus disikapi secara serius oleh pecinta batik Indonesia. Boleh jadi kedua hal ini hanyalah di antara banyak penyebab menurunnya pemahaman masyarakat terhadap nilai filosofis yang tercermin pada setiap motif batik. Banyak cara yang dapat dilakukan, di antaranya adalah dengan mendirikan organisasi-organisasi pecinta batik, bekerja sama dengan para desainer, pemerintah, memasukkannya dalam kurikulum muatan lokal, dan sebagainya. Selain hal itu, juga dapat dilakukan dengan mengemasnya menjadi objek wisata seperti yang telah dilakukan oleh Kampung Batik Giriloyo.

Batik dan Parawista

Zaman selalu berputar, sifat dasar manusia adalah suka terhadap hal baru. Maka modernisasi, berbagai penemuan, disambut dengan antusias. Sifat manusia yang lain adalah tidak pernah puas. Setelah mendapatkan berbagai komodernan, manusia kembali berharap pada hal-hal yang berbau alam, hal-hal tradisional, hal-hal yang jauh dari sentuhan pabrik, dan jauh dari rekayasa industri. Jalan termudah untuk memperoleh hal tersebut adalah dengan mengunjungi wisata budaya, wisata purbakala, wisata bahari, wisata wana, hingga wisata remaja.

Peminat wisata ini tak tanggung-tanggung, sampai melampaui batas teritorial. Kita menyaksikan banyak turis asing yang jauh-jauh hanya ingin menyaksikan Candi Borobudur, bangunan Keraton Yogyakarta, bangunan-bangunan kuno lain, sampai keindahan alam di pegunungan, danau, laut, dan daratan. Tujuannya tentu saja untuk mendapatkan efek rekreatif setelah berhari-hari disibukan oleh pekerjaannya. Wisata budaya terbukti hingga saat ini masih menjadi tujuan favorit para pelancong mancanegara. Inilah mungkin di antara alasan pentingnya keberadaan Kampung Batik Giriloyo.

Kampung Batik Giriloyo

Giriloyo terletak di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari Kota Yogyakarta, hanya berjarak lebih kurang 17 Kilometer. Menurut data Kompas (02/04/09), di Giriloyo saat ini paling tidak terdapat 600 perajin batik yang tergabung dalam sepuluh kelompok. Para perajin ini tetap teguh nguri-uri batik tulis warisan budaya leluhur mereka.

Kemunculan batik Giriloyo diperkirakan bersamaan dengan berdirinya makam raja-raja di Imogiri (tepatnya di Bukit Merak). Makam tersebut dibangun tahun 1654 oleh Sultan Agung (cucu Panembahan Senopati). Kemudian, keraton menugaskan abdi dalem yang dikepalai oleh seorang yang berpangkat bupati untuk menjaga dan memelihara makam tersebut. Karena banyak abdi dalem yang bertugas, maka kepandaian membatik dengan motif halus ala keraton berkembang di wilayah ini. Keterampilan tersebut diwariskan secara turun-temurun kepada anak-cucu perempuannya (batiktulisgiriloyo.blogspot.com).

Secara sederhana, batik tulis Giriloyo dibuat dengan cara (1) menyediakan kain putih yang terbuat dari kapas atau sutera, poliester, rayon, dan sebagainya, (2) membentuk motif batik menggunakan canting untuk motif halus dan kuas untuk motif berukuran besar, (3) kain yang telah dilukis dengan malam (campuran lilin dan zat tertentu) kemudian dicelup dengan warna yang diinginkan, bisanya didahului dengan warna-warna muda, (4) pencelupan untuk motif lain dengan warna lebih tua atau gelap, (5) setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan malam.

Untuk melihat langsung proses pembuatan batik tersebut, pengunjung hanya ditarik biaya Rp35.000 per orang dengan minimal sepuluh orang anggota. Pengunjung dapat berkeliling desa menyaksikan batik tradisional sampai cara pembuatannya. Selain itu, juga disediakan hidangan khas Giriloyo, yaitu thiwul ayu, wedang uwuh, dan pecel kembang turi. Bahkan, dengan biaya Rp.45.000, pengunjung mendapat kesempatan untuk belajar membatik serta dapat membawa pulang karyanya.

Selain untuk kepentingan rekreasi dan pembelajaran, batik tulis Giriloyo ini juga diproduksi untuk kepentingan komersil dan dipasarkan melalui beberapa cara. Cara-cara tersebut di antaranya dipasarkan pada para pengunjung yang hadir selain bekerja sama dengan galeri dan toko batik. Untuk kepentingan pemasaran ini, kedua langkah tersebut tentu saja belum maksimal. Namun, untuk mulai merambah ke pasar-pasar modern, mereka belum memiliki cukup akses. Oleh karena itu, perlu peran aktif pemerintah, pengusaha, organisasi kemasyarakatan, dan para pecinta batik untuk membantu pemasaran batik ini.

Selain untuk akses ke pasar-pasar modern, tentu saja peran aktif tersebut dapat pula dilakukan dengan mengundang para desainer pakaian untuk memanfaatkan batik tulis buatan Giriloyo ini. Dukungan promosi yang intensif diperlukan pula, misalnya melalui pekan rakyat, pameran, brosur, website, hingga melalui penggunaan batik pada kegiatan resmi pemerintahan. Peristiwa kunjungan Presiden Soeharto yang mengenakan batik pada konferensi PBB mungkin patut diteladani. Jika pejabat dan pebisnis dari Timur Tengah berani menggunakan jubah dan sorban pada perjalanan kenegaran dan bisninya, mengapa kita tidak berani menggunakan batik?

Sentuhan para perancang busana diharapkan memberikan nilai jual tersendiri. Paling tidak, kaum muda yang selalu fashionable melirik kehadiran batik ini, apalagi ada kecenderungan masyarakat yang suka terhadap hal-hal yang terkesan antik dan tradisional.

Eksistensi kampung batik ini banyak bergantung pada kehadiran minyak tanah. Kebijakan pemerintah untuk mengonversi penggunaan minyak tanah ke gas membuat minyak tanah menjadi langka dan mahal. Hal ini tentu saja memberatkan para perajin batik Giriloyo. Untuk mengatasi masalah tersebut, mereka kembali menggunakan kayu bakar, baik untuk memanaskan malam maupun untuk membatik itu sendiri.

Penggunaan kayu bakar ini banyak mengalami kendala, di antaranya karena panas yang ditimbulkan oleh kayu bakar tidak stabil. Bahkan, penggunaan kayu bakar ini bisa merusak kain, karena terkena percikan bara. Jika ini terjadi, tentu saja para perajin akan rugi, baik secara waktu maupun materi.

Sebenarnya, para pembatik ini dapat saja menggunakan canting elektrik. Namun, alat modern tersebut belum dapat dipergunakan secara nyaman dan aman oleh para perajin (www.gudeg.net). Untuk itu, perlu perhatian khusus pemerintah agar mereka mudah mengakses bahan baku atau alat produksi, khususnya minyak tanah. Penggunaan kayu bakar secara terus-menerus, selain kurang aman, juga berdampak negatif pada pelestarian alam.

Pada akhirnya, wisata batik ini paling tidak akan memberikan tiga manfaat sesuai fungsi wisata budaya, yaitu manfaat rekreatif, edukatif, dan pelestarian budaya. Manfaat rekreatif adalah manfaat dari unsur kepariwisataan, yaitu manfaat yang dicapai untuk kepentingan penyegaran kembali setelah seharian belajar atau bekerja. Manfaat edukatif berfungsi menambah pengetahuan dan pengembangan diri manusia. Aspek pelestarian budaya dimaksudkan agar batik semakin dikenal dan tidak punah.

Penutup

Batik tradisional adalah warisan budaya bangsa yang harus tetap dipelihara. Di tengah ekspansi batik modern dan busana-busana impor, usaha pelestarian batik harus lebih intens lagi. Parawisata hanyalah salah satu dari cara untuk melestarikan batik, banyak hal lain yang dapat dilakukan, di antaranya pemeran (baik lokal, nasional, apalagi internasional), organisasi-organisasi (misalnya organisasi para pecinta batik tradisional), museum, sekolah atau tempat kurus, pelatihan-pelatihan (misalnya dari pihak keraton), dan sebagainya. Semua itu tentu saja harus dilakukan secara konsisten oleh berbagai pihak, mulai, wartawan, pemerintah, pengusaha, perancang busana, EO (event organizer), dan tentu saja para pembatik itu sendiri dan generasi mudanya.

Minat warga negara asing, terutama dari Amerika Serikat, Australia, Perancis, Inggris, Jepang, Korea Selatan dan Afrika Selatan merupakan nilai postif terhadap promosi batik ke luar negeri (antara.co.id). Mereka itu, dapat saja diajak bekerjasama dalam menyelenggarakan event-event pengenalan batik di negara asalnya.

Ke depannya, diharapkan dunia akan benar-benar mengakui kebaradaan batik, khususnya batik tradisional sebagai budaya luhur bangsa Indonesia. Langkah positif mengenai hal ini sebenarnya sudah akan dilakukan oleh Unesco, yaitu badan PBB yang menangani masalah pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Badan ini dijadwalkan akan memberikan pengakuan secara sah terhadap batik Pekalongan pada bulan Oktober 2009 nanti (www.antara.co.id). Mudah-mudahan ini adalah indikator pengakuan dunia terhadap batik-batik lainnya di tanah air.***

Pemenang III Lomba Menulis Artikel tentang Batik yang Diselenggarakan oleh Paguyuban Pecinta Batik Indonesia "Sekar Jagad" 2009.



4/28/2012