Tampilkan postingan dengan label CATATAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CATATAN. Tampilkan semua postingan

Mapel TIK kembali hadir di kurikulum sekolah dengan nama mapel Informatika

Aman 8/05/2018
Udemy.com
SETELAH sekian lama menghilang dan sempat menimbulkan kegalauan pada para pengajarnya, akhirnya mapel TIK atau teknologi informasi dan komunikasi direncanakan kembali hadir di kurikulum sekolah. Berdasarkan informasi yang dirilis Republika, mata pelajaran TIK hadir dengan nama baru, yaitu mata pelajaran informatika.

Masih berdasarkan informasi yang dirilis oleh Republika tersebut ada perbedaan mendasar antara mapel TIK dengan mapel Informatika. Pertama, mapel TIK wajib diikuti oleh semua sekolah dan siswa. Sementara itu, mapel Informatika merupakan pilihan, bisa diikuti oleh sekolah-sekolah yang menginginkan dan telah siap saja.

Perbedaan kedua, mapel Informatika direncanakan tidak sekadar mempelajari menu-menu yang ada pada aplikasi atau tombol-tombol pada perangkat keras, melainkan sampai kepada Computational Thinking dengan materi STEM (Computer Science or Coding Computer Programming).

Perbedaan ketiga, jika mapel TIK dapat diajarkan oleh banyak guru, bahkan oleh guru-guru yang sekadar memiliki pengalaman menggunakan komputer, internet serta aplikasi tertentu, pada mapel Informatika lebih dari itu. Guru Informatika dituntut untuk benar-benar mengusai bidangnya sehingga dapat mendampingi siswa dalam belajar hingga menciptakan sesuatu terkait teknologi digital.

Dengan kembalinya mapel TIK ini, guru-guru TIK dapat bernapas lega, ada harapan untuk tidak lagi dituntut menjadi guru BK-TIK. Hanya saja, pertanyaannya, apakah semua guru TIK akan mampu beradaptasi dengan mapel Informatika mengingat tidak semua guru TIK berlatar belakang pendidikan teknologi informasi? Kita tunggu saja. (sab)

Kunjungan Pengurus Perkumpulan Guru Madrasah Penulis ke Kementeran Agama Republik Indonesia

Aman 7/19/2018

Abasrin.com--Selasa malam (10/07), saya, Bu Shofi, Bu Septy, Bu Rina, Bu Nur Khasanah Rahmawati, serta Pak Pujarsono berangkat dari Jogja menuju Jakarta. Lewat WAG, kami tahu bahwa beberapa teman yang berasal dari provinsi-provinsi lain sudah dalam perjalanan sejak siang tadi menuju tempat yang sama. Perjalanan ini saya anggap tidak kalah heroiknya dengan gempita Perancis melawan Belgia di ajang Piala Dunia yang tayang malam itu. Tujuan kami, yaitu sowan ke Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kemenag RI, tak lain untuk memperkenalkan diri sekaligus menjalin kerja sama yang sinergis untuk perkembangan Pergumapi.

Tak ubahnya para pemain sepak bola, kami terus berkoordinasi. Kami bagi-bagi tugas. Bu Septy jauh-jauh waktu sudah pesan seragam batik juga mendistribusikannya untuk para pengurus. Bu Najmah aktif berkoordinasi dengan Kasubbag Tata Usaha GTK Madrasah Kemenag RI, Pak M. Sidik Sisdiyanto, S.Ag. Pak Ogi dengan cekatan menyiapkan segala keperluan surat-menyurat ke Kemenag RI juga ke Kanwil Kemenag serta madrasah para pengurus yang akan turut audensi. Bu Eza di tengah-tengah kesibukannya menyempatkan diri mengedit program kerja tiap-tiap bidang sekaligus menyiapkan proposal. Sementara itu, Bu Shofi dan Bu Rina siap merilis berita.

Dari DIY sendiri, Bu Nur Hasanah Rahmawati merelakan diri menenteng tas berisi buku-buku pendamping (buping) yang ditulis oleh anggota Pergumapi. Bu Ayu, kendati tidak dapat menyertai, menitipkan pesan-pesan untuk disampaikan ke GTK. Tidak hanya itu, Bu Ayu juga menyediakan “amunisi” makanan yang banyak untuk perjalanan kami. Pada akhirnya “amunisi” dari Bu Ayu menyertai rute kami dari Pasar Senen-Istiqlal-Kemenag RI. Baru habis tatkala dinikmati bareng-bareng dengan pengurus yang lain.

Dalam catatan ini, tidak dapat saya sebutkan satu-satu peran para pengurus. Paling pasti kami saling melengkapi. Para pengurus yang tidak dapat hadir karena urusan yang tidak bisa ditinggalkan tetap memberi dukungan dengan menyumbang saran dan tetap aktif berkomunikasi. Kami saling oper “bola” untuk mengegolkan misi Pergumapi. Saya pribadi sangat kagum dengan perjuangan kawan-kawan Pergumapi, termasuk masalah seragam. Rupa-rupanya masing-masing individu sukses merayu tukang jahit agar seragam selesai sebelum tanggal 10 Juli. Tentang seragam, insyaallah ada catatan tersendiri, yang kapan-kapan bisa saya tuliskan.

Pagi hari Rabu (11/07), kami sampai di Jakarta. Titik kumpul kami adalah Masjid Istiqlal dengan pertimbangan dekat dengan Kemenag RI serta dapat menjadi tempat transit yang nyaman. Sebelum Subuh, kami sudah berdandan rapi lengkap dengan seragam baru. Usai salat, kami berbincang-bincang tentang Pergumapi juga banyak hal yang akan kami sampaikan ketika nanti berada di Kemenag RI. Sesekali kami juga bercanda akrab dan tidak lupa mengambil gambar dengan berbagai gaya.

Berdasarkan surat yang diajukan ke GTK Madrasah, audensi akan dilaksanakan pada pukul 10.00--12.00 WIB. Masih ada waktu beberapa saat untuk sarapan dan beristirahat. Saya sendiri sudah bisik-bisik dengan Bu Shofi untuk menikmati nasi pecel di depan masjid. Di tengah-tengah obrolan, kami mempertimbangkan untuk dapat bertamu ke direktorat lain, seperti yang pernah diusulkan Bu Anita. Kami berhitung dengan waktu semoga semua bisa terlaksana, mengingat permohonan yang kami ajukan kemarin hanya untuk GTK Madrasah.

Bu Najmah dengan senyum renyahnya menghubungi Kasubdit Kesiwaan, Bapak Abdullah Faqih, M.A., M.Ed. Di luar dugaan, Pak Faqih menyilakan kami untuk bertandang ke ruangan Beliau pagi itu juga. Sekilas saya lirik jam tangan. Jarum panjang belum menunjukkan angka tujuh. Kami pun bergegas menuju ke Kemenag RI. Saya, Bu Najmah, dan Bu Syafa duluan berjalan kaki menuju kantor Kemenag RI. Kami khawatir Pak Faqih terburu ada agenda lain. Teman-teman yang lain akan segera menyusul sebab di antara kami masih ada yang menunaikan salat Duha juga ada yang masih di kamar mandi.

Di ruangan Pak Faqih, saya dan Bu Najmah menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan tim Pergumapi. Bu Syafa, bak wartawan profesional sibuk “cekrak-cekrek” mengambil gambar dari segala sudut. Kami sampaikan bahwa teman-teman akan segera menyusul, ada dua puluh orang dari Pergumapi yang turut serta. Setelah menyebutkan angka, saya dan Bu Najmah berharap teman-teman yang masih berada di Istiqlal segera merapat. Setengah jam berlalu, belum ada tanda-tanda kedatangan teman-teman. Kami terus menunggu sambil menyampaikan program-program Pergumapi kepada Pak Faqih.


Baru beberapa saat kemudian ada foto di WAG bahwa teman-teman baru turun dari  mobil. Saya dan Bu Najmah saling pandang. Rupa-rupanya teman-teman menggunakan jasa taksi untuk mencapai gendung Kemenag RI yang letaknya bersebelahan dengan Masjid Istiqlal. Alhasil jalannya memutar dan lebih banyak waktu yang digunakan.

Pak Faqih sangat ramah menyambut kami, terlebih ketika teman-teman yang lain mulai bergabung. Kami yang semula diterima di ruang tamu Kasubid Kesiswaan, diminta pindah ke ruang kerja Beliau. Kami pun nyaman berbincang. Pak Faqih mengharapkan Pergumapi mampu "tampil beda” dari organisasi lain. Terlebih, Pergumapi mengkhususkan diri pada bidang literasi. Ada beberapa pesan dari Pak Faqih untuk Pergumapi, yaitu untuk mengusai IT. Bagaimanapun saat ini sudah memasuki era disrupsi, di mana perkembangan IT begitu pesat. Pergumapi dapat memanfaatkan medsos untuk mengunggah karya-karya anggota sehingga bisa dimanfaatkan secara lebih luas.

Hal lain yang dipesankan Pak Faqih adalah untuk membuat karya-karya buku yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan Alquran. Tak kalah pentingnya adalah karya buku dengan memasukkan "standar PISA" agar siswa madrasah dapat meningkat literasinya. Di samping itu, jika memungkinkan juga melakukan pelatihan-pelatihan dengan menggandeng media massa yang sudah besar agar memperoleh ilmu dari ahlinya. Pak Faqih juga berpesan agar Pergumapi terus berkarya tanpa meninggalkan tugas utamanya sebagai guru.

Hampir dua jam kami berbincang dengan Pak Faqih. Waktu menunjukkan angka sembilan lebih. Kami undur diri dan segera menuju ke GTK Madrasah. Mengingat jumlah kami yang banyak, kami diarahkan untuk menempati ruang pertemuan KSKK Madrasah di lantai enam. Kami diantar oleh Pak Jamaludin, staf Subdit Kurikulum yang lebih dikenal dengan Pak JE bin Abdullah. Pak JE ini terkenal sebagai penulis novel Kafillah Al-Fatihah. Novelnya pun siap difilmkan. Luar biasa, ya?

Pak JE menemani kami sebelum perwakilan dari Direktorat GTK Madrasah hadir. Pak JE yang lulusan Pondok Pesantren Darussalam Gontor tersebut mempersilakan kami memperkenalkan diri satu per satu. Ruangan pun bertambah ramai ketika teman-teman yang lain bergabung. Ada Bu Kazma beserta putrinya yang jauh-jauh dari Sulawesi Selatan. Bu Eza yang baru saja melakukan penerbangan dari Bengkulu. Pak Ogi beserta rekannya, juga Pak Ruba dan Bu Tati langsung dari Bandung. Tak lama kemudian, Bu Nuraedah dari Sulawesi menyusul dengan senyum cerianya. Tidak ketinggalan Pak Bambang Sukarnoto dari DKI. Terakhir saya baru sadar kalau Ibu Murdaning dari Kulonprogro sudah hadir. Bu Daning sengaja tidak bareng rombongan DIY karena Beliau datang beserta bayi dan anggota keluarga yang lain. Ada juga Bu Sakti dari Tulungagung. Total ada delapan belas orang yang hadir. Ada dua pengurus yang tidak dapat merapat karena keadaan yang tidak memungkinkan. Semoga lain waktu dapat turut serta.

Di GTK kami diterima oleh Kasi Bina Guru MA, Dra. Hj. Faizah, M.Pd., Kasi Bina Kependidikan MA, Drs. Imam Sayogyo, M.Pd., dan Kasi Bina Tenaga Kependidikan MI dan MTs, Syahrul Sobirin, S.H., M.Ag. Sayang sekali Direktur Direktorat GTK Madrasah, Prof. Dr. Suyitno, M.Ag. sedang tidak berada di tempat. Beliau ada acara bersama Bapak Menteri Agama. Meskipun demikian baik Bu Faizah, Pak Imam, serta Pak Syahrul menanggapi kami dengan baik.


Selain memaparkan Pergumapi beserta program-programnya, kami juga melakukan dialog. Hasil yang dapat kami rangkumkan adalah bahwa GTK mendukung adanya Pergumapi. Harapannya, Pergumapi dapat meningkatkan kualitas guru untuk menulis karya ilmiah sehingga lebih mudah untuk memenuhi angka kredit. Dari Pergumapi sendiri, meminta dukungan secara kelembagaan kepada GTK agar keberadaan Pergumapi semakin eksis. Berkenaan dengan kelembagaan, Pak Syahrul meminta kami agar juga bersilaturahim dengan Direktorat Kurikulum, Sarana Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah.

Audiensi ditutup dengan sesi foto bersama, juga penyerahan buku-buku karya anggota Pergumapi serta kenang-kenangan dari Pergumapi. Setelahnya kami makan siang bersama. Asyiknya di sini. Bukan menu makan siangnya, melainkan Pak Imam dan dan Pak Syahrul masih berkenan menemani kami dan sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan kami.


Dari GTK, kami pun meluncur ke ruang KSKK. Kepala Subdit Kelembagaan dan Kerjasama, Bapak Drs. H. Irhas Sobirin dan Kasi Kelembagaan dan Kerjasama MI dan MTs, Bapak Zulkifli, S.Ag., M.Pd. menemui kami. Beliau berdua tidak kalah hangatnya memberi sambutan. Pak Zulkifli sangat mengapresiasi adanya Pergumapi. Bagaimanapun kenyataan di lapangan sulit untuk menemukan guru yang mau menulis. Oleh karenanya Pergumapi mempunyai peran yang strategis untuk mengembangkan kegiatan literasi di kalangan guru. Pak Zul, demikian sapaan akrab Beliau, siap bekerja sama dengan Pergumapi, semisal proyek penulisan buku inspiratif.

Demikian juga Pak Irhas Sobirin, mengingat sebuah organisasi perlu pendanaan, beliau mengusahakan dapat menganggarkan dana untuk kegiatan bersama Pergumapi. Alhamdulillah... semoga terealisasi.

Sebelum kami meninggalkan ruangan, kami sempatkan diri untuk berfoto bersama. Kali ini dengan gaya nyantai dan tidak lupa pamer senyum.

Setelah dari KSKK Madrasah lantas ke mana? Ajaib, para pengurus Pergumapi sudah mempunyai jadwal masing-masing. Ceritanya sambil menyelam minum air. Pak Ogi, langsung ke lantai tujuh karena ada urusan dengan akreditasi kampus yang beliau rintis. Bu Najmah dan Bu Kazma masih ada pembicaraan dengan Pak Jamaludin dan Pak Faqih. Bu Nur Hasanah, Bu Shofi, dan Bu Rina menemui Pak Muhtadin. Saya sendiri bersama Bu Eza dan Bu Karti menuju lantai tiga ke bagian Kepegawaian. Pengurus lain, sudah ada janjian dengan kerabat dan jadwal berbeda. Demikianlah, dalam waktu sekejap kami sudah berpencar kembali.

Ah, memang begitu singkat. Inginnya ada pertemuan setelah dari Kantor Kemenag RI. Akan tetapi, apa daya. Teman-teman Pergumapi memang orang-orang sibuk. Saya sangat bersyukur di sela-sela kesibukan tersebut teman-teman masih mau dan mampu berbagi waktu untuk Pergumapi.

Sebelum kembali ke Jogja, saya, Bu Shofi, Bu Rina, Bu Nur Hasanah, Pak Pujar, Bu Najmah, dan Bu Syafa meluangkan waktu mampir ke kota tua. Adapun Bu Septy sudah dijemput adiknya. (sayang sekali tidak bisa ikut jalan-jalan). Sore menjelang, museum di kota tua sudah tutup. Namun, masih ada yang bisa kami nikmati, yaitu keramaian kota tua dan semangkuk bakso dan air jeruk panas. Tentu saja kami melakukan groufie. Sebagai pengarah gaya Dr. Najmah. Fotografer Bapak Pujarsono. He.. he...

Dalam perjalanan pulang saya pribadi merasakan kelegaan luar biasa. Barangkali sama leganya dengan yang dirasakan tim penyelamat yang berhasil mengeluarkan 12 remaja Thailand dan pelatihnya yang terjebak di dalam Gua Tham Luang selama dua pekan lebih.

Kurun waktu setahun capaian Pergumapi adalah sebagai berikut.
  1. Mempunyai badan hukum, SK Menhumkan RI nomor AHU-0006654. AH.01.07.Tahun 2018, NPWP dan rekening atas nama Pergumapi
  2. Seminar di Tulungagung dan Banjar
  3. Pelatihan menulis di Malang
  4. Pelatihan pengelolaan website
  5. Pembuatan website, IG, Twiter, Facebook
  6. Launching website dengan satu bulan penuh untuk menulis
  7. Pemberian penghargaan penulis produktif dalam rangka launching website
  8. Penerbitan buku Merah Putih Sertifikasi dan Repertoar Perempuan
  9. Penerbitan buping kerja sama dengan penerbit mayor
  10. Kuliah daring
  11. dan lain-lain
Belum banyak memang yang sudah dilakukan dan pekerjaan rumah masih menunggu. Oya, saya pribadi sangat berterima kasih kepada teman-teman pengurus, juga teman-teman anggota Pergumapi yang banyak memberikan dukungan. Terima kasih juga kepada Bu Yeti yang nyangoni kami dengan jus kacang ijo. Bu Yeti tahu bahwa kami perlu asupan nutrisi yang banyak.

Saya juga memohon maaf, jika untuk kegiatan audensi ini masih banyak kekurangan. Barangkali banyak rencana yang tidak terlaksana dengan maksimal. Di antaranya Bu Sukarti yang sudah mempersiapkan diri untuk baca puisi menandai launching buku. Mohon maaf sekali, waktu jua yang tidak memungkinkan. Untuk Pak Ruba juga yang sampai ketinggalan kereta sehingga harus pulang dengan moda lain. Juga untuk bapak/ibu anggota pergumapi, mohon maaf belum bisa menyertakan Bapak/Ibu. Semoga lain waktu segera ada kegiatan yang melibatkan seluruh anggota pergumapi.

Oya, sampai saat ini anggota Pergumapi sudah tersebar di 12 provinsi di Indonesia. Semoga seiring bertambah banyak anggota, karya Pergumapi kian banyak pula.

Terakhir, menuliskan catatan ini penting. Seperti yang diwejangkan pak Faqih, Imam Syafei mengatakan bahwa ikatlah ilmu dengan tulisan. Jadi, di antara ramainya media mengulas pertandingan final Piala dunia Perancis vs Kroasia, saya gerakan tangan ini untuk membuat catatan sederhana ini. Semoga bermanfaat. Salam Pergumapi.

Bantul, 15 Juli 2018.
Siska Yuniati

Siapa sebenarnya penulis cerita Mukidi?

Aman 8/27/2016
Soetantyo, penulis Cerita Mukidi
Foto: Facebook Soetantyo Moechlas
ABASRIN.com--Siapa sih sosok Mukidi? Siapa penulisnya? Dua pertanyaan itu mungkin sering muncul di benak para pengguna media sosial saat ini. Bagaimana tidak, kisa tentang Mukidi berseliweran dan senantiasa mengundang senyum dan tawa.
Sisa Sahur
Pak Mukidi sahur tadi pagi makan nasi goreng ya?
Nggak, saya ikut sunnah rasul sahur roti pakai madu
Loh koq ada sisa cabe di gigi sampeyan?
Oh ini sisa sahur kemaren.
Itu adalah kisah tertua tentang Mukidi yang dapat saya temukan. Kisah tersebut ditulis oleh Soetantyo pada blog Wordpressnya yang bertajuk Cerita Mukidi dengan tanggal posting 7 Agustus 2012.

Berdasarkan penuturan Soetantyo kepada wartawan Solopos.com, cerita Mukidi pada awalnya sedikit vulgar. Seiring dengan semakin banyaknya penggemar cerita Mukidi, dirinya mengakui semakin mengurangi kevulgarannya.

Benar saja, cerita vulgar pertama tentang Mukidi tercatat (juga) ditulis 7 Agustus 2012 dengan judul "The Club". Dalam cerita ini, dikisahkan Mukidi yang berusia 62 tahun mengunjungi kelab ekslusif nudis. Tidak perlu dilanjutkan, ya. Bisa ditebak arahnya ke mana.

Tidak semuanya orisinal

Seperti diberitakan oleh Solopos.com, cerita Mukidi sesungguhnya tidak semuanya orisinal.

“Cerita lucunya itu memang ada yang asal ngarang, namun ada pula yang berasal dari luar,” ungkap Soetantyo.

Bahkan, menurut Soetantyo, nama Mukidi sesungguhnya sudah populer sejak tahun 1980-an karena pernah digunakan dalam salah satu film Warkop.

Soetantyo juga mengakui bahwa cerita yang ditulisnya terinspirasi dari cerita tentang keluarga besar dan sahabat-sahabatnya. Oleh karena itu, banyak nama menggunakan nama Banyumasan.

Mukidi sendiri digambarkan oleh Soetantyo sebagai sosok pria dengan istri bernama Markonah. Pasangan ini memiliki anak Mukirin dan Mukiran. Mukdi juga punya sahabat, bernama Wakijan. Nama-nama itulah yang sering nongol di cerita Mukidi.

Lalu, siapa Soetantyo

Soetantyo--nama lengkapnya Soetantyo Moechlas--yang biasa dipanggil Pak Yoyo atau Pak Tantyo merupakan pensiunan sebuah perusahaan farmasi di Jakarta, Boehringer Ingelheim. Berdasarkan informasi dari Solopos.com, Soetantyo juga merupakan seorang trainer. Mungkin profesi inilah yang menuntut Pak Yoyo untuk selalu menyajikan cerita lucu: untuk menyegarkan suasana.

Soetantyo dilahirkan 7 Februari 1954. Melihat angka ini, pembaca mungkin bisa membayangkan, tokoh Mukidi--keseluruhan atau sebagian--sesungguhnya bisa jadi menggambarkan Pak Yoyo sendiri. Iya, enggak?

Di Facebooknya, Pak Yoyo menjelaskan bahwa dirinya berasal dari Purwokerto. Saat ini, dia mengaku tinggal di Jawa Barat, tepatnya Kota Bekasi.
Soetantyo (tengah) berfoto bersama penggemarnya.
Foto: Facebook Anto Sutrisno
Pernah terbit dalam bentuk buku dan ditawar untuk difilmkan

Siapa sangka, cerita Mukidi sesungguhnya sudah terbit secara indie sebelum blog Cerita Mukidi dilahirkan. Di wall Facebook Soetantyo Moechlas, tercatat tanggal 7 Februari 2012 Pak Yoyo sudah mempromosikan seri ketiga serial Laskar Pelawak dengan judul Balada Mukidi dan Wakijan. Melihat ramainya cerita Mukidi saat ini, siap-siap nih, bisa jadi dalam waktu dekat diterbitkan ulang oleh penerbit mayor.

Masih di tahun 2012, dikabarkan Deddy Mizwar dan sutradara Titien Wattimena menawarkan kepada Pak Yoyo untuk menulis cerita Mukidi yang lebih panjang untuk dijadikan film. Tapi, Pak Yoyo tidak berhasil menyelesaikan tantangan tersebut. Jadi, pembuatan film pun gagal. Nah, di tahun 2016 ini, Pak Yoyo dikabarkan kembali membuka peluang untuk bekerja sama dengan produser film. Ada yang tertarik?

Itu saja yang dapat saya kumpulkan. Sudah deadline pekerjaan nih. :)

Sabjan Badio, Blogger Jogja

Selfie di Saat Lebaran

Aman 7/02/2016

Sabjan Badio
Mentor E & E Media Kreatif dan Wakil Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Daerah Bantul

Ramadan telah tiba, hal ini menandakan bahwa dalam waktu dekat umat Islam akan merayakan lebaran. Bagi calon pemudik, mungkin aroma kampung halaman sudah terbayang. Terbayang pula serunya selfie (Indonesia: swafoto) bersama kerabat dan teman lama.

Tren selfie (untuk grup: wefie) ini cukup menarik. Selain membebaskan kita mengambil foto sesuai dengan ekspresi dan sudut yang diinginkan, selfie juga tidak merepotkan orang lain. Kendati demikian, perlu diingat, selfie bukanlah mengabadikan muka imut dengan berbagai ekspresi semata. Selfie sejatinya menjadi pengabadian sebuah momentum.

Momentum pertama yang perlu diabadikan adalah momentum bertemu keluarga. Foto selfie atau wefie bersama keluarga sesungguhnya merupakan dokumen yang perlu disimpan. Belum tentu pertemuan serupa dapat terjadi lagi dalam waktu dekat. Jika menunggu lebaran kemudian, itu artinya setahun kemudian baru dapat berjumpa lagi.

Momentum kedua, bertemu dengan teman lama. Seperti halnya keluarga, teman lama merupakan sosok yang tak terlupakan. Oleh karena itu, selfie bersama adalah bentuk pendokumentasian kisah persahabatan.

Momentum ketiga adalah menikmati panorama. Selfie juga bisa dilakukan dengan latar panorama kampung, bisa juga dengan latar rumah, sekolah, perkebunan, dan hal-hal lain yang akan menjadi pengobat rindu ketika kembali ke perantauan.

Agar aktivitas selfie bisa berjalan lancar, ada beberapa hal yang perlu diingat. Pertama, Anda harus menyiapkan powerbank. Jangan sampai nanti ketika sedang asyik-asyiknya keliling kampung, baterai habis. Tentu tidak jadi selfie jadinya.

Kedua, optimalkan performance kamera. Hal yang dapat dilakukan di sini di antaranya mengosongkan memori dan membuat shortcut ke kamera. Ini penting, jangan sampai Anda gagal selfie gara-gara memori penuh atau sibuk mencari-cari menu kamera.

Ketiga, jangan lupa siapkan aplikasi editing foto. Kadang kala Anda harus mempercantik tampilan hasil jepretan Anda. Untuk itu Anda perlu aplikasi. Namun, harus diingat, jangan melakukan editing secara berlebihan. Usahakan senatural mungkin karena bisa jadi itu akan menjadi dokumen yang disimpan hingga bertahun-tahun kemudian. (*)

Tulisan ini dipublikasikan pertama kali di rubrik Pojok Digital harian Kedaulatan Rakyat edisi 30 Juni 2016 halaman 13.

Mengembalikan Kehormatan Guru

Aman 6/06/2016

Sabjan Badio

Wakil Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Daerah Bantul

DUNIA pendidikan kembali disentakkan dengan kasus pencukuran rambut guru oleh oknum orang tua siswa di Kalimantan Barat. Sebelumnya kasus yang sama terjadi di Majalengka tahun 2012 dan berlanjut ke meja hijau. Dengan demikian, setidaknya sudah dua kasus serupa yang mencuat secara nasional.

Di luar kedua kasus tersebut, tercatat pula kasus guru cubit siswa dan siswa bakar buku rapor. Kedua kasus ini juga sampai ke penegak hukum. Selain kasus-kasus yang sudah disebutkan itu, bisa jadi ada banyak kasus lain yang tidak dilaporkan ke penegak hukum dan tak sampai terendus media. Dari berbagai persoalan tersebut, ada permasalahan yang dapat ditarik, yaitu perihal kehormatan guru dan institusi pendidikan.

Dalam sejarah pendidikan di Indonesia, guru pernah ditempatkan pada posisi terpandang dengan label “pahlawan tanpa tanda jasa”. Kendati bergaji sedikit, ketika itu guru mendapat posisi mulia di masyarakat. Guru juga menjadi panutan dan rujukan untuk mencari solusi berbagai macam permasalahan. Di institusi pendidikannya sendiri, ada cerita tentang siswa yang menuntunkan sepeda dan membawakan tas gurunya sebagai perlambang terhormatnya posisi guru pada masa itu.

Lahirnya Undang-Undang Guru dan Dosen membawa fase baru bagi para guru. Seiring disahkannya regulasi tersebut, kesejahteraan guru terangkat diikuti bertambahnya animo masyarakat terhadap profesi guru. Fase dengan bayangan kesejahteraan ini juga membawa harapan meningkatnya kualitas pendidikan di tanah air.

Kenyataannya tidak sesederhana itu. Berbagai persyaratan yang harus dilalui seorang guru bersertifikasi tidak jarang menjadikannya kurang fokus mengajar. Adminstrasi, jam mengajar, jumlah minimal siswa adalah hal-hal yang pada banyak kasus mengharuskan guru mengajar di beberapa sekolah yang berakibat terpecahnya konsentrasi guru.

Dengan ditetapkannya jumlah minimal siswa per kelas sebagai prasyarat jam mengajar guru, diakui menimbulkan persoalan baru. Sering terdengar sekolah menarik iuran dari guru bersertifikasi untuk mendanai penerimaan siswa baru berupa insentif alat tulis atau seragam. Di sini terjadi “transaksi ekonomi” yang berimplikasi berlakunya hukum ekonomi. Sekolah seolah menjadi penjual, sementara masyarakat menjadi pembeli. Pada dinamika pemasaran, kondisi demikian menciptakan hubungan pelayan-raja.

Gegar Budaya

Kondisi internal dalam sistem pendidikan setali tiga uang dengan pengaruh politik di tanah air. Masyarakat membutuhkan proses lebih lama untuk menjadi dewasa secara politis. Hal ini dibuktikan dengan masih seringnya terjadi aksi yang bersifat SARA bahkan anarkis saat dan pasca-penyelenggaraan pemilu.

Kondisi demikian seiring sejalan dengan semakin masifnya perkembangan teknologi informasi digital. Biaya akses data yang semakin murah, lalu lintas informasi yang seolah tak berfilter, serta belum adanya kedewasaan masyarakat berjalin-kelindan membentuk masyarakat yang gamang. Kondisi ini disebut antropolog Kalvero Oberg sebagai kejutan atau gegar budaya (culture shock).

Dalam keadaan mengalami kejutan budaya itu yang disebut oleh Oberg sebagai fase negosiasi, masyarakat menjadi labil. Kondisi ini menjadikan masyarakat cenderung mudah terbawa emosi ketika terjadi permasalahan di sekolah.

Mengembalikan Kehormatan Guru

Setidaknya ada lima hal yang bisa dilakukan untuk mengembalikan kehormatan guru dan institusi pendidikan. Pertama, memperbaiki regulasi sertifikasi guru. Persyaratan penerimaan tunjangan seritikasi hendaknya lebih disederhanakan sehingga permasalahan administratif tidak terlalu menyita waktu. Pemangku kebijakan juga dapat memaksimalkan peran tata usaha sekolah dalam membantu guru.

Kedua, perlu dilakukan peningkatan kualitas guru secara terus-menerus. Guru mulia karena karya, demikian tema simposium guru tahun 2015 silam yang langsung dihadiri Mendikbud Anies Baswedan. Untuk dapat menghasilkan karya, kompetensi seorang guru sejatinya selalu diasah dan ditingkatkan. Meningkatnya kompetensi, juga menjadikan guru lebih bernilai di mata masyarakat.

Ketiga, perlu dilakukan sinkronisasi dan peningkatan kemitraan orang tua dengan guru. Bagi sebagian sekolah, orientasi orang tua calon siswa baru dan Pertemuan Persatuan Orang Tua Murid dan Guru (POMG) telah menjadi media komunikasi antara sekolah, wali kelas, dan guru dengan orang tua. Dengan terjadinya komunikasi dan sinkronisasi itu, orang tua dan sekolah memiliki ikatan. Ikatan inilah yang dapat menjamin dapat dilakukannya dialog untuk mengatasi permasalahan.

Keempat, keberadaan organisasi guru perlu didayagunakan. Organisasi guru memiliki peran advokasi sehingga dapat mengomunikasikan atau memediasi berbagai permasalahan yang terjadi atau terkait dengan guru.

Kelima, diperlukannya regulasi perlindungan guru. Saat ini sebagian institusi pendidikan mengalami kesulitan dalam menangani siswa bermasalah. Dengan adanya jaminan dalam menjalankan tugasnya, seorang guru dapat berperan lebih baik.

Pelaksanaan kelima hal itu mungkin tidak mudah. Kendati demikian, usaha-usaha perlu dilakukan. Harapannya, dengan adanya hubungan harmonis antara orang tua, masyarakat, serta guru dan institusi pendidikan, wibawa dunia pendidikan dapat dikembalikan. Dengan demikian akan terwujud pendidikan yang lebih baik. (*)
Tulisan ini dimuat pertama kali di Harian Bernas Edisi 6 Juni 2016 halaman 9.

Peran orang tua terhadap literasi anak

Aman 6/02/2016

Siska Yuniati
Guru MTs Negeri Giriloyo

Baru-baru ini, pemerintah telah mencanangkan Gerakan Literasi Sekolah. Dalam Gerakan Literasi Sekolah tersebut, salah satu program yang diagendakan adalah siswa diwajibkan membaca buku nonpelajaran 15 menit sebelum kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian, diharapkan siswa senang membaca sehingga budaya literasi terwujud.

Akan tetapi, menanamkan budaya literasi kepada siswa, yang notabene anak-anak tidaklah segampang membalik telapak tangan. Dalam hal ini, selain sekolah, juga diperlukan peran masyarakat dan orang tua. Masyarakat berperan menyediakan akses bacaan kepada anak, sementara orang tua membentuk budaya literasi anak dari dalam rumah.

Secara umum, orang tua mengambil peran strategis dalam perkembangan dan pendidikan anak. Bagaimanapun juga, anak akan gampang meniru hal-hal yang berada di sekitar mereka, termasuk kebiasaan orang tua. Orang tua yang senang bertanam, akan membuat anak menyenangi tanaman. Demikian pula orang tua yang suka membaca akan menularkan kebiasaan tersebut kepada anaknya. Ibaratnya buah jatuh tak jauh dari pohon.

Sayangnya, keengganan membaca juga menghinggapi para orang tua. Dengan dalih sibuk, letih usai bekerja atau pun karena kurang mempunyai bahan bacaan. Hal ini secara tidak langsung akan memengaruhi daya baca anak. Padahal seperti kita ketahui banyak manfaat yang kita peroleh dari kegiatan membaca.

Di antara manfaat membaca bagi anak adalah bertambahnya pengetahuan anak. Selain mendapatkan ilmu di sekolah, dengan membaca buku anak-anak akan mendapatkan informasi atau pengetahuan yang tidak didapatkan di bangku sekolah. Di samping itu, kosa kata anak akan bertambah sehingga akan membantu anak dalam berkomunikasi baik lisan maupun tulisan. Manfaat lainnya, aktivitas membaca menjadi alternatif kegiatan anak dan dapat menghindarkan anak dari kegiatan negatif.

Budaya literasi anak, akan lebih mudah tertanam dengan peran orang tua. Peran yang dapat diambil orang tua antara lain, pertama, orang tua menjadi figur teladan kepada anak untuk menyukai bacaan. Jika orang tua memang kurang suka membaca buku, dapat diawali dengan membaca artikel ringan yang ada di media massa.

Kedua, mengajak anak untuk mengunjungi perpustakaan daerah atau perpustakaan umum terdekat. Dengan mengunjungi perpustakaan, anak menjadi dekat dengan sumber bacaan. Anak bisa diajak untuk meminjam buku atau sekadar membaca di perpustakaan.

Ketiga, menjadikan buku sebagai reward atau hadiah ketika anak memeroleh prestasi. Sering mengajak anak ke toko buku dan membelikan buku yang anak inginkan dapat membentuk kepribadian anak untuk mencintai buku. Buku menjadi sesuatu yang penting dan wajib dimiliki daripada mainan dan pakaian.

Keempat, tidak kalah pentingnya adalah kontrol orang tua untuk selalu memberikan buku bergizi kepada anak. Tidak semua buku baik bagi perkembangan anak. Hanya buku-buku bermutulah yang mampu menumbuhkan karakter positif anak. Di sini orang tua sangat berperan untuk menyeleksi bacaan mana yang menyehatkan dan bacaan mana yang menyesatkan.

Bagaimanapun juga, anak-anak adalah investasi bagi orang tuanya. Anak yang berkepribadian baik tidak saja membuat bahagia orang tuanya, tetapi akan berperan dalam membangun bangsa. Salah satu upaya yang dapat dilakukan orang tua adalah membentuk budaya literasi anak. Budaya literasi anak tidak cukup diupayakan dengan program Gerakan Literasi Sekolah, namun gerakan literasi sebaiknya dimulai dari rumah.

Tulisan ini dipublikasikan pertama kali di harian Bernas edisi 2 Juni 2016.

Tidak Mau Didenda Karena Menggunakan Foto dari Internet? Perhatikan Dulu Hal Berikut!

Aman 3/12/2016

ABASRIN.com - Aktivitas save dan share merupakan kegiatan yang begitu lazim kita lakukan. Bahkan, tidak hanya share, kita kadang mempublikasikan ulang sebuah gambar milik orang lain. Jika Anda termasuk yang sering melakukan hal tersebut, hati-hatilah, jangan sampai nanti Anda terpaksa membayar jutaan rupiah karenanya.

Contoh kasus, tahun 2013 Agence France-Presse (AFP) dan Getty Images didenda 1,2 juta dolar hanya karena mempublikasikan ulang foto yang sudah dishare oleh fotografernya di Twitter. Bayangkan, mengutip gambar yang sudah dishare di Twitter pun ternyata didenda hingga jutaan dolar. Mau?

Kasus lain. Baru-baru ini striker klub sepak bola Jerman, Nicklas Bendtner, juga terkena denda hanya karena memposting foto dirinya sendiri bersama mobil Mercy. Jika AFP dan Getty didenda karena pelanggaran hak cipta, striker dari klub Wolfsburg ini didenda karena pelanggaran kontrak. Klub Wolfsburg tercatat telah meneken kontrak dengan Volkswagen atau yang kita kenal dengan sebutan VW. Jadi, berfoto dengan Mercy sama dengan berfoto dengan pesaing VW yang notabene merupakan sponsor.

Bayangkan, memposting foto berizin juga ternyata dapat didenda, apalagi mempublikasikan ulang gambar atau foto tanpa hak seperti kasus AFP dan Getty tadi.

Saya sendiri punya pengalaman upload foto di Wikimedia. Foto saya lantas dihapus oleh administrator karena foto yang saya cuplik dari situs sebuah perguruan tinggi di Indonesia itu dianggap berhak cipta dan tidak bebas. Dari mana administrator tahu kalau foto itu tidak dilisensikan kepada saya? Ya, dari catatan di situs perguruan tinggi tempat saya mengambil gambar. Saya menyertakan sumbernya, mereka menelusurinya. Saat ditelusuri, di bagian bahwa situs ada tulisan copyright. Itu artinya tidak bebas. Dihapuslah foto upload-an saya.

Apa jadinya jika saya tidak menyertakan lisensi serta sumbernya dengan tujuan agar administrator tidak tahu bahwa foto yang saya upload tidak bebas? Ini justru bunuh diri, tanpa lisensi atau referensi, semakin cepat mereka menghapusnya.

Foto saya sendiri pernah dikutip oleh sebuah harian untuk kepentingan publikasi online dan cetak. Oleh karena media saya berlisensi Creative Commons, selama pengutip menyertakan sumber, saya biarkan saja. Pada kesempatan lain, tulisan saya di blog dikutip oleh seorang praktisi pendidikan yang berkantor di sebuah universitas "besar" di Indonesia. Karya itu dijadikan bahan untuk seminar nasional tanpa pernyataan sumber yang memadai. Apa jadinya? Saya laporkanlah, sebab telah melanggar prinsip lisensi Creative Commons yang saya berikan.

Sekarang, pertanyaannya, apa itu lisensi Creative Commons? Lisensi Creative Commons adalah beberapa lisensi hak cipta yang diterbitkan pada 16 Desember 2002 oleh Creative Commons, perusahaan nirlaba Amerika Serikat yang didirikan tahun 2001. Saat ini, beberapa situs besar tercatat menggunakan lisensi ini, contohnya situs berikut.
  1. Flickr
  2. Google
  3. Nine Inch Nails
  4. OpenCourseWare
  5. Public Library of Science
  6. Wikipedia
  7. Whitehouse.gov
Khusus untuk Google hati-hati. Lisensi Creative Commons hanya berlaku untuk materi yang dipublikasikan oleh Google sendiri, untuk materi yang ditemukan melalui mesin pencari Google, tentu saja tidak. Alasannya, mesin pencari Google hanya perantara yang dapat mengantarkan pengguna internet ke situs aslinya. Jadi, lisensi situs aslinya sajalah yang berlaku.


Logo Creative Commons/Creativecommons.org
Situs yang menggunakan lisensi Creative Commons biasanya disertai keterangan logo atau catatan atribusi Creative Commons. Nah, di sini kita masih perlu cermat, lisensi Creative Commons ternyata masih ada jenisnya. Berikut penjelasannya.

Logo Creative Commons
Keterangan Lisensi
Atribusi (attribution; A, “BY”)
Boleh disalin, didistribusikan, ditampilkan, serta dibuat karya turunan dengan tetap menyebutkan pembuat karya aslinya.
Nonkomersial (noncommercial; NK, “NC”)
Boleh disalin, didistribusikan, ditampilkan, serta dibuat karya turunan hanya untuk tujuan nonkomersial.
TanpaTurunan (no derivative works, noderivs; TKT, “ND”)
Boleh disalin, didistribusikan, ditampilkan, dengan catatan harus sama persis (verbatim), tidak diizinkan membuat karya turunan.
BerbagiSerupa (hare-alike; BS, “SA”)
Boleh didistribusikan karya turunan hanya di bawah lisensi yang identik dengan lisensi yang diberikan pada karya aslinya..

Keempat jenis lisensi tersebut biasanya dikombinasi. Apapun jenisnya, atribusi atau catatan pembuat file aslinya tetap harus diterakan. Berikut berbagai kombinasi dari lisensi Creative Commons.

Logo CreativeCommons
Keterangan Lisensi


Atribusi (Attribution; CC BY)

Lisensi ini mengizinkan orang lain untuk mengumumkan, mengubah, menyesuaikan, dan mengadaptasi suatu karya, bahkan secara komersial, sepanjang orang tersebut menyebut pembuat karya orisinal. Ini adalah lisensi paling terbuka dan disarankan untuk penyebaran dan penggunaan bahan berlisensi secara maksimal.

This license lets others distribute, remix, tweak, and build upon your work, even commercially, as long as they credit you for the original creation. This is the most accommodating of licenses offered. Recommended for maximum dissemination and use of licensed materials.



Atribusi-BerbagiSerupa (Attribution-ShareAlike; CC BY-SA)

Lisensi ini mengizinkan orang lain untuk menggubah, menyesuaikan, dan mengadaptasi suatu karya, bahkan secara komersial, sepanjang orang tersebut menyebut pembuat karya orisinal dan melisensikan ciptaan baru mereka dengan persyaratan yang identik. Lisensi ini sering disamakan dengan lisensi “copyleft” perangkat lunak bebas dan sumber terbuka. Semua karya baru yang didasarkan atas karya yang memakai lisensi ini akan menggunakan lisensi yang sama sehingga semua turunan juga mengizinkan penggunaan komersial. Jenis lisensi ini digunakan oleh, misalnya, Wikipedia.


This license lets others remix, tweak, and build upon your work even for commercial purposes, as long as they credit you and license their new creations under the identical terms. This license is often compared to “copyleft” free and open source software licenses. All new works based on yours will carry the same license, so any derivatives will also allow commercial use. This is the license used by Wikipedia, and is recommended for materials that would benefit from incorporating content from Wikipedia and similarly licensed projects.



Atribusi-TanpaTurunan (Attribution-NoDerivs; CC BY-ND)

Lisensi ini mengizinkan orang lain untuk memperbanyak, baik secara komersial maupun tidak, sepanjang karya tersebut tidak diubah dan utuh, dengan disertai pemberian atribusi (penyebutan) kepada pembuat karya orisinal.

This license allows for redistribution, commercial and non-commercial, as long as it is passed along unchanged and in whole, with credit to you. utuh, dengan disertai pemberian atribusi (penyebutan) kepada pembuat karya orisinal.



Atribusi-NonKomersial (Attribution-NonCommercial; CC BY-NC)

Lisensi ini mengizinkan orang lain untuk menggubah, menyesuaikan, dan mengadaptasi suatu karya secara nonkomersial. Walaupun ciptaan baru mereka juga harus menyebut pembuat karya orisinal dan nonkomersial, mereka tidak harus melisensikan ciptaan turunan mereka dengan persyaratan yang sama.

This license lets others remix, tweak, and build upon your work non-commercially, and although their new works must also acknowledge you and be non-commercial, they don’t have to license their derivative works on the same terms.



Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa (Attribution-NonCommercial-ShareAlike; CC BY-NC-SA)

Lisensi ini mengizinkan orang lain untuk menggubah, menyesuaikan, dan mengadaptasi suatu karya secara nonkomersial, sepanjang mereka menyebut pembuat karya orisinal dan melisensikan ciptaan baru mereka dengan persyaratan yang sama.

This license lets others remix, tweak, and build upon your work non-commercially, as long as they credit you and license their new creations under the identical terms.



Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (Attribution-NonCommercial-NoDerivs; CC BY-NC-ND)

Lisensi ini paling membatasi di antara enam lisensi utama, hanya mengizinkan orang lain untuk mengunduh suatu karya dan membagikannya dengan orang lain sepanjang menyebut pembuat karya orisinal, namun mereka tidak boleh mengubah ciptaan tersebut dengan cara apa pun dan juga tidak boleh menggunakan secara komersial.

This license is the most restrictive of our six main licenses, only allowing others to download your works and share them with others as long as they credit you, but they can’t change them in any way or use them commercially.


Jika Anda sering mengunduh, share, atau publikasi ulang media yang Anda dapatkan dari internet, cobalah untuk "hanya" menggunakan media dengan lisensi Creative Commons. Dari berbagai kombinasi tersebut menunjukkan bahwa kita dapat memanfaatkan berbagai media atau file dengan lisensi Creative Commons. Hanya saja, kita harus mengamati, jenis lisensi apa yang berlaku pada file yang akan kita gunakan.

Pengalaman saya, pada media yang disebar di Wikipedia dan Filckr tertera jelas, jenis lisensi yang berlaku atas sebuah file. Coba saja dicek. Nah, kita dapat memperlakukan file yang kita unduh sesuai dengan jenis lisensi yang diberikan.
Apa keuntungan media yang menggunakan lisensi Creative Commons? Pertama, media pengguna lisensi Creative Commons biasanya tidak pelit, paling tidak, tidak pelit-pelit amat. Kedua, kita mengetahui secara pasti lisensi apa yang kita dapatkan dari sebuah media yang kita unduh karena situs-situs penganut lisensi Creative Commons akan menerakan dengan jelas status lisensi file atau materi yang disebarkannya.

--Sabjan Badio, Blogger

Sumber: Anashir | Wikipedia | Creativecommons | Okezone | Republika

Menyunting Calon Antologi Cinta dan Hujan Karya Siska Yuniati

Aman 2/18/2016
Cinta dan Hujan, © Lonor Orduz/Pinterest.com

MUNGKIN Siska Yuniati tidak pernah membayangkan cerpen-cerpen yang ditulisnya akan saya jadikan buku. Hal yang dia ketahui bahwa karya-karya tersebut dikirimkannya kepada panitia lomba atau kepada redaktur media massa. Dapat ditebak, hal yang didapatkannya ya seputar itu, menang atau tidak menang lomba, dimuat atau tidak dimuat di media massa cetak.

Ketika saya mencermati folder cerpennya, ada belasan cerpen yang menurut saya layak untuk diterbitkan dalam bentuk buku. Hanya saja, cerpen-cerpen tersebut menyasar lintas generasi dan begitu hitam-putih, ada yang anak-anak banget, ada yang tua banget, ada pula yang universal.

Awalnya saya ingin menerbitkan semuanya, tidak mempedulikan siapa pembacanya, yang penting terbit. Kemudian saya berubah pikiran, sebagai seorang penyunting saya tidak boleh menampikkan pembaca. Pembacalah yang menjadi pemilik sebuah naskah ketika dia sudah diterbitkan dalam bentuk buku.

Jadilah kemudian saya menyortir lagi cerpen-cerpen yang ada. Setelah saya kelompok-kelompokkan dan diskusikan dengan penulisnya, terkumpullah dua belas cerpen. Tema yang diangkat pun spesifik, seputar cinta kasih ala remaja, keluarga, hingga sekolah. Kedua belas cerpen tersebut adalah "Cinta dan Hujan", "Rahasia Hati", "Cinta Seorang Pengarang", "Tahi Lalat", "Anak Tangga", "Cincin Bermata Hijau", "Simbah", "Rindu Ibu", "Pengungsi", "Sedekah Kaleng", "Seorang Kesatria", dan "Sebuah Kejujuran".

Di antara cerpen-cerpen tersebut ada yang telah dimuat di media massa, memenangkan kompetisi menulis, dan termuat dalam kumpulan cerpen bersama. Cerpen "Cinta Seorang Pengarang" dan "Rindu Ibu" adalah cerpen yang pernah termuat di Majalah Bakti. "Cerpen Cincin Bermata Hijau" pernah dimuat di kumpulan cerpen Melodi Cinta Putih Abu-Abu. Cerpen "Anak Tangga" pernah dimuat dalam kumpulan cerpen Hitam, Putih, Abu-Abu. Selebihnya adalah cerpen-cerpen yang sepenuhnya merupakan pengisi folder di laptop pribadi Siska Yuniati.

Dari kedua belas cerpen tersebut, beberapa cerpen cukup mengejutkan bagi saya. Cerpen "Cincin Bermata Hijau," contohnya, membawa aroma mistis dan memiliki persinggungan dengan masa kolonial. Cerpen "Anak Tangga" menyajikan cerita tentang fenomena budaya yang terjadi di Makam Raja-Raja Imogiri. Sementara itu, "Sedekah Kaleng" menyajikan cerita konvensional dengan sudut pandang yang unik, yaitu sudut pandang sebuah kaleng.

Kendati sangat tertarik dengan ketiga cerpen tersebut, bukan berarti cerpen-cerpen lain tidak mengundang perhatian. Cepern "Simba" misalnya, menghadirkan "kekolotan" seorang nenek dalam kehidupan modern dan mengharuskan tokoh utamanya berdiri di antara dua zaman. Pun demikian dengan "Cinta dan Hujan", bahkan ketertarikanlah yang membuat saya memberi judul Cinta dan Hujan untuk kumpulan cerpen ini.

Itu dulu ya, sekadar mengintip isi buku kumpulan cerpen Cinta dan Hujan karya Siska Yuniati.

--Sabjan Badio, editor dan blogger.

Menjadi Guru di Era Gadget

Aman 1/02/2016

Sabjan Badio, Blogger Jogja

"Malam hari ada yang mendidik, televisi. Betul? Itu bisa mempengaruhi. Ada lagi yang sekarang. Namanya media sosial, media online, ada Facebook, ada YouTube, ada Twitter, ada Path, ada Instagram, itu juga sangat mempengaruhi karakter-karakter anak-anak kita. Hati-hati.” --Joko Widodo

Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Joko Widodo pada puncak peringatan Hari Guru di Istora Senayan Jakarta, 24 November 2015 lalu. Sebuah pernyataan yang tentunya menimbulkan pertanyaan di kepala guru dan orang tua, begitu fenomenalkah dampak televisi dan gadget sampai harus diangkat oleh presiden pada pidato resmi dalam peringatan hari besar nasional?

Identitas Generasi Y dan Z

Don Tapscott (2009), seorang konsultan Bisnis dari Kanada, membagi manusia yang hidup saat ini menjadi empat generasi, yaitu The Baby Boom Generation, Generation X, The Net Generation atau Generation Y, dan Generation Next atau Generation Z. Pembagian tersebut berdasarkan tahun kelahiran. Generasi pertama lahir pada era 1946-1964, generasi kedua lahir pada periode 1965-1976, generasi ketiga lahir pada periode 1977-1997, dan generasi keempat merupakan generasi yang lahir pada 1998 sampai sekarang.

Merujuk pembagian itu, para pelajar saat ini dapat dikategorikan dalam generasi Y dan Z. Oleh Tapscott, Generasi Y dan Z dikatakan berasimilasi (lebur) dengan teknologi. Bahkan, secara ekstrem Tapscott menyebut bahwa bagi generasi Y dan Z ini teknologi bagaikan udara.

Sebagai generasi yang dilahirkan bersama teknologi, wajar jika gaya bekerja kelompok ini cenderung multitasking. Dengan kata lain, mereka terbiasa mengerjakan banyak hal dalam waktu bersamaan. Cara bersosialisasinya pun memiliki kekhasan, banyak memanfaatkan jejaring sosial, seperti Facebook, Twitter, WhatsApp, dan lain-lain.

Kompetensi Abad 21

Hadir sebagai guru dan orang tua untuk generasi Y dan Z memiliki konsekuensi tersendiri. Jika pada generasi X dan sebelumnya didominasi oleh aktivitas fisik yang kasat mata, menghadapi generasi Y dan Z guru dan orang tua mau tidak mau harus hadir dalam aktivitas maya mereka.

Mengenai keterlibatan tersebut, telah diingatkan oleh Trilling dan Fadel tahun 2009 melalui buku 21st Century Skills Learning for Life in Our Times. Keduanya menegaskan bahwa rata-rata pekerja saat ini membutuhkan kompetensi dalam bidang teknologi dan informasi. Maka, pada setiap lowongan pekerjaan, senantiasa disertai persyaratan penguasaan atas teknologi dan informasi.

Jika kita menyempatkan mengamati, seorang petugas keamanan yang identik dengan aktivitas fisik pun, sudah harus mampu mengoperasikan komputer, menjalankan sistem presensi digital, hingga mengendalikan kamera pengintai yang serba canggih.

Untuk dapat mengantarkan anak didik mencapai kompetensi teknologi informasi, niscaya keahlian tersebut menjadi tuntutan bagi para pendidik. Pendidik tidak hanya berinteraksi secara fisik di dalam kelas, namun juga dituntut menyelenggarakan kegiatan belajar dan mengajar dengan pemanfaatan teknologi.

Dilema Guru dan Orang Tua

Kendati dipandang positif dengan kemampuan multitaskingnya, generasi X dan Y memiliki permasalahan serius. Survei Neilsen tahun 2013 menunjukkan bahwa pengguna smartphone menghabiskan rata-rata 3 jam per hari untuk telepon, SMS, jejaring sosial, game, menjelajah aplikasi baru, dan berselancar di internet. Pada publikasi yang berjudul Indonesia Smartphone Consumer Insight Mei 2013, Neilsen memperlihatkan fakta mengejutkan, 90 persen dari waktu tersebut ternyata
digunakan untuk chatting.

Jika diakumulasi dengan penggunaan televisi yang pada tahun 2013 menunjukkan angka 4,5 jam per hari, permasalahan yang dihadapi generasi Y dan Z ini terlihat semakin serius. Apalagi angka tersebut pada tahun 2015 ternyata telah mencapai 5 jam per hari. Mencermati hal ini, menjadi masuk akal dan wajar jika Presiden Joko Widodo merasa harus menyampaikan permasalahan televisi dan smartphone ini di hadapan ribuan guru pada acara puncak Hari Guru 24 November 2015 lalu.

Tingginya penggunaan smartphone, menurut catatan The Telegraph berdampak tujuh hal. Ketujuh hal tersebut meliputi kecelakaan, kegelisahan, kegemukan, depresi, masalah tidur , hubungan sosial, hingga menurunnya produktivitas.

Besarnya dampak negatif akibat televisi dan smartphone juga diingatkan oleh tim peneliti dari Universitas Osaka, Jepang. Berdasarkan temuan mereka, menggunakan gadget 5 jam per hari dapat menimbulkan ancaman embolisme paru akibat
pembekuan darah.

Bagaimana Harus Bersikap?

Psikolog Early Utami menawarkan kiat khusus untuk berperan aktif dalam kehidupan generasi Y dan Z ini. Solusi yang ditawarkan adalah menjadi wasit bagi anak-anak.

Seorang wasit menurut Early Utami harus memenuhi persyaratan kompetensi dan melalui rangkaian tes dan seleksi agar dapat dipercaya memimpin sebuah kompetensi bergengsi. Bahkan, selain pengetahuan dan skill yang dimiliki, seorang wasit pun dituntut memiliki jam terbang yang cukup.

Seperti halnya wasit, guru dan orang tua pun demikian. Agar dapat turut terlibat dalam mengedukasi siswa atau anak generasi Y dan Z, guru dan orang tua perlu meningkatkan kapasitasnya dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi.

Seorang guru atau orang tua yang memiliki pengetahuan cukup, tentu dapat memahami aplikasi yang tepat maupun membahayakan siswa atau anaknya. Guru dan orang tua juga dapat mengerti kapan saatnya anak dibolehkan menggunakan smartphone dan untuk tujuan apa penggunaannya.

Pada praktiknya, guru dan orang tua tidak cukup hanya melarang atau membatasi penggunaan gadget. Seorang anak biasanya tidak bisa diam begitu saja dan bisa jadi menuntut agar aturan yang dibuat dilonggarkan.

Mengatasi permasalahan ini Early Utami memberikan saran untuk menyibukkan siswa pada aktivitas lain yang edukatif dan membutuhkan konsentrasi sekaligus melibatkan aktivitas fisik. Untuk hal ini, guru dan orangtua hendaknya menyediakan berbagai tawaran aktivitas positif yang menyaingi gadget. []

Tulisan ini dipublikasikan pertama kali di majalah Pelangi edisi 9, Desember 2015, halaman 4-6.

Mendidik Anak Agar Anak Mudah Bergaul

Aman 1/01/2016
Siska Yuniati (kanan), Foto: Rusmantara
Oleh Siska Yuniati
Ibu dengan empat anak, blogger, editor, dan guru MTs Negeri Giriloyo. Tulisan ini dipublikasikan pertama kali di majalah Pelangi edisi 9, Desember 2015, halaman 14-15.

ABASRIN.COM- Sepintas lalu, sosialisasi tidak menjadi masalah bagi anak-anak. Secara alamiah mereka akan berinteraksi, mencari teman, dan bergaul. Kendati demikian, pada banyak kesempatan, kita sering menemukan anak yang sulit ngobrol dan bermain dengan sebayanya. Ketika mengalami hal ini, sebagai orang tua wajar merasa khawatir . Lalu bagaimana agar anak mudah bersosialisasi dan bergaul dengan sesamanya?

Ciptakan keterbukaan

Ajaklah anak mengenal banyak hal di keluarga. Biarkanlah mereka bertanya segala sesuatu yang ingin diketahuinya. Pun sebaliknya, sempatkanlah ngobrol dengan anak tentang aktivitasnya sendiri.

Sediakan ruang ekspresi

Mencoret, bernyanyi, bahkan sekadar berteriak merupakan ekspresi bagi anak. Perkembangan populasi dan peradaban manusia membuat ruang kosong semakin terbatas. Banyak rumah bahkan sekolah tidak memiliki halaman sehingga aktivitas anak lebih banyak terkonsentrasi dalam ruangan.

Sebagai orang tua, kita hendaknya pandai menyiasati keterbatasan. Kita perlu menyediakan fasilitas untuk berekspresi. Tidak harus muluk, bermain dan bernyanyi bersama saja sangat berharga bagi perkembangan sosial mereka. Lebih jauh, orang tua dapat mengikutkan anak kegiatan nonakademik sesuai minat.

Bangun kesetaraan

Sebagai orang tua kita sering tanpa sadar menciptakan kesenjangan di antara anak-anak. Kondisi ini memberi pengaruh atas perkembangan karakter mereka.

Agar tidak menjadi demikian, orang tua perlu mencermati peran dan perkembangan tiap anak. Berlaku sama atas semua hal merupakan tindakan yang mungkin mustahil mengingat usia dan perkembangan yang berbeda.Hal yang dapat diperbuat adalah memberi pemahaman atas kriteria tertentu.

Misalnya dalam pembagian kerja, kesetaraan dapat berwujud pemberian tanggung jawab sesuai perkembangannya. Lebih dari itu, juga tanamkan kebiasaan tolong-menolong di antara anak. Jika ada anak yang belum selesai dengan tugasnya, anak lain yang telah selesai siap membantu, demikian pula sebaliknya.

Ajarkan berbagi

Tiap orang tua punya definisi sendiri atas kata sayang. Oleh karena perbedaan itu, ekspresi rasa sayang pun beragam. Bahkan, ada orang tua yang menunjukkan rasa sayangnya dengan menciptakan eksklusivitas. Orang lain tidak diperkenankan mengakses milik anak.

Hal yang perlu disadari, keegoisan seseorang itu dibangun sejak anak. Karakter dibentuk sejak kecil, bahkan sejak sebelum mereka mengetahui benar-salah dan baik-buruk. Oleh karena itu, mengajarkan anak berbagi sejak dini merupakan proses pembangunan karakter. Menciptakan eksklusivitas dapat menyebabkan anak menjadi sulit berbagi.

Batasi gawai elektronik

Pergaulan berangkat dari kebutuhan. Secara alamiah anak-anak akan bergaul. Penggunaan gawai elektronik bernama televisi dan gadget secara berlebihan dipandang bisa menciptakan suasana, di mana anak merasa tidak membutuhkan hal lain. Dia asyik dengan peralatannya sehingga enggan bersosialisasi. Hal ini, jika berlangsung dalam waktu lama, akan berdampak buruk bagi anak.

Perbanyak aktivitas fisik

Interaksi anak dengan sesamanya niscaya melibatkan aktivitas fisik. Mustahil anak ngobrol berjam-jam layaknya orang dewasa.

Obrolan anak akan diselingi aktivitas kejar-kejaran, hingga main ini dan itu. Agar dapat beraktivitas fisik, tubuh anak harus sehat.

Mens sana in corpore sano, ungkapan penyair Romawi Juvenal, yang telah menjadi semboyan olahraga di seluruh dunia menunjukkan adanya hubungan kental antara fisik dengan mental. Hal ini menunjukkan bahwa keceriaan, semangat, dan keaktifan anak sangat didukung oleh pemeliharaan kesehatan fisik.


Ajarkan etika bergaul

Meski mendorong anak bergaul, bukan berarti membiarkannya lepas kendali. Orang tua perlu mengedukasi anak perihal hak dan kewajiban, tentang waktu, tanggung jawab, sehingga mereka tahu cara mengakses milik orang lain. Anak juga tahu kapan harus mengakhiri permainan dan pulang ke rumah. Etika tersebut sebaiknya disampaikan secara alamiah dan situasional.

Jangan terlalu protektif

Beberapa waktu silam, administrator Facebook Yayasan Ar Raihan memposting tulisan yang isinya membandingkan perlakuan orang tua terhadap perhiasan dan anak sendiri. Sebagian orang tua tidak pernah merelakan perhiasannya dititipkan kepada semua orang, kepada asisten rumah tangga misalnya. Seringkali, orang tua lebih mudah menitipkan anaknya sendiri yang konon paling disayang.

Refleksi dari cerita tersebut adalah bahwa anak tidak sama dengan perhiasan. Jika perhiasan harus disimpan di lemari besi, anak sebaliknya. Mereka hendaknya dibiarkan bergaul, dibiarkan mengenal manis, asin, bahkan pahitnya
kehidupan. Hal itu ditujukan agar pada saatnya kelak mereka mandiri dan siap menghadapi berbagai tantangan. []

Hari Ibu itu Berawal dari 22 Desember 2004

Aman 12/22/2015
Kue dan gambar persembahan Ayyas, Arin, dan Izzi.
Sabjan Badio
Blogger, Editor Wikipedia Bahasa Indonesia

Kata orang hari ini adalah Hari Ibu, di mana semua orang berlomba menunjukkan rasa cintanya, entah secara langsung entah sekadar ucapan klise di media sosial.

Kata orang, Hari Ibu ini bermula tindakan Anna Jarvis dari Grafton, West Virginia, yang memperingati kematian ibunya pada 1908. Dari peristiwa tersebut, publik Amerika Serikat menginginkan tanggal 22 Desember sebagai hari libur nasional. Pada tahun 1908 Kongres Amerika Serikat menolak "proposal" itu. Tahun 1911, seluruh negara bagian di Negeri Paman Sam itu memutuskan untuk menjadikan tanggal 22 Desember sebagai hari libur. Tahun 1914 Presiden Amerika Serikat Woodrow Wilson menetapkan tanggal 22 Desember sebagai hari libur nasional. Setidaknya demikianlah yang dituangkan oleh teman-teman penyunting Wikipedia Bahasa Indonesia (WBI).

Berdasarkan informasi yang dipetik dari Kompas Online, peringatan Hari Ibu tanggal 22 Desember terkait Kongres Perempuan Indonesia Indonesia pertama kali, yaitu 22 Desember 1928. Dalam kongres itu, perempuan-perempuan pejuang dari 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan. Kongres itu memutuskan pendirian Perikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia (PPPI). Sayang, tahun 1929 PPPI berubah menjadi Perikatan Perkoempoelan Istri Indonesia (PPII).

Kongres Perempuan Indonesia II dilaksanakan pada tahun 1935. Sementara itu, Kongres Perempuan Indonesia III dilaksanakan tahun 1938. Pada kongres ketiga inilah dilakukan penetepan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu. Masih berdasarkan catatan Kompas, regulasi Hari Ibu baru ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1959. Saat ini, Kongres Perempuan Indonesia telah berubah nama menjadi Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Masih berdasarkan informasi tersebut, hanya kebetulan peringatan Hari Ibu di Indonesia jatuh pada tanggal yang sama dengan tanggal peringatan Hari Ibu di Amerika Serikat. Sebuah kebetulan pula jika hari ini, 22 Desember 2015 anak-anakku menghilang selama setengah hari untuk mempersiapkan perayaan 22 Desember.

22 Desember 2004

Sebelas tahun lalu, tanggalnya sama dengan tanggal hari ini, aku meminang seorang perempuan Jawa yang tinggal di Kecamatan Bantul, Siska Yuniati. Tanggal itulah yang yang menjadi mula banyak hal yang ada pada hari ini. Rupa-rupanya anak-anakku yang masih kecil-kecil itu mengetahui perihal ini.

Pagi tadi, mereka sibuk mempersiapkan segala sesuatu, membeli kertas asturo, dan minta izin berpergian diantar seorang tetangga. Ah, siapa sih yang tidak bisa menebak perilaku mereka? Setidaknya itulah yang kupikirkan pagi tadi.

Rupa-rupanya aku salah, aku tidak lagi bisa menebak pikiran lurus mereka. Kejutan datang, mereka membeli kue spesial yang harganya berkali-kali lipat dari uang jajan mereka. Terlebih lagi, mereka menggambari kertas asturo yang mereka beli dengan gambarku beserta istri.

Itulah persembahan spesial untuk ibu dari anak-anakku hari ini: anak-anak yang mempersembahkan kue dan gambar spesial untuk ibu mereka yang sedang menggendong bayi.

Selamat merayakan 22 Desember. :)

Tukang Roti yang Politikus

Aman 12/07/2015
KEMARIN Minggu (6/12/2015) saya mengantar anak perempuan saya ujian kenaikan tingkat Tek Kwon Do di Gedung Gapensi Bantul. Berangkat pagi tanpa sarapan pagi merupakan siksaan bagi saya yang tidak tahan lapar. Terlebih lagi, ternyata di sekitar gedung tidak ada orang jualan sarapan pagi. Adanya bakso tusuk dan siomay versi anak-anak. Bertambah-tambah pula, tempat duduk tidak ada. Lengkap sudah pikirku.

Kira-kira pukul sepuluh, seorang tukang roti yang menjajakan roti merk terkenal masuk. Rupa-rupanya dia baru tahu kalau ada keramaian. Oleh karena itu, dia datangnya kesiangan. Sama-sama punya kepentingan; saya butuh menghilangkan jenuh, Pak Roti juga butuh teman ngobrol.

Tak kusangka, ternyata obrolan kami sampai ke satu tema, trading forex. Wow, pikirku. Aku yang blogger ini memang sering melihat iklan forex-forex-an di internet. Namun, sampai sebelum bertemu Pak Roti, aku tak kunjung ngerti apa itu forex.

Dengan menggebu-gebu dia menjelaskan, bermain forex itu mengasikkan. Bahkan, menurut penuturannya, dia adalah salah seorang "pelatih" perdagangan forex. Biasanya orang yang dilatih berhasil. Biasanya pula, mereka membayar 500 sampai 1 juta rupiah. Selama masa pelatihan, dia akan membantu anak didiknya. Ketika masa pelatihan selesai, si anak didik akan dilepas. Otomatis, setelah dilepas semua risiko ditanggung sendiri sebagai sorang yang mandiri.

"Bermain forex itu gampang," ujarnya dengan penuh keyakinan. "Kalau kita main, menang, teruskan beberapa saat. Tapi jangan rakus, jangan terlalu bernapsu. Jika sudah mendapatkan kemenangan, segeralah berhenti. Tidak mungkin kita menang terus. Jika kita main terus, dapat dipastikan, kita akan mendapati kekalahan," jelasnya.

Pak Roti mengatakan, jika ingin bermain lagi, esok hari. "Jika kalah, langsung hentikan. Jika menang, ya tunggu beberapa saat dan berhenti. Kemudian, lanjutkan esok hari."

Satu kata yang kupikirkan kemudian: JUDI. Benarkah? Entahlah, bukan itu fokus tulisan saya kali ini. Saya ingin menulis tentang Pak Roti yang politikus.

Politik Pak Roti

Pembicaraan kami meloncat ke sana ke mari, mulai tentang gerobak sampai tentang pasar. Mulai tentang negosiasi sampai kecaman. Begini kisahnya.

Soal gerobak, menurutnya gerobak yang digunakannya dipinjami oleh  perusahaan. Beberapa tahun sekali gerobak itu diganti yang baru. Menurutnya, gerobak baru itu tidak enak, enaknya setelah beberapa bulan. Lagi pula, katanya, itu bukan gerobak benar-benar baru, "Masa gerobak baru las-lasannyA seperti itu," keluh Pak Roti.

Kendati mendapat gerobak secara gratis, menurutnya dia bertanggung jawab penuh atas keamanan gerobak. "Memang, kalau rusak bisa minta perbaikan gratis. Kalau hilang? Saya diminta mengganti empat juta," jelasnya.

Dari gerobak pindak ke pembicaraan tentang pasar. Pak Rotin mengeluhkan perjalanannya keliling kampung. Masyarakat terbiasa menawar, rotinya yang sudah dipatok harga pas itu tidak bisa ditawar. Jadilah Pak Roti mogok ngampung.

Bicara tentang kota, Pak Roti juga mengeluhkan sebuah lembaga pendidikan yang tidak mengizinkan anak didiknya jajan.

"Masa jajan tidak boleh? Itu hak asasi," katanya menggebu. "Nanti kalau ada undang-undang, kena mereka."

Aku berkerut mendengar penjelasannya. Belum seberapa, lebih berkerut lagi ketika mendengar penjelasan lanjutannya.

"Tindakan itu merugikan banyak orang. Kami, para pedang rugi. Kami punya hak berdagang. Mereka tidak punya hak menghalangi pasar kami," katanya meninggi.

Wah, ini, pikirku. Seperti para wakil rakyat itu. Wakil rakyat yang  politikus itu. Mereka yang selalu bicara baik-buruk, untung-rugi, benar-salah, dari sudut pandang diri sendiri. Tidak peduli soaln pendidikan. Tidak peduli jika sekolah yang dimaksudnya sedang mendidik para siswanya untuk terbiasa jajan.

"Kecuali," lanjut Pak Roti, "kami menjual racun. Buktinya, kan tidak? Tidak ada yang keracunan. Jika ada yang keracunan, bolehlah sekolah melarang kami berjualan dengan alasan dagangan kami berbahaya," lanjutnya panjang lebar.

Aku mencoba menengahi. "Bisa jadi sekolahnya itu sedang mendidik anak didiknya untuk tidak jajan sembarangan," ungkapku.

Bisa jadi. Ada positif-negatifnya. TAPI, bla... bla.... bla....

Persis, pikirku. Persis para wakil rakyat kita. Mungkin suatu saat Pak Roti ini akan menjagokan diri menjadi wakil rakyat. Kita lihat saja.

-- Sabjan Badio, Blogger Jogja

Apa arti katebelece?

Aman 11/18/2015
Ini katebelece yang bikin heboh itu.
Sumber: metrotvnews.com

Sabjan Badio, blogger dari Yogyakarta

ABASRIN.com--Pernah mendengar kata katebelece? Pernah dong, ketua DPR kita telah "mengenalkan" kata tersebut. Berkat kasus katebelece Pak Ketua itu, rakyat Indonesia jadi begitu familiar dengan kata itu.

Kalau saya, sih, baru mengenalnya hari ini. Habis, jarang menonton televisi. Membaca koran pun sekali-sekali saja. Nah, hari ini, saat membaca kasus-kasus yang membelit Pak Ketua DPR kita menggunakan gawai elektronik, sampailah saya pada si katebelece.

Iseng-iseng saya survei ke teman-teman. ternyata, mereka senasib dengan saya, tidak tahu pula perihal si katebelece. Bahkan, ada yang mengira kata itu masih berkerabat dengan kate loe aje. Kalau saya sendiri, mengiranya semacam "apel malang"-nya Angelina Sondakh atau woles-nya anak-anak muda sekarang.

Mencoba browsing lewat Om Google, ternyata ada pula yang kepo kayak saya. Di Yahoo Answers sudah ada yang menanyakannya dan sudah dijawab dengan baik enam tahun lalu oleh pemilik akun Yahoo, Jusdan. Berarti pertanyaan ini tidak ada hubungannya dengan Pak Ketua. Pertanyaan itu ditulis anak SMEA yang sedang mengerjakan tugas, kali ya? Begini jawabannya si Jusdan.

Katabelece berasal dari bahasa Belanda: "kattabelletje" yg kemudian dibahasa Indonesiakan menjadi "katabelece" yang arti sebenarnya (semula) "kata peringatan". Dalam pengertian saat ini katabelece merupakan surat atau nota dari pejabat kepada bawahan yg meminta agar apa yg tercantum dalam surat tsb diperhatikan/dilaksanakan (surat sakti)

Karena itu tidak heran apabila Drs.Kartiman dari UGM pernah mengusulkan agar tulisan atau ejaan jangan "katabelece", akan tetapi "katebeletje", karena menurut aslinya istilah kattebelletje itu berasal dari "kat (kucing)" dan "bel (klintingan)".

Dari istilah asli di atas digambarkan bahwa:
Seekor tikus akan menggigil ketakutan, jika tiba-tiba mendengar bunyi klintingan kucing. Begitu pula seorang bawahan merasa takut sewaktu menerima suatu "surat sakti" dari atasannya atau tokoh yang berwibawa.

Oleh karenya agar ia selamat dari akibat-akibat yang tak diinginkannya, imbauan yang tertera dalam surat sakti tadi dipenuhi segera. Siapa tahu dengan melaksanakan apa yg tercantum dalam surat sakti tsb nasibnya akan lebih baik lagi.
Sumber:
apakabar@access.digex.net

Ternyata tidak ada hubungannya dengan apa kate loe aja. Hehe. Dengan apel malang? Bagaimana ya, mau bilang, takut kena kasus. Hal yang jelas, kata katebelece ternyata ada di Kamus Bahasa Besar Indonesia milik Badan Bahasa. Artinya sebagai berikut.

ka·te·be·le·ce /katebĂ©lece/ n 1 surat pendek untuk memberitakan hal seperlunya saja; 2 surat pengantar dr pejabat untuk urusan tertentu

Oh, ya, di atas saya menyebut anak SMEA. Bukan maksud hati untuk rasis. Nyatanya demikian. Istri saya yang pernah kuliah di SMEA jurusan akuntansi ternyata mengerti kata itu. Menurutnya, di sekolahnya, biasa menyebut katebelece. Wah!

Bagaimana? Pengen punya katebelece, tidak?

Pendidikan Kebencanaan

Aman 11/15/2015
Sabjan Badio

Sejak menetap di Bantul Desember 2004, pertanyaan yang jamak saya terima adalah tentang asal dan pekerjaan. Setiap saya menyebut nama Bengkulu, respons pertama yang saya terima adalah tentang gempa. Kena gempa, tidak? Waktu gempa kemarin bagaimana? Bengkulu itu sering gempa, ya? adalah di antara pertanyaan yang kerap saya dapati. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan biasanya saya jawab dengan baik, kecuali satu pertanyaan, yaitu pertanyaan “Bengkulu itu di mana, ya?”

Sekali-sekali saya berusaha menjelaskan kondisi geografi Bengkulu yang menyebabkan daerah tersebut sering dilanda gempa. “Jalur gempa” adalah materi yang sering menjadi fokus perhatian. Biasanya, pertama kali mendengarkan istilah tersebut, warga lantas tertawa geli. Mungkin mereka mengasosiasikannya dengan jalur angkutan umum, di mana ketika itu bus kota, angkot, angkudes, dan AKDP masih berjaya.

Hal itu lantas membuat saya membatin, betapa nyamannya hidup di Bantul, tidak ada gempa, tidak ada tsunami, tidak ada banjir, tidak ada pula letusan gunung berapi. Seorang mantan anggota legislatif yang tinggal di daerah Kasongan pun sempat berbangga diri dengan mengatakan bahwa tempat tinggalnya sangat aman, jauh dari gunung, jauh pula dari laut, jauh dari berbagai potensi bencana.

Juli 2006, gempa bumi melanda Bantul dengan kekuatan 5,9 skala Richter, memporak-porandakan persepsi masyarakat tentang bencana. Dengan jarak pusat gempa yang berbeda, saya merasakan goncangan serupa dengan gempa 7,2 skala Richter di Bengkulu tahun 2000. Kendati merasakan goncangan serupa, saya mendapati dampak berbeda. Jika di Bengkulu dengan angka kerusakan 46,532 bangunan, warga yang meninggal “hanya” 94 orang, di Bantul, jumlah kerusakan mencapai 199.990 bangunan (rusak berat, ringan, dan sedang) dengan warga meninggal hingga 6.234 orang—data lain menunjukkan angka 5,778. Jika di Bengkulu selepas gempa saya dapat kembali tidur nyenyak di rumah, di Bantul terpaksa berkemah berhari-hari.

Memang, menyamakan gempa Bengkulu dengan gempa Bantul mungkin bagi sebagian orang dianggap tidak bijak. Sejalan dengan pertimbangan tersebut, uraian ini tidak bermaksud membanding-bandingkan sesuatu yang mungkin tak pantas dibandingkan. Hal yang menjadi poin di sini adalah pemikiran kritis tentang perbedaan dampak antara gempa di Bengkulu dengan gempa di Bantul.

Menurut para ahli, letak pusat gempa dan kondisi geologi suatu daerah sangat berpengaruh terhadap dampak yang ditimbulkan. Faktor lain di luar kondisi geografis adalah kepadatan penduduk dan struktur bangunan. Tentu saja, saya tidak dapat berbicara banyak tentang aspek geografis ini. Mitigasi dari sudut pandang ini niscaya menuntut terjadinya migrasi besar-besaran. Hal yang menjadi fokus di sini adalah faktor kepadatan penduduk dan struktur bangunan.

Beberapa data menunjukkan, bangunan di Kabupaten Bantul ketika gempa 2006 terjadi didominasi oleh bangunan tak tahan gempa. Perpaduan kepadatan penduduk dengan rumah-rumah yang tidak tahan gempa mengakibatkan banyaknya korban yang ditimbulkan. Kondisi ini terlihat berbeda dengan fakta di Bengkulu di mana rumahnya dibangun sedikit-banyak berdasarkan sebuah “kesadarbencanaan”. Kesadaran yang dibangun dari pengalaman menghadapi tingginya frekuensi gempa bumi di daerah tersebut—data Jurnal Berkala Fisika Undip menunjukkan bahwa dalam rantang 2005-2009 terjadi setidaknya 155 gempa bumi kategori gempa terasa di Bengkulu. Jadi, bukan tanpa alasan rumah penduduk di kampung-kampung berstrukturkan kayu dan seng.

Pasca-tersentak oleh goncangan dan dampak gempa 2006 yang diikuti oleh terpaan abu Merapi dan abu Kelud, kesadarbencanaan pun masuk ke relung pemikiran warga Bantul dan sekitarnya. Kesadaran mahal yang dibangun oleh harta dan nyawa teman dan kerabat. Kesadaran kolektif yang sejatinya dapat ditempuh dengan jalan pintas berbiaya murah bernama pendidikan kebencanaan.

Pembentukan Sekolah Siaga Bencana

Simulasi penanganan korban gempa di Bantul (30/11/2013).
Patut diapresiasi, kendati bersifat reaktif, pasca-gempa besar 2006 berbagai elemen masyarakat Bantul berusaha berbenah sesuai kapasitasnya masing-masing. Kita saksikan bangunan dibuat lebih kukuh, simulasi tanggap bencana digelar di mana-mana, early warning system dikaji dan dikembangkan, proyek percontohan Sekolah Siaga Bencana (SSB) pun dibentuk. Terkait SSB tersebut, hingga tulisan ini dibuat, pemerintah telah menetapkan setidaknya empat Sekolah Siaga Bencana (SSB) di Kabupaten Bantul. Keempat sekolah tersebut adalah SD Parangtritis, SMP 2 Imogiri, SMA Kretek, dan terakhir SDIT Ar Raihan.

Dibentuknya Sekolah Siaga Bencana ini, menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membangun masyarakat Bantul yang sadar bencana. Hal ini sekaligus menunjukkan kesadaran masyarakat Bantul atas strategisnya peran pendidikan dalam membangun kehidupan. Sejalan dengan ungkapan Nelson Mandela, bahwa pendidikan merupakan senjata terampuh untuk mengubah dunia, dalam konteks ini mengubah dan membangun masyarakat Bantul yang sadar bencana.

Sedikit kekhawatiran atas program ini adalah kebiasaan masyarakat yang “hangat-hangat tahi ayam” dalam menghadapi berbagai persoalan, ‘heboh sesaat’. Sekolah Siaga Bencana sejatinya tidak dibentuk secara seremonial demi pelabelan semata. Sekolah-sekolah pilot project tersebut sepantasnya berada di garda depan pendidikan kebencanaan—setidaknya—di Kabupaten Bantul. Sekolah-sekolah percontohan SSB sejatinya dapat menjadi pusat informasi kebencanaan, menjadi mitra berbagai elemen masyarakat yang ingin mendapatkan informasi atau akses lebih jauh tentang kebencanaan, dan yang utama adalah menjadi pusat pengembangan kurikulum pendidikan kebencanaan. []
Penulis adalah alumni program ToT Pengintegrasian Penanggulangan Risiko Bencana ke dalam Kurikulum yang diselenggarakan oleh Puskur Kemdikbud RI dan yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Yogyakarta. Tulisan ini dipublikasikan pertama kali di buletin Pelangi edisi No. 8, Agustus 2015.

Belajar Memembuat Video Promosi Madrasah di Studio Komunikasi UPN Jogja

Aman 10/26/2015
Tim Relasi Madrasah memasuki sesi workshop pembuatan video. Berurusan dengan materi yang satu ini, saya yakin belum ada madrasah yang memiliki cukup bekal alias punya kamera besar-besar seperti untuk shooting di televisi atau film itu.

Beruntung narasumber kami Subhan Afifi dan Senja Yustitia berbaik hati meminjamkan Laboratorium Publik Relasi dan Laboratorium Prodi Ilmu Komunikasi UPN Jogja. Jadilah kami berworkshop ria di Kampus UPN Babarsari (20-21/10).


Seperti pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, Pak Subhan memberikan motivasi bagi Tim Media Relasi Madrasah untuk terus memperkuat branding madrasah. Pak Subhan berpesan bahwa sekecil apa pun bisa menjadi berita, dan tidak kalah penting adalah menumbuhkan media kreatif. Kalau selama ini publikasi lewat tulisan, maka tidak kalah menarik jika publikasi dilakukan melalui tayangan video.

Pada sesi berikutnya giliran Mbak Senja menyampaikan materi ide kreatif dalam media relations. Dari catatan yang saya tulis, Mbak Senja mengungkapkan bahwa ide kreatif bisa digali dari  sesuatu yang baru, bertanya, memperbaiki ide orang lain, saling mengaitkan banyak hal, belajar ide dari kesalahan, serta mengikatkan ide dengan tulisan. Kalau kita ingin dikenal orang, maka kita perlu memperluas jaringan dengan siapa pun. Di samping itu, perlu memperbanyak dan mempermudah informasi tentang kita.

Sampai di sini kami benar-benar terpompa untuk segera beraksi memproduksi sebuah tayangan untuk branding madrasah. Terlebih setelah Mas Panji Dwi menguraikan teknik-teknik pembuatan video, yang katanya itu adalah materi yang seharusnya beliau sampaikan untuk satu semester. Kami jadi paham bahwa dalam pembuatan video hendaknya memperhatiakan camera angle, continuity, close up, composisi dan  cutting.

Pada hari kedua kami akhirnya praktik membuat tayangan dengan tema mengenalkan madrasah kepada masyarakat. Seluruh peserta dibagi menjadi lima kelompok. Satu kelompok beranggotakan 6-7 orang. Di sinilah kreativitas, kekompakan, kepercayaan diri kami diuji. Dalam tim yang terbatas, kami berusaha bekerja semaksimal mungkin. Seluruh peralatan disediakan oleh Prodi Komunikasi UPN. Kami juga didampingi oleh mahasiswa jurusan komunikasi UPN, sehingga kami dapat bertanya jika mengalami kesulitan dalam penggunaan alat maupun mengoperasikan program editing.

Bergaya di belakang kamera.

Serasa bekerja di balik layar shooting sinetron stripping. Seharian kami menjalani aktivitas sesuai jobnya. Ada yang berperan sebagai sutradara, kameraman, scriptwriter, narator, editor, serta talent. Tak terasa, sore menjelang, dan karya-karya kami dikumpulkan serta ditayangkan untuk disaksikan beramai-ramai.

Meriahnya menyaksikan hasil karya sendiri. Gelak tawa, rasa malu, bercampur aduk ditimbrungi sorak tatkala adegan menjadi lucu. Perjuangan kami mendapat apresiasi dari Pak Imam Khoiri pengaggas Tim Media Relasi Madrasah maupun dari Tim UPN. Penilaian pun dilakukan. Setelah dilakukan penjurian, kelompok Ibu Nur Khasanah Rahmawati menjadi tim terbaik untuk kekompakan dan video terbaik. Sementara untuk kategori ide terbaik diraih oleh kelompok Ibu Heni.

Di akhir pertemuan itu juga diumumkan anggota Tim Media Relasi sebagai penulis berita produktif. Ibu Lilis dari MTs Yogyakarta 1 sebagai juara I. Juara II dan III diraih Ibu Inung dari MAN I Wates serta Ibu Eli dari MTs Sumberagung. Kendati hadiah hanya berupa snack, tidak mengurangi kegembiraan para juara.

Akhirnya acara usai, meninggalkan kesan yang mendalam. Seperti yang diungkapkan oleh Pak Soklis yang mewakili peserta, bahwa jangan berhenti sampai di sini. Diharapkan ada pelatihan lagi dan lagi.

Pukul setengah tujuh malam saya sampai di rumah. Rasa penat baru saya rasakan. Akan tetapi, keluhan tidak jadi saya lontarkan setelah membaca komentar teman-teman Media Relasi di grup WA. Salah satunya "Baru rehat menikmati bakmi godog di Wonosari, masih 30 km lagi untuk sampai rumah." Sungguh perjuangan yang luar biasa. []

Siska Yuniati
MTs Negeri Giriloyo