Schistocerca gregaria

Sabtu, 01 Maret 2014

Siska Yuniati

Mbak Ul berteriak, minta tolong. Orang-orang berdatangan. Dua lelaki paruh baya langsung menggotong tubuh Ali. Ribut sejenak. Orang-orang menatapku… juga Mbak Ul, kemudian pergi, semuanya.

Aku tahu orang-orang itu pergi dengan kilatan benci. Kalau bukan sepupu Mbak Ul, entahlah, mungkin aku sudah menjadi sasaran kemarahan. Mereka pergi membopong Ali sembari menundukkan kepala dalam-dalam.

***

Gunungkidul, 2022.

Kuamati spesies di tanganku. Tubuhnya tak kurang dari lima centimeter. Ali baru saja memberikannya padaku.

"Enak Mbak… coba deh pasti Mbak Muna kepingin lagi."

Bergidik aku menatap belalang goreng itu. Sambil mengerjapkan mata, perlahan kumasukkan dalam mulut. Ragu-ragu, tapi… gurih!

Ali terkekeh.

"Dari mana kau dapat, Li?”

Bocah itu menunjuk ke bebukitan yang sering membuatku kagum atas keangkuhannya.

Kami menuju ke sana. Benar saja. Di antara ranting-ranting kayu yang kembali bertunas setelah dikeringkan kemarau, kudapati ratusan belalang menempel, berkelompok. Sesekali aku harus melindungi mata dari tabrakan dengan makhluk itu. Ali dengan lincahnya mengibas-ngibaskan tangan, berusaha menangkap beberapa ekor di antaranya.

Aku ingat, kalau tak salah itu adalah Shistocerca gregaria, belalang juta yang sering kudengar ceritanya. Oportunis terbesar dari serangga tersebut tercatat sebagai bencana kedelapan menurut riwayat Nabi Musa. Kawanan belalang juta mungkin telah menyerbu lebih dari 20% permukaan bumi dan secara langsung merugikan lebih dari 10% populasi dunia.

Dalam sejarahnya, belalang juta pernah membuat heboh pada tahun 1926-1934, 1940-1948, 1949-1963, 1967-1969, dan 1986-1989. Spesies itu pernah menyerang wilayah seluas 16-juta-kilometer-persegi, mencakup Gurun Sahara di Afrika Utara, Semenanjung Arab, dan ke baratlaut (India). Jika iklim mendukung, kawanan belalang juta dapat menyerbu ke utara hingga Sepanyol, Russia dan ke timur sehingga ke India dan Asia baratdaya, mengancam tidak kurang 60 negara. Kabarnya, satu kawanan belalang juta mampu menyerang 1,200 kilometer persegi dan setiap kilometer perseginya mencapai 40-80 juta belalang.

"Chk… chk.., atas kuasa Tuhan manusia bisa dikalahkan oleh makhluk-makhluk mungil ini.” Aku memerhatikan lincah Ali dengan aktivitasnya. Tanah berpasir. Namun, justru disenangi oleh belalang juta. Tanah-tanah berpasir ini akan memudahkan belalang menyimpan telur-telurnya.

"Ali…!” Bocah itu menoleh, kemudian memperlihatkan sekantong plastik belalang.

“Subhanallah!” teriakku.

“Banyak sekali, sejak kapan mereka muncul?” kataku sambil membekap jilbab yang menggelembung tertiup angin.

Ali mendekat. Kakinya lusuh, dan nafasnya turun naik tak teratur.

“Bha… ru.., kemarin… Mbak."

Benar saja, jenis belalang ini akan muncul di daerah subtropis awal-awal musim penghujan. Tapi, ini kan daerah tropis?!

Ali menarikku ketika kawanan yang lebih besar terbang rendah menuju ke pohon besar. Tiba-tiba suara dengungan raksasa menggetarkan udara. Aku tersengal berusaha menyusul Ali. Merundukkan badan saat rombongan lain tiba-tiba muncul. Beberapa dari mereka mengaburkan pandangan. Dan batu-batuan menghalangi langkahku. Ratusan… ribuan… jutaan…. Rok sedikit kuangkat, “Awwduuh….” Bruk! Jatuh, menggelinding begitu saja.

***

Aku menggeliat menahan nyeri. Beberapa kali orang keluar masuk pintu kamar. Aneh, pikirku. Hanya keseleo saja orang satu kampung berdatangan. Beberapa kali aku memaksa sudut bibirku untuk tersenyum. Capek meladeni mereka.

“Kok bisa tho Mbak?”

"Hati-hati lho Mbak, di sana memang sering terjadi kecelakaan.”

“Iya, kali aja ada yang nunggu.”

Aku nyengir. Tergelincir hal yang biasa terjadi, kenapa harus dihubung-hubungkan dengan yang lain? Tapi, ini menjadi masalah serius ketika beberapa orang tua meminta Mbak Ul membuat sesajen untuk diletakkan di tempatku jatuh. Aku menggeleng. Mbak Ul, mengerti dengan keinginanku.

"Nanti sajalah Pak, biarkan Muna menenangkan diri.” Aku mengerut.

"Tapi Mbak, kalau tidak segera, mungkin malapetaka ini bisa menular pada yang lain,” seorang bapak serius menatap kakiku.

“Begini Pak, adik saya ini kakinya masih sakit, tak mugkin untuk dibawa jalan, nanti saja kalau sudah mendingan,” sergah Mbak Ul.

"Iya Mbak, tapi… oh, atau biar kami yang membuat persiapannya, nanti Mbak berdua tinggal menjalani yang lain.”

“Menjalani apa Mbak,” tanyaku sesaat setelah lelaki itu pergi.

'Bukan apa-apa, gimana sakitnya? Mbak Ul meraba keningku.

“Badanmu panas Na!”

“Mbak, maksudnya tadi apa?”

Mbak Ul mengalihkan pandangan. Kudengar nafasnya berat terhempas.

"Yah, seperti inilah. Kepercayaan mereka begitu kuat. Mereka takut, ada yang tidak beres dengan sakitmu. Mereka ingin kita membuat sesajen tanda minta maaf, dan kau harus dibawa mengitari pohon besar yang tumbuh di sekitar tempatmu jatuh."

Hmmm. Aku muak mendengarnya. “Mbak Ul?” kataku menyelidik.

Mbak Ul menggeleng.

"Tak akan terjadi Na.”

Masih demikian jahilnya? Selama ini mungkin lingkungan kampus yang “seteril” tidak pernah membuatku berpikir untuk melihat kenyataan seperti ini. Aku sadar, ini sulit. Bahkan seorang sarjana seperti Mbak Ul tidak dapat berbuat banyak.

Aku dan Mbak Ul dikejutkan oleh beberapa orang lelaki yang tiba-tiba muncul di hadapan kami. Seseorang di antaranya membawa sebaskom air.

“Mbak, sebaiknya lukanya dibasuh dengan air ini. Ini kami dapatkan dari Mbah Jenggot, orang pintar di desa sebelah. Semoga, tidak akan terjadi apa-apa,” dengan sangat hati-hati lelaki itu meletakkan baskom di atas meja. Lelaki yang lain mengangguk.

"Benar Mbak, sebelum matahari tenggelam.”

Mbak Ul masih terdiam.

"Atau biar kami saja….” Berkata begitu, seorang lelaki kurus membawa baskom ke arahku.

“J-jangan, Pak,” aku berusaha bangkit. Mbak Ul tergopoh mendekat.

“Tolong Pak, biar… biar kami sendiri saja.”

“Iya Mbak, tapi cepat, matahari mulai hilang, jangan-jangan kasiatnya juga hilang,” agak marah bapak-bapak itu menatap kami.

“Iya-iya….” Mbak Ul terpaku.

"Na… biar Mbak oleskan sedikit ya?” Mbak Ul tampak gugup menyibak pergelangan kakiku yang tertutup selimut.

"Tidak! Jangan Mbak! Tak ingin sedikitpun aku terlibat dengan rangkaian ritual itu.”

Bingung campur takut membias dari wajah Mbak Ul. Sementara, kelima laki-laki itu masih menanti.

"Ayo Na, sedikit saja!”

"Mbak Ul, tidak!” aku kecewa. Kenapa Mbak Ul tidak bisa tegas. Aku tahu kadang mereka dapat berbuat nekat, tapi untuk satu hal ini aku harus bertahan.

"Muna!” Terkejut aku oleh bentakan Mbak Ul. Aku tegang menatapnya.

"JANGAN!” kugerakkan kakiku dengan kasar dan bukan salahku kalau baskom itu tumpah membasahi tempat tidur dan lantai. Dan… muka coklat kelima lelaki itu menghitam.

"Baik Mbak, terserah! Kami hanya ingin membantu. Kami tidak tanggung dengan apa yang akan terjadi. Kalau ada warga kami yang mendapat bencana lagi, berarti akibat dari kalian berdua!” Kemudian, mereka begitu saja meninggalkann kami.

Ruangan 16 meter persegi ini terasa menyempit. Dadaku sesak. Dan kakiku…. Astaghfirullah… belang-belalang itu?! Dan… ruangan semakin menyempit.

***

Mbak Ul menatapku kesal, “Kalau kau turuti sedikit saja yang mereka mau, tentu ini tak perlu terjadi. Kau tahu Na, kejadian seperti ini bukan sekali dua. Warga sering nekat, beringas, kalau keyakinan mereka terusik."

Aku diam. Apa Mbak Ul benar-benar marah? Tiga tahun tinggal di daerah ini apa sudah mengubah pola pikir Mbak Ul?

“Tuhan, kuatkan aku. Aku hanya ingin menyeru apa yang bisa kulakukan. Tapi, kalau sampai menimbulkan kemarahan Mbak Ul, apa mungkin caraku salah?”

Ada air mengambang di kelopak mataku. Seperti Shistocerca gregaria, aku menjadi kecil, apalagi dalam kesendirian ini. Belalang-belalang kecil yang dapat diburu, dipermainkan, menjadi santapan burung, atau mungkin dimakan manusia. Mbak Ul menatapku.

“Na, kau tak apa-apa?” Sunyi.

“Maafkan Mbak Ul.”

Mbak Ul benar. Seharusnya ini memang tidak perlu terjadi. Tentang kebodohan atau kesesatan itu. Tapi aku bisa merasakan ketertekanan Mbak Ul. Aku yakin, bukan maksud Mbak Ul untuk kasar padaku. Mbak Ul terlalu sayang untuk itu.

Coba ada Mas Ridho, paling tidak ada yang mendukungku. Mas Ridho tentu lebih dapat mengatasi kesulitan dengan kerileksannya.

“Mbak… mmm… kapan ya Mas Ridho pulang?” kucoba memecah kebekuan. Senyum Mbak Ul samar-samar terlihat.

“Kenapa, kau ingin pulang ya?”

Mas Ridho, suami Mbak Ul, bersama ayah dan ibu pergi ke Jakarta tiga hari yang lalu. Mereka menghadiri pernikahan seorang saudara. Karena itu pula aku sementara tinggal di rumah Mbak Ul.

“Kangen ya Na?” Aku senyum.

"Nggak Mbak, cuma… mau nggak ya, Mas Ridho memasarkan rempeyek belalang?” Mbak Ul melongo.

"Apa Na?”

“Itu Mbak, belalang… sebenarnya oke juga buat dikonsumsi. Kalau kreatif mengelola bisa dapat duit, lho.”

“Kau ini Na, ada-ada saja.”

"Eh, Mbak… berbagai jenis belalang banyak terdapat di daerah seperti ini. Lagi pula, belalang kan makanannya daun. Dalam daun, konsentrat proteinnya lumayan tinggi, siapa tau belalang bisa memperbaiki gizi.”

“Yee… yang anak biologi. Keluar deh spesiesnya.” Mbak Ul menowel pipiku.

“Tapi Na, mesti hati-hati memilih, belalang mana yang akan dikonsumsi. Kalau yang punggungnya berwarna merah, biasanya mengandung racun. Bisa-bisa tidak dapat untung tapi buntung.”

Aku tersenyum mendengar penjelasan Mbak Ul. Aku tahu betul, yang namanya belalang, semuanya bisa dimakan.

***

Langit memerah, pertanda hari segera bertukar. Kejadian sehari ini cukup membuatku merenung. Terbersit juga perasaan was-was akan apa yang bakal menimpa keluarga Mbak Ul. Memang, orang-orang di kampung ini suka saling tolong, namun urusan kepercayaan yang terusik, aku tidak yakin apakah mereka masih mempunyai keramahan.

Kehadiran belalang-belalang yang hidup mengelompok itu membuatku semakin khawatir. Tidak ada yang bisa menjamin kalau mereka tidak menghubungkan belalang-belalang itu dengan kemarahan Si Penunggu Pohon. Belalang-belalang itu… Schistocerca gregaria… kepalau terasa pening….

“Mbak Ul… Schis….”

“Mbak Muna!” Aku terlonjak. Kepala Ali menyembul dari balik pintu. Bocah tujuh tahun itu menenteng seplastik belalang goreng.

"Masih sakit Mbak?”

"Ndak… udah sembuh kok, cuma butuh istirahat sebentar.”

“Ali bawa apa?” Mbak Ul yang juga baru masuk menarik kantong plastik dari genggaman Ali.

“Bude mau?” Mbak Ul tertawa melirikku. Ali berceloteh macam-macam. Teman kecilku itu memang ceriwis. Lumayan, cukup membuat lupa akan bengkak kakiku.

Tiba-tiba…. Kulihat bintik-bintik merah di tanganya, “Kau kenapa Li? Banyak sekali…!”

Ali membalikkan lengan. Kemudian, wajahnya memucat.

“Mbak.…” Ali memegangi lambungnya. Sesaat tubuhnya oleng. Aku dan Mbak Ul tergagap dengan perubahan yang tiba-tiba itu.

"Ali… Ali… Kau? Astaghfirullah …. walang gambus!

”Kepalaku pusing….” Ali meringis tak tentu. Tubuhnya sempoyongan… ambruk di depan pintu.

***



3/01/2014