Negeri Miskin

Selasa, 08 Mei 2012

Siska Yuniati

Kemiskinan ini telah memenuhi setiap aliran darahku

Lelaki pemulung, terseok dari jalan ke jalan
Mendorong gerobak dua kali satu meter

rumahku beratap langit berselimut terik dan bintang
kutinggali bersama dua kanakku
sulung enam tahun, bungsu tiga tahu berbilang

pagi kelabu bertambah pilu
si bungsu terbujur kaku dalam gerobak rumahku
bersama kardus dan botol mineral hasil kerjaku

tiga hari yang lalu ia muntaber
sudah kubawa ke puskesmas untuk bertemu dokter
ke rumah sakit disarankan, dan aku terpekur

apalagi kalau bukan masalah rupiah
sepuluh ribu kudapat sehari, membuatku harus mawas diri
dengan jengah kubopong anakku pulang
kusenandungkan kidung-kidung sumbang
berharap sedikit riang berkenan datang

kini Tuhan ambil kembali milikNya
kiranya diriku tak cukup untuk diamanahi
tubuh kurus itu biru, matanya terpejam rapat
tak mau membuka lagi
air mata menitik, kupeluk anakku yang lain
bersamanya kubawa si kecil berkeliling
mencari alamat kawanku
dan orang-orang tetap bergerak memburu waktu
mengejar ambisi dan kebutuhan hidup
mereka tidak pernah mengerti, betapa kemiskinan telah menjalar-jalar secara liar
memenuhi rongga otakku
aku tidak tahu di mana akan kukubur, agar tenang dalam istirah panjang

pada kawanku aku mengemis
kalau ada kain kafan, dan sepetak tanah untuk anakku

pada kawanku aku menangis
jangan kau buat aku yakin bahwa negeri ini miskin nurani

Imogiri, Februari 2012

Dibacakan dalam acara "Sastra Bulan Purnama" Edisi Ke-8 (Tembi Rumah Budaya, 7 Mei 2012).



5/08/2012