Kepada Perempuan yang Kusebut 'Mak

Minggu, 06 Desember 2015

Muhammad Rois Rinaldi

'Mak… lelaki memang harus bertarung habis-habisan.

Aku tidak boleh gemetar, tidak pernah gentar!
Karena lelaki bersuara gagap dengan tubuh terbungkuk
adalah mangsa bagi setiap hewan di hutan manusia ini.
Karena setiap kepala menyimpan pikiran buruk dan
jiwa-jiwa dipenuhi perasaan menyimpang:
saling cakar tanpa alasan, berebut bunga
meski tidak paham apa keindahan apa keharuman,
dan duduk menduduki mertabat demi kekuasaan semu.
Suara yang mereka agungkan tidak lebih dari kekosongan
untuk menciptakan pertikaian tanpa penyelesaian
atau sekadar mengubah kesepian menjadi bising
bagi hutan yang sepi dari kebaikan.

Lelaki harus bertarung habis-habisan, 'Mak….

Tidak boleh tersungkur meski diseret-seret oleh persoalan
yang datang dari ketidakwarasan. Kadang-kadang
kubiarkan tubuhku terhuyung-huyung di jalan
dan berdarah menerima tikaman dari arah tidak terduga.
Kadang aku melawan, membalas kesewenang-wenangan.
Yang paling sering di antara segala sikap dan ucapku:
aku duduk satu meja dengan para pengkhianat.
Berbicara tentang inti kebaikan dan kejujuran, lalu
berakhir dengan gelak tawa—lantaran kami sama
banyak menyembunyikan—sampai perut kami mengeras,
terlalu kenyang oleh kebohongan.

Dalam kehidupan yang kadung lacur ini,
aku harus pandai berkata-kata, harus banyak bicara!
Karena bisu berarti menyerah kepada
desas-desus dari omongan ke omongan tanpa kejujuran.
Tetapi kadang-kadang aku diam juga,
jika aku seperti tersesat di antara sekumpulan monyet
atau ketika aku merasa berada di kandang domba,
di mana biji-biji tai terselip di bulu-bulu tebal
dan suara-suara bau mengembik.

Dan apalah pula arti dari kesedihan-kesedihan juga
rasa sakit ditinggalkan kawan, kehilangan kecupan
pelukan kekasih, serta kehangatan yang musnah dari
segenap tubuh jiwaku tidak lagi penting.
Karena menerima atau melepas tidak ada beda,
dicintai atau dibenci sama saja. Apa lagi
kehidupan memang selalu melahirkan pengkhianat.
Aku tidak mau buang waktu untuk meratapi, sekalipun
demi pikiran-pikiranku tentang kesetiaan.
Bukan sebab aku angkuh, Mak… tapi sebab aku lelaki
dan lelaki harus membenci kecengengan!

Hei, Mak…
Di hutan manusia ini saja aku sedikit ganas sedikit buas,
sedang di dekatmu aku tetap lelaki kecil yang manis
yang selalu engkau baringkan ketika malam gelap
dengan dongengan ajaib yang menjadi begitu nyata
dalam kehidupanku hari ini. Janganlah khawatir, 'Mak…
aku tidak akan habis dalam pertarungan karena
dari rahimmu diberangkatkan napas seorang petarung
dan kepada rahimmu, seorang petarung akan kembali.

     Ah! Mak, dunia memang tipu daya!

Kualalumpur, 2014
Muhammad Rois Rinaldi adalah penyair muda peraih Penghargaan Internasional "Anugerah Utama Penyair Alam Siber 2014" (eSastera, Desember, Kuala Lumpur, 2014), Penghargaan Internasional "Penerima Piala Sastra Bergilir Nik Zafri" (Desember, Kuala Lumpur, 2014), Penghargaan Internasional "Anugerah Cerpen Alam Siber" (eSastera, Desember, Kuala Lumpur, 2014), Penghargaan Internasional "Anugerah Utama Puisi Dunia" (Nusantara Melayu Raya, Malaysia, Maret 2014), Anugerah Penyair dan Tokoh eSastera Indonesia (eSastra, Bali, 2013), dan Penghargaan Internasional "Anugerah Cerpen Alam Siber" (eSastera,Bali 2013).



12/06/2015