Lerok, Sepenggal Kisah tentang “Kampung Malaysia”

Sabtu, 01 Maret 2014

Sabjan Badio

Cerita ini tentang seorang anak manusia bernama Ulid. Terlahir sebagai anak seorang guru dan ditakdirkan sebagai bocah yang sangat mencintai kampung halamannya, membuat kehidupan Ulid kecil penuh warna. Ramainya panen bengkuang, rasa bengkuang yang manis, dan keheranannya pada orang kota yang memakan bengkuang yang dicuci dengan air sungai yang sekaligus menjadi kakus orang Lerok adalah di antara warna kehidupannya itu. Membakar gamping, kegagahan bapaknya, umpatan-umpatan khas pembakar gamping, dan pengalaman membakar itu sendiri adalah warna lain dari masa kecilnya.

Benar-benar penuh warna. Saking berwarnanya, kita tidak bisa membayangkan kehidupan Ulid kecil tenang sentosa seperti anak guru masa kini. Tarmidi, ayahnya, hanyalah seorang guru sekolah swasta di kampung kecil dan miskin, yang tentu saja digaji dengan seikhlasnya (apa yang diikhlaskan). Oleh karena itu, kehidupan mereka tidak baik-baik saja walaupun bapaknya juga membakar gamping dan menanam bengkuang—di mata Ulid kata baik-baik saja berarti beres, tidak baik-baik saja berarti ada yang tidak beres.

Suasana tidak baik-baik saja pun benar-benar dialaminya. Setelah sebelumnya dia mogok sekolah SD dan bertekad pindah ke sekolah swasta karena malu dipasang-pasangkan dengan gadis mungil bernama Iyah, harus mengembala kambing yang tidak disukainya, dan berbagai peristiwa lain, akhirnya ditemuinya bapaknya bersiap berangkat ke Malaysia. Sebagai seseorang yang tidak suka Malaysia tentu saja hal ini membuat Ulid murka. Namun, tidak bisa ditampik, walaupun dipenuhi warna yang tidak kalah pekatnya, peristiwa inilah yang berkontribusi besar atas keberhasilannya melanjutkan SMA. Kemurkaannya semakin bertambah ketika mendapati bapaknya tertangkap polisi Malaysia dan kemudian dideportasi. Bukan kepulangan bapaknya yang menjadi puncak kemurkaan Ulid, melainkan akibat kepulangan bapaknya itu, ibunyalah yang berangkat ke Malaysia.

Pengalaman-pengalaman buruknya membuat Ulid yang semula membenci Malaysia, justru berbalik arah. Dia berangkat meninggalkan segalanya, meninggalkan bapaknya, adik-adiknya, hutan Lerok, bukit-bukit, kenangan masa kecil, dan terlebih lagi meninggalkan Iyah, si gadis yang sempat menjadi momok dalam kehidupannya.

Sebagai bagian tidak kalah penting dari cerita, ternyata sebagian besar kehidupan Ulid tak terlepas dari tokoh sentral bernama Siti Juwairiyah, gadis kecil yang sangat dihindarinya karena “pengalaman buruk” dipasang-pasangkan sewaktu TK. Tanpa disadari, berbagai perjalanan hidup Ulid selanjutnya, terutama dalam hal memilih sekolah, ternyata tak jauh dari usaha menghindari Juwairiyah, yang kemudian disadari justru dicintainya. Akan tetapi sayang, cinta tak berakhir bahagia bagi Ulid, kekasih hatinya drenggut begitu saja.

Itu adalah sebagian dari cerita yang disampaikan Mahfud Ikhwan dalam Ulid Tak Ingin ke Malaysia. Pada novel ini, detail kehidupan petani bengkuang di Lerok begitu ditonjolkan, detail pembakar gamping—yang sebenarnya tidak lain petani bengkuang juga, tak kalah rincinya. Detail bagaimana bengkuang ditinggalkan, gamping dilupakan, dan Malaysia dijadikan tujuan, pun diceritakan dengan begitu berwarna. Tak luput pula dikisahkan bagaimana perubahan kehidupan warga Lerok setelah banyak warganya ke Malaysia, keadaan masjidnya yang mulai ditinggalkan, keadaan dan berbagai kisah sendu lain seiring dengan semakin banyaknya televisi, hadirnya listrik PLN, sampai kehadiran film jorok yang tak sengajak ditonton Ulid karena dijebak Yamin, temannya.

Lerok benar-benar berubah setelah itu. Malaysia adalah kiblat, sepatu, mainan, pakaian, Ringgit, semuanya berbau Malaysia. Bahkan, didapati kemudian, Ulid, bapak, emaknya, bahkan Siti Juwairiyah--walau pun tak bertemu Ulid—ternyata ada di Malaysia.

Cerita yang bagus tentunya di tengah arus penerbitan novel populer yang begitu gencar. Cerita bagus yang sekaligus memilukan, karena diyakini tidak semua anak remaja bahkan mungkin suka pada cerita model ini. Bukan oleh ceritanya yang tidak bagus, akan tetapi karena arus pernerbitan dan promosi novel yang lebih populer yang tentu saja lebih deras dan dimungkinkan menjauhkan novel-novel serius seperti ini dari pusat perhatian. Tentu saja peran orang tua dan guru menjadi titik sentral dalam mendekatkan diri anak-anak dan remaja pada novel-novel pembangun jiwa, penuh nuansa sejarah, dan petualangan alami ala anak kecil seperti dalam novel setebal 400 halaman ini.

Sedikit kritik tentu saja disampaikan kepada penerbit, ukuran bukunya terlihat tidak umum untuk sebuah novel, terlalu “jumbo”. Selain itu, kertasnya yang putih dan tebal membuat buku ini terlalu berat dan mungkin ini pulalah yang membuat jilidannya muda lepas—karena lemnya tidak kuat menahan kertas yang tebal dan sedikit kaku tentunya. Terakhir, tentu saja, soal penyuntingan bahasa, masih mengalami beberapa kesalahan, terutama dalam penulisan kata. Walaupun begitu, sedikit kekurangan ini tidaklah terlalu berpengaruh terhadap kelayakan bahkan kewajib-bacaan atas novel ini.

Oleh karena itu, bagi anak kampung, kalian wajib membaca, karena ini cerita tentang kalian. Bagi anak kota, lebih wajib lagi, ini kisah tentang "air kakus" orang kampung yang kalian makan (atau minum?) bersama bengkuang. Bagi remaja, ini adalah kisah cinta penuh pesona, panduan untuk kalian. Bagi orang dewasa, ini adalah kisah perjuangan hidup, tentang pahitnya, tentang getirnya, tentang penerimaan, dan pada akhirnya tentang kelegaan. Bagi kaum agamis, ini adalah cerita tentang Kampung Lerok nan agamis, tak pantas untuk dilewatkan begitu saja. Bahkan, bagi menteri pendidikan, ini adalah cerita tentang UUD 1945 Pasal 28C. Selamat membaca!

Judul: Ulid Tak Ingin ke Malayasia
Pengarang: Mahfud Ikhwan
Penyunting: Fenita Agustina
Penerbit: Jogja Bangkit
Tahun terbit: 2009
Tebal: 400 Halaman
ISBN: 978-602-95394-2-4

Tulisan ini perama kali dipublikasikan pada blog http://kabarbaasa.blogspot.com, blog pemenang III Lomba Blog Kebahasaan dan Kesastraan Badan Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional RI tahun 2011.



3/01/2014