Peran Orang Tua terhadap Literasi Anak

Kamis, 02 Juni 2016

Siska Yuniati

Guru MTs Negeri Giriloyo

Baru-baru ini, pemerintah telah mencanangkan Gerakan Literasi Sekolah. Dalam Gerakan Literasi Sekolah tersebut, salah satu program yang diagendakan adalah siswa diwajibkan membaca buku nonpelajaran 15 menit sebelum kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian, diharapkan siswa senang membaca sehingga budaya literasi terwujud.

Akan tetapi, menanamkan budaya literasi kepada siswa, yang notabene anak-anak tidaklah segampang membalik telapak tangan. Dalam hal ini, selain sekolah, juga diperlukan peran masyarakat dan orang tua. Masyarakat berperan menyediakan akses bacaan kepada anak, sementara orang tua membentuk budaya literasi anak dari dalam rumah.

Secara umum, orang tua mengambil peran strategis dalam perkembangan dan pendidikan anak. Bagaimanapun juga, anak akan gampang meniru hal-hal yang berada di sekitar mereka, termasuk kebiasaan orang tua. Orang tua yang senang bertanam, akan membuat anak menyenangi tanaman. Demikian pula orang tua yang suka membaca akan menularkan kebiasaan tersebut kepada anaknya. Ibaratnya buah jatuh tak jauh dari pohon.

Sayangnya, keengganan membaca juga menghinggapi para orang tua. Dengan dalih sibuk, letih usai bekerja atau pun karena kurang mempunyai bahan bacaan. Hal ini secara tidak langsung akan memengaruhi daya baca anak. Padahal seperti kita ketahui banyak manfaat yang kita peroleh dari kegiatan membaca.

Di antara manfaat membaca bagi anak adalah bertambahnya pengetahuan anak. Selain mendapatkan ilmu di sekolah, dengan membaca buku anak-anak akan mendapatkan informasi atau pengetahuan yang tidak didapatkan di bangku sekolah. Di samping itu, kosa kata anak akan bertambah sehingga akan membantu anak dalam berkomunikasi baik lisan maupun tulisan. Manfaat lainnya, aktivitas membaca menjadi alternatif kegiatan anak dan dapat menghindarkan anak dari kegiatan negatif.

Budaya literasi anak, akan lebih mudah tertanam dengan peran orang tua. Peran yang dapat diambil orang tua antara lain, pertama, orang tua menjadi figur teladan kepada anak untuk menyukai bacaan. Jika orang tua memang kurang suka membaca buku, dapat diawali dengan membaca artikel ringan yang ada di media massa.

Kedua, mengajak anak untuk mengunjungi perpustakaan daerah atau perpustakaan umum terdekat. Dengan mengunjungi perpustakaan, anak menjadi dekat dengan sumber bacaan. Anak bisa diajak untuk meminjam buku atau sekadar membaca di perpustakaan.

Ketiga, menjadikan buku sebagai reward atau hadiah ketika anak memeroleh prestasi. Sering mengajak anak ke toko buku dan membelikan buku yang anak inginkan dapat membentuk kepribadian anak untuk mencintai buku. Buku menjadi sesuatu yang penting dan wajib dimiliki daripada mainan dan pakaian.

Keempat, tidak kalah pentingnya adalah kontrol orang tua untuk selalu memberikan buku bergizi kepada anak. Tidak semua buku baik bagi perkembangan anak. Hanya buku-buku bermutulah yang mampu menumbuhkan karakter positif anak. Di sini orang tua sangat berperan untuk menyeleksi bacaan mana yang menyehatkan dan bacaan mana yang menyesatkan.

Bagaimanapun juga, anak-anak adalah investasi bagi orang tuanya. Anak yang berkepribadian baik tidak saja membuat bahagia orang tuanya, tetapi akan berperan dalam membangun bangsa. Salah satu upaya yang dapat dilakukan orang tua adalah membentuk budaya literasi anak. Budaya literasi anak tidak cukup diupayakan dengan program Gerakan Literasi Sekolah, namun gerakan literasi sebaiknya dimulai dari rumah.

Tulisan ini dipublikasikan pertama kali di harian Bernas edisi 2 Juni 2016.



6/02/2016