Minta Tolong

Sabtu, 04 Juni 2011

Siska Yuniati

Minta tolong,salah satu kata ajaib yang saat ini sudah masuk dalam pembiasaan pada pendidikan usia dini. Kata ini digunakan sebelum kalimat perintah. Penggunaan “minta tolong” membuat kalimat perintah lebih halus dan sopan. Anak-anak saya sering mengucapkan kata-kata tersebut saat menginginkan sesuatu, semisal minta diambilkan barang atau mainan di tempat yang sulit terjangkau. Mereka juga tidak segan-segan mengingatkan jika kami, orang tua lupa mengucapkan kata tersebut untuk memerintahkan sesuatu.

Minta tolong, dalam KBBI diartikan minta bantuan. Membantu berarti memberi sokongan (tenaga dsb) supaya kuat (kukuh, berhasil baik, dsb). Dari pengertian tersebut, dapat kita tangkap makna bahwa orang yang meminta pertolongan adalah orang yang dalam keadaan lemah, mengalami keterbatasan. Pertolongan yang diberikan diharapkan dapat membuat kukuh kembali.

Dalam keseharian, orang tua sering mengucapkan kalimat perintah kepada anak. Kalimat perintah yang diberikan tentu saja dengan embel-embel “minta tolong”. Sepertinya hal tersebut wajar dan sudah benar. Akan tetapi, kalau merujuk arti kata “minta tolong” tersebut maka kita perlu hati-hati.

Pertama, apakah kita benar-benar dalam keadaan lemah, dan terpaksa minta bantuan pada anak? Seringkali tanpa sadar kita hanya asal minta tolong (saya pun kadang demikian). Sebagai contoh, minta tolong diambilkan handphone saat kita sedang rebahan melepas penat. Atau minta tolong diambilkan segelas teh ketika kita sedang asyik baca koran di teras.

Kedua, bagaimanapun juga kita sedapat mungkin memberi pengertian makna yang tepat pada anak. Saat kita minta tolong, artinya kita memang benar-benar membutuhkan bantuan. Minta tolong bukan berarti kita menyuruh karena malas melakukan pekerjaan tersebut.

Ketiga, anak-anak sangat cerdas, mereka adalah peniru yang ulung. Besar kemungkinan mereka akan merekam kata-kata dan tingkah laku yang kita kerjakan.

Nah, dengan demikian sudahkah kita siap untuk minta tolong?



6/04/2011