Featured Post

Apa bahasa Indonesia dan arti new normal?

Hrdailyadvisor.blr.com Abasrin.com-- Akhir-akhir ini kita sering mendengar atau membaca istilah new normal . Kata ini tidak terlepas dar...

Apa bahasa Indonesia dan arti new normal?

5/25/2020
Hrdailyadvisor.blr.com
Abasrin.com--Akhir-akhir ini kita sering mendengar atau membaca istilah new normal. Kata ini tidak terlepas dari program pemerintah terkait "berdamai dengan Covid-19".

Apakah yang dimaksud new normal? Istilah ini mulai dimunculkan setelah krisis keuangan 2007-2008 dan resesi global 2008-2012. Saat pandemi Covid-19 ini, istilah new normal kembali bergaung secara luas.

New normal mengacu kepada 'keadaan normal baru', yang belum ada sebelumnya. Saat ini, new normal bermakna kepada keharusan masyarakat beradaptasi dengan keadaan saat ini, seperti memakai masker saat kelur rumah, cuci tangan, hingga menjaga jarak fiksik dengan orang lain, terutama di daerah ramai agar bisa beraktivitas.

Istilah new normal berasal dari bahasa Inggris. Dalam bahasa Indonesia, new normal disebut 'kenormalan baru' (*)

Suyanto.Id, wadah menulis bagi akademisi

4/25/2020
Tampilan situs atau website Suyanto.Id
ABASRIN.com--Beberapa hari ini jagat internet diramaikan kemunculan situs baru, Suyanto.Id. Situs yang dikembangkan oleh Prof. Suyanto, Ph.D., guru besar FE Universitas Negeri Yogyakarta ini, saban harinya menyajikan gagasan bernas para akademisi, mulai guru, dosen, hingga guru besar.

Hari ini saja (25/4) ada dua tulisan yang muncul, tulisan pertama berupa jurnal yang ditulis Sucihatiningsih Dian Wisika Prajanti, guru besar Universitas Negeri Semarang bersama dua rekannya yang juga akademisi. Selain itu, ada buku saku yang ditulis Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed., seorang dosen, Sekretaris Muhammadiyah, sekaligus Ketua BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) saat ini.

Selain tema-tema serius, ada juga tulisan bernuansa santai, seperti puisi, cerpen, hingga tips kehidupan sehari-hari. Tulisan santai ini ditulis oleh mahasiswa hingga akademisi, ada pengawas sekolah dan dekan. Prof. Suyanto, Ph.D. juga menulis di kolom ini.

Pengelola situs ini yang dipimpin langsung oleh Prof. Suyanto, Ph.D. memang mengundang masyarakat luas untuk ikut menyampaikan gagasannya di Suyanto.id. Para akademisi yang citra kesehariannya lekat dengan bahasa ilmiah dan serius ternyata di situs ini bisa tampil santai, bahkan beberapa tulisan terkesan jenaka.

Totok E. Suharto, misalnya, menuliskan pentingnya cuci tangan menggunakan sabun dalam menanggulangi covid-19. Uniknya, doktor lulusan Jerman yang mengajar di Universitas Bengkulu ini menyajikan dalam bahasa sederhana dan bernada guruan, lihat saja judulnya "Cinta-Benci yang Bikin Ambyar Corona".

Bagaimana dengan Anda? Apakah sudah pernah membaca tulisan di situs ini? Jangan sampai ketinggalan, bahkan Anda juga perlu menulis di sini. Caranya mudah, cukup dengan mengirimkan tulisan ke redaksi@suyanto.id, tentu saja dengan tambahan gambar diri atau ilustrasi yang mendukung. (*)

Bagaimana cara sinkronisasi Dapodikdasmen 2020.b Semester 2? Ini tutorial atau petunjuknya!

2/17/2020
Bingung bagaimana cara sinkronisasi Dapodikdasmen Edisi 2020.b? Awalnya saya juga demikian, pasalnya, menu sinkronisasi tiba-tiba menghilang setelah Dapodik diupdate.

Usut punya usut, ternyata menu itu pindah ke akun kepala sekolah. Jadi, solusinya, Anda tinggal logout, lalu login lagi dengan akun kepala sekolah. Tidak punya akunnya, tinggal didaftarkan saja. :)

Jika Anda tidak mau logout, Anda juga bisa masuk ke akun kepala sekolah melalui menu tukar pengguna, berikut tutorialnya.

1. Buka aplikasi Dapodikdasmen Edisi 2020.b
2. Klik menU PENGATURAN
3. Klik TUKAR AKSES PENGGUNA


3. Masukkan KODE REGISTRASI















4. Jika tidak menemukan kode registrasi, Anda bisa mendapatkannya dengan cara: buka folder Dapodikdas > buka folder Dapodikdas > buka folder webserver > buka folder logs > buka file access, kemudian cari tulisan kode_registrasi















5. Pilih akun/nama kepala sekolah, lalu klik TUKAR PENGGUNA















6. Jika berhasil, menu sinkronisasi sudah muncul, proses sudah bisa dilakukan

Demikian, selamat mencoba. :) 

Resepsi sastra siswa madrasah tsanawiyah Kabupaten Bantul terhadap cerpen remaja pada surat kabar Kedaulatan Rakyat

1/23/2020
Adabiyyat Vol 3, No 1 (2019)

Oleh Siska Yuniati

Literary reception encompasses reader’s role in making meaning from literary texts. Student’s reception of teenage short story can give an idea of student’s acceptance of this type of text. This is interesting because students as teenagers are rarely involved in responding to teenage short stories, particularly ones available in newspapers. This research aims to examine the reception of teen short stories in the Kedaulatan Rakyat Newspaper by students of Madrasah Tsanawiyah in Bantul Regency in terms of intellectual and emotional aspects. Respondents in this study are 128 students of MTsN 1 Bantul, MTsN 3 Bantul, MTsN 4 Bantul, MTs Al Falah, and MTs Hasyim Asy'ari. The data were collected using a reception questionnaire focusing on intellectual and emotional aspects. The results of the study are as follows. First, in terms of intellectual aspect, the students’ reception of teen short stories in Kedaulatan Rakyat is high (70.82%), moderate (15.62%), and low (13.58%). Second, in terms of emotional aspect, the students’ reception of teen short stories in this newspaper is high (38.86%), moderate (20.28%), and low (40.86%). Based on the results of this study, it can be concluded that students of class IX of Madrasah Tsanawiyah, Bantul Regency can understand well the elements of story builders and the structure of short story, language, themes, and conflicts in the short story. Students also understand the logic of the story in the text and feel the tension of the conflict. The new values in the short stories and actions of the main characters are quite acceptable to students. Students are also interested enough to discuss the short stories further. Meanwhile, most students felt less emotional impact and do not feel the tension presented in the short story.

Keywords: teen short story, Kedaulatan Rakyat, student reception

Resepsi sastra merupakan respons atau tanggapan oleh pembaca dalam bentuk pemberian makna. Resepsi siswa terhadap cerpen remaja dapat memberikan gambaran keberterimaan siswa akan cerpen remaja yang dibacanya. Hal ini menarik karena siswa sebagai remaja jarang dilibatkan dalam memberikan respons terhadap cerpen remaja pada surat kabar. Penelitian ini untuk menjawab pertanyaan penelitian, bagaimana resepsi siswa MTs di Kabupaten Bantul terhadap cerpen remaja pada surat kabar Kedaulatan Rakyat berdasarkan aspek intelektual dan emosional. Responden dalam penelitian ini sebanyak 128 siswa yang berasal dari MTsN 1 Bantul, MTsN 3 Bantul, MTsN 4 Bantul, MTs Al Falah, dan MTs Hasyim Asy’ari. Instrumen pengumpulan data terdiri atas kuesioner resepsi berdasarkan aspek intelektual dan emosional. Hasil penelitian adalah sebagai berikut. Pertama, berdasarkan aspek intelektual, resepsi siswa Madrasah Tsanawiyah terhadap cerpen remaja pada surat kabar Kedaulatan Rakyat berkategori tinggi (70.82%), sedang (15.62%), dan rendah (13.58%). Kedua, berdasarkan aspek emosional, resepsi siswa madrasah tsanawiyah terhadap cerpen remaja pada surat kabar Kedaulatan Rakyat berkategori tinggi (38.86%), sedang (20.28%), dan rendah (40.86%). Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa siswa kelas IX Madrasah Tsanawiyah Kabupaten Bantul dapat memahami dengan baik unsur-unsur pembangun cerita serta struktur teks cerpen, bahasa, tema, serta konflik dalam cerpen. Siswa juga menerima logika cerita dalam cerpen dengan baik serta merasakan ketegangan dari konflik yang dibangun. Sementara itu, nilai-nilai baru dalam cerpen dan tindakan tokoh utama cukup diterima siswa. Siswa juga cukup berminat untuk membicarakan cerpen lebih lanjut. Akan tetapi, siswa kurang merasakan dampak emosi dalam cerpen.

Kata kunci: cerpen remaja, Kedaulatan Rakyat, resepsi sastra siswa

Budaya Literasi, Menuju Indonesia Lebih Benderang

12/30/2019
Sumber gambar: forumzakat.org

Oleh Siska Yuniati
Guru MTs Negeri 3 Bantul, Tim Pengelola Hasil Studi PISA 2018, dan Ketua Umum Perkumpulan Guru Madrasah Penulis (Pergumapi)


MEMBICARAKAN literasi di Indonesia, terlebih literasi di kalangan pelajar, dalam benak seakan tergambar bagaimana terseoknya kita mengejar peringkat survei literasi internasional. Survei yang kita aktif mengambil peran sebagai peserta tersebut di antaranya Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS), Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS), dan Programme for International Student Assessment (PISA). Hasil survei internasional tersebut acap kali menorehkan kesan mengenaskan daripada memuaskan. Taruhlah pada PISA 2015, posisi kita berada pada peringkat 64 dari 72 negera yang disurvei.

PISA merupakan survei tingkat literasi dunia untuk pelajar berusia 15 tahun. Survei ini dilaksanakan setiap tiga tahun. Pada 2018, survei meliputi literasi sains, matematika, ilmu sosial, membaca, serta literasi digital. Literasi digital menjadi bagian dari materi survei tersebut dikarenakan survei dilakukan berbasis komputer atau istilah trennya computer based test (CBT).

Dimunculkannya literasi digital pada materi PISA membuka pikiran kita bahwa literasi tidak sekadar membaca. Literasi menurut Koichiro Matsuura, Direktur Umum UNESCO, lebih menekankan pada kemampuan membangun kehidupan yang lebih baik. Harapannya dengan budaya literasi tinggi, sebuah bangsa akan mampu bersaing dengan bangsa lain dan menjadi bangsa unggul.

Budaya Literasi Kita

Betulkah budaya literasi kita rendah? Jika berdasarkan hasil survei literasi, barangkali jawabannya “betul”. Akan tetapi, jika merunut ke belakang atau mengamati kehidupan sekitar, bisa jadi kita sudah lama memiliki budaya literasi.

Menengok sejarah Majapahit, kita diingatkan dengan kitab Negarakertagama. Kitab yang ditulis Dang Acarya Nadendra atau Mpu Prapanca ini berangka tahun 1365 Masehi. Dalam kitab Negarakertagama dilukiskan bagaimana kehidupan masyarakat era pemerintahan Hayam Wuruk. Mpu Prapanca merupakan mantan pejabat sekaligus putra pembesar kerajaan Majapahit. Kitab tersebut ditulis sebagai rasa bakti dan cintanya kepada raja. Apa yang tertuang dalam Negerakertagama menjadi catatan penting kehidupan di masa lalu. Hal tersebut mengindikasikan bahwa saat itu bangsa kita telah berliterasi.

Dalam kehidupan pesantren, budaya literasi juga telah menjadi bagian para santri. Metode belajar bandogan telah menjadi ciri khas manakala santri belajar kitab kuning. Dalam metode bandongan, santri menyimak penjelasan kyai. Kyai membaca, menerjemahkan, juga menerangkan bahasan dalam sebuah kitab. Santri menyimak serta membuat catatan.

Pada metode sorogan, para santri menyodorkan materi yang akan dipelajari kepada guru untuk mendapatkan bimbingan. Dengan metode ini, santri wajib menguasai cara membaca kitab kuning serta mengerti terjemahannya. Konon, metode sorogan telah dilakukan ketika pembelajaran Alquran masih dilakukan di langgar-langgar (Muftysani, 2016).

Bukti lainnya adalalah adanya peninggalan sejarah yang tersebar di seluruh Indonesia. Adanya Candi Prambanan dan Borobudur nan megah, kapal pinisi karya masyarakat Bugis, berbagai macam prasasti, merupakan jejak bahwa kita adalah bangsa yang literat. Peninggalan tersebut tidak akan tercipta manakala tidak dilandasi dengan pengetahuan dan tradisi baca-tulis yang memadai.

Literasi Bikin Melek

Jika literasi telah menjadi budaya bangsa Indonesia, mengapa dalam survei-survei internasional kita masih berada pada peringkat bawah? Tentu ada sesuatu yang kurang pas di sini. Bisa jadi karena budaya literasi belum berkembang secara menyeluruh. Literasi baru menyentuh untuk kalangan tertentu. Pada masa kerajaan-kesultanan, literasi berkembang pada kehidupan bangsawan, kemudian di kalangan santri. Literasi belumlah menyentuh masyarakat pada umumnya.

Hal lain yang perlu disadari bahwa kita belum terbiasa dengan berpikir tingat tinggi (HOTS). Pengalaman penulis saat ikut serta menjadi pengelola hasil studi PISA tahun 2018, soal yang disajikan adalah soal yang pada Taksonomi Bloom berada pada level C4 (menganalisis), C5 (mengevaluasi), serta C6 (mencipta).

Pada soal-soal PISA, soal pilihan ganda akan menuntun siswa melakukan beberapa langkah sebelum bisa menjawab pertanyaan. Untuk soal esai, jawaban siswa tidak dihakimi sebagai jawaban salah atau benar, akan tetapi lebih pada bagaimana siswa bersikap kritis dan kreatif berdasarkan penalaran. Semua itu membutuhkan latihan dan pembiasaan dalam kehidupan siswa.

Masalah lainnya adalah belum tumbuhnya kerangka berpikir bahwa membaca adalah sebuah kebutuhan. Literasi seringkali dimaknai sebatas kegiatan baca-tulis semata. Padahal, lebih dari itu, kegiatan membaca semestinya dilandasi karena kita perlu pengetahuan tertentu untuk berkreasi. Oleh karena itu, ketika disodori soal-soal yang bersifat aplikatif, siswa menjadi bingung.

Pemerintah sudah berusaha mengambil langkah strategis untuk mengatasi permasalahan ini. Pada 2015, dicanangkan Gerakan Literasi Nasional (GLN). Gerakan ini meliputi tiga turunan, yaitu gerakan literasi keluarga, gerakan literasi sekolah, dan gerakan literasi masyarakat. Dalam gerakan tersebut, masing-masing individu dapat turut andil dan mendukung suksesnya program. Lalu, sebagai sebagai masyarakat, apa yang dapat kita lakukan?

Pertama, mendorong anak maupun masyarakat agar mempunyai kebutuhan membaca. Merunut artinya, litasi berasal dari kata literacy. Kata ini bermakna kemampuan membaca dan menulis serta kompetensi di bidang tertentu.  Dengan demikian, literasi lebih mengarah pada peningkatan keterampilan. Dalam masyarakat, keterampilan sangat dibutuhkan untuk dapat bertahan hidup.

Kedua, menjadi contoh dalam berliterasi. Contoh besar akhir-akhir ini, kita jumpai betapa mudahnya seseorang memberikan tanggapan atau menyebarluaskan berita maupun artikel di media sosial. Alih-alih memberikan manfaat, apa yang kita sebarkan justru menyesatkan lantaran rentan “hoax”. Hal ini merupakan contoh dalam literasi digital, bahwa sikap kritis serta konfirmatif sangatlah penting.

Ketiga, menumbuhkan literasi sejak dini. Pola asuh serta pembiasaan di sekolah/madrasah akan membentuk karakter anak. Jika sejak kecil telah dibiasakan dekat dengan buku, maka kelak anak akan menghargai kehadiran sebuah buku. Demikian pula jika anak dibiasakan berkreasi, ia pun akan menjadi anak yang kreatif.

Sebagai penutup, tak ada salahnya mengingat tulisan Han Hee Seok dalam Parent with No Property. Dalam buku tersebut diceritakan bahwa Han Hee Seok merupakan ayah yang miskin. Ketakutan menderanya menakala rapor anak sulungnya “sangat biasa”. Ia takut sang anak seperti dirinya, menjadi orang miskin. Salah satu usaha yang dilakukan adalah menyediakan artikel dari koran setiap hari. Meski mula-mula si anak enggan membacanya, lama-lama menjadi tertarik juga. Tujuan sang ayah adalah agar anaknya terbiasa berpikir runtut dan kritis melalui artikel yang dibaca. Pada masanya, si anak tumbuh cerdas dan terbiasa menulis paper. Hal itu pulalah yang mengantarkan si anak meraih beasiswa ke Amerika. Sang ayah begitu terharu, ternyata usaha kecilnya berbuah manis. Ini menjadi bukti betapa literasi membuat melek, menjadikan dunia lebih benderang. (*)

Tulisan ini terbit pertama kali di Majalah Banyumanik Vol. 17 Nomor 1 Agustus 2019 halaman 82-84, versi PDF bisa diunduh melalui tautan ini.

Sinopsis novel Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer

12/18/2019
Kover Arus Balik, Goodreads

Oleh Sabjan Badio, blogger Indonesia

Judul: Arus Balik
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Hasta Mitra, 2002

IDAYU dan Galeng adalah pemuda desa yang berasal dari keturunan rakyat biasa. Di desanya, mereka sering mendengarkan ceramah Rama Cluring (seorang guru pembicara yang kerjanya berpetualang dan berbicara di setiap tempat yang disinggahinya). Isi ceramah Rama Cluring yang selalu hidup di pikiran mereka adalah tentang melawan kemerosotan dan tentang persatuan Nusantara. Inilah yang kemudian jadi dasar bagi Galeng dalam menjalankan tugas negara.

Materi tentang kemerosotan yang sering disinggung Rama Cluring adalah kemerosotan kaum ningrat dan kemerosotan rakyat. Saat membicarakan kedua hal tersebut, tidak jarang sampai mengkritik adipati, hal yang setengah mustahil dilakukan waktu itu. Karena kritikannya itu, Rama Cluring diracun oleh kepala desa. Sebelum meninggal, Galeng dan Idayu-lah yang mengurusnya.

Ketika kembali diadakan berbagai kejuaraan di Tuban, kepala desa berniat mengirimkan Galeng dan Idayu yang sudah mendapatkan juara dua kali berturut-turut. Semula mereka menolak, karena ancaman kepala desa atas perbuatan mereka yang menolong Rama Cluring, akhirnya mereka bersedia ikut. Mereka menjadi juara untuk ketigakalinya, Idayu menjadi juara tari dan Galeng menjadi juara gulat.

Sebagai juara tiga kali berturut-turut, Idayu terkena aturan khusus, yaitu harus menjadi selir adipati. Mengetahui hal itu, Idayu dan Galeng sangat sedih. Sebagai juara, Idayu diperbolehkan mengajukan permintaan kepada adipati. Permintaan yang diajukannya adalah agar dirinya dinikahkan dengan Galeng. Adipati Tuban Arya Teja Tumenggung Wilwatikta marah, tangannya memegang keris. Namun, dihentikannya karena kesadaran bahwa seluruh rakyat Tuban mencintai Idayu.

Patih Tuban menunjukkan dukungannya atas Idayu dan Galeng, begitu juga hadirin yang lain. Adipati Tuban akhirnya meluluskan permintaan Idayu, tidak hanya itu, Galeng dan Idayu dinikahkan di kadipaten, menjadi pengantin kerajaan.

Tidak lama berselang, Galeng diangkat menjadi Syahbandar Muda Tuban. Salah satu tugasnya adalah mengawasi Syahbandar Tuban yang dicurigai punya hubungan dengan Portugis. Tidak hanya itu, kemudian Galeng diangkat menjadi Kepala Angkatan Laut Tuban.

Sebagai kepala angkatan laut, tugas pertama yang diembannya adalah bergabung dengan Adipati Unus, melakukan penyerangan terhadap Portugis di Malaka (1512-1513 M). Walaupun ikut berangkat, Galeng tidak ikut bertempur karena Adipati Tuban sengaja memperlambat keberangkatannya, agar namanya tidak hancur di mata Jepara dan kerajaan lain dan juga tetap baik di mata Portugis. Galeng hanya menemukan armada Adipati Unus pulang dalam keadaan hancur. Bahkan, Adipati Unus sendiri menderita luka di sekujur tubuhnya.

Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar bahwa mantan Syahbandar Tuban yang tidak rela dengan penggantiannya, menggalang kekuatan di Desa Rajeg. Tidak hanya itu, aktivitasnya sudah menunjukkan akan melakukan penyerangan terhadap Tuban. Atas berita ini, Patih Tuban berusaha menggerakkan tentara yang cukup besar. Namun, Adipati Tuban tidak pernah berkenaan, dia hanya mengizinkan untuk memberangkatkan lima ratus orang tentara. Karena tindakan adipati ini, ditambah penghinaan yang sering diterimanya, Patih Tuban menjadi patah semangat.

Melihat tidak ada niat pada Patih-Senapati Tuban untuk memberantas pemberontak, Galeng terpaksa membunuhnya dan mengambil alih semua tentara. Kadipaten dikosongkannya, adipati dijauhkan dari kekuasaan agar tidak mengganggu rencananya. Dalam waktu tidak terlalu lama, tentara Rajeg berasil dihancurkan.

Setelah mendapatkan kemenangan yang gemilang, Galeng kembali menyerahkan kekuasaan pada adipati. Namun, Adipati Tuban tidak menerima tindakan Galeng yang dianggapnya lancang. Hanya karena dukungan dari para pemimpin pasukan lain—ditambah pengetahuan adipati bahwa semua rakyatnya mencintai Galeng dan Idayu—dia bisa terbebas dari hukuman mati. Akhirnya tindakan terkeras yang dapat dilakukan adipati hanyalah mengusir Galeng dari Tuban.

Sementara itu, Sultan Demak meninggal dan digantikan putra mahkotanya yang bernama Unus (1518 M). Keadaan Unus yang cidera membuat dia hanya bertahtah selama tiga tahun. Walaupun begitu, dirinya sudah berusaha membangun angkatan laut yang besar, semua pendanaan dikerahkan ke Bandar Jepara, tempat pembuatan kapal-kapal perang yang besar.

Sepeninggal Adipati Unus (1521 M), Trenggono naik tahta dengan cara membunuh Pangeran Seda Lepen yang berpotensi untuk menggantikan Unus. Atas desakan ibunya, Trenggono yang lebih mengutamakan pasukan kuda itu akhirnya bersedia menyerang Malaka. Fatahillah diangkat sebagai pimpinan pasukan lautnya. Sementara itu, pasukan kuda tetap berada di tangannya. Untuk melakukan penyerangan tersebut, Ratu Aisah sudah menjalin kerja sama dengan beberapa kerajaan.

Seperti pada penyerangan pertama (1512-1513), Tuban ikut serta. Oleh karena itu, Galeng dipanggil kembali ke Tuban untuk bergabung dengan Demak menyerang Malaka. Adipati mengutus Patih Tuban yang baru (Kala Cuwil Sang Wirabumi) untuk menjemputnya. Pada penyerbuan kali ini Demak yang dipimpin Fatahillah berkhianat dengan melakukan penyerangan terhadap Jawa dari arah Barat. Sementara itu, pasukan kuda yang dipimpin oleh Trenggono melakukan penyerangan terhadap Jawa bagian timur. Seperti kerjaan-kerjaan lain, Tuban pun tidak lepas dari serangan Demak, hanya dengan usaha keras dan sikap pantang menyerah sajalah mereka berhasil mengusir kembali pasukan Demak.

Galeng merasa usahanya tidak akan berhasil berkenaan sedikitnya jumlah pasukan dan persenjataan. Oleh karena itu, dia tidak marah kepada anak buahnya yang berubah menjadi petani bersenjata dan menikah dengan penduduk setempat. Setelah mengetahui bahwa Portugis melakukan penyerangan dan menguasai Tuban, Galeng beserta beberapa orang prajurit pulang ke Tuban. Dalam pimpinannya pasukan Tuban berhasil mengusir Portugis.

Galeng adalah rakyat biasa dengan pengabdiannya yang luar biasa. Setelah mengabdi untuk adipati, bangsa, dan negaranya, dia kembali menjadi petani di pedalaman Tuban. (*)