Siapa sebenarnya penulis cerita Mukidi?

Sabtu, 27 Agustus 2016

Soetantyo, penulis Cerita Mukidi
Foto: Facebook Soetantyo Moechlas
ABASRIN.com--Siapa sih sosok Mukidi? Siapa penulisnya? Dua pertanyaan itu mungkin sering muncul di benak para pengguna media sosial saat ini. Bagaimana tidak, kisa tentang Mukidi berseliweran dan senantiasa mengundang senyum dan tawa.
Sisa Sahur
Pak Mukidi sahur tadi pagi makan nasi goreng ya?
Nggak, saya ikut sunnah rasul sahur roti pakai madu
Loh koq ada sisa cabe di gigi sampeyan?
Oh ini sisa sahur kemaren.
Itu adalah kisah tertua tentang Mukidi yang dapat saya temukan. Kisah tersebut ditulis oleh Soetantyo pada blog Wordpressnya yang bertajuk Cerita Mukidi dengan tanggal posting 7 Agustus 2012.

Berdasarkan penuturan Soetantyo kepada wartawan Solopos.com, cerita Mukidi pada awalnya sedikit vulgar. Seiring dengan semakin banyaknya penggemar cerita Mukidi, dirinya mengakui semakin mengurangi kevulgarannya.

Benar saja, cerita vulgar pertama tentang Mukidi tercatat (juga) ditulis 7 Agustus 2012 dengan judul "The Club". Dalam cerita ini, dikisahkan Mukidi yang berusia 62 tahun mengunjungi kelab ekslusif nudis. Tidak perlu dilanjutkan, ya. Bisa ditebak arahnya ke mana.

Tidak semuanya orisinal

Seperti diberitakan oleh Solopos.com, cerita Mukidi sesungguhnya tidak semuanya orisinal.

“Cerita lucunya itu memang ada yang asal ngarang, namun ada pula yang berasal dari luar,” ungkap Soetantyo.

Bahkan, menurut Soetantyo, nama Mukidi sesungguhnya sudah populer sejak tahun 1980-an karena pernah digunakan dalam salah satu film Warkop.

Soetantyo juga mengakui bahwa cerita yang ditulisnya terinspirasi dari cerita tentang keluarga besar dan sahabat-sahabatnya. Oleh karena itu, banyak nama menggunakan nama Banyumasan.

Mukidi sendiri digambarkan oleh Soetantyo sebagai sosok pria dengan istri bernama Markonah. Pasangan ini memiliki anak Mukirin dan Mukiran. Mukdi juga punya sahabat, bernama Wakijan. Nama-nama itulah yang sering nongol di cerita Mukidi.

Lalu, siapa Soetantyo

Soetantyo--nama lengkapnya Soetantyo Moechlas--yang biasa dipanggil Pak Yoyo atau Pak Tantyo merupakan pensiunan sebuah perusahaan farmasi di Jakarta, Boehringer Ingelheim. Berdasarkan informasi dari Solopos.com, Soetantyo juga merupakan seorang trainer. Mungkin profesi inilah yang menuntut Pak Yoyo untuk selalu menyajikan cerita lucu: untuk menyegarkan suasana.

Soetantyo dilahirkan 7 Februari 1954. Melihat angka ini, pembaca mungkin bisa membayangkan, tokoh Mukidi--keseluruhan atau sebagian--sesungguhnya bisa jadi menggambarkan Pak Yoyo sendiri. Iya, enggak?

Di Facebooknya, Pak Yoyo menjelaskan bahwa dirinya berasal dari Purwokerto. Saat ini, dia mengaku tinggal di Jawa Barat, tepatnya Kota Bekasi.
Soetantyo (tengah) berfoto bersama penggemarnya.
Foto: Facebook Anto Sutrisno
Pernah terbit dalam bentuk buku dan ditawar untuk difilmkan

Siapa sangka, cerita Mukidi sesungguhnya sudah terbit secara indie sebelum blog Cerita Mukidi dilahirkan. Di wall Facebook Soetantyo Moechlas, tercatat tanggal 7 Februari 2012 Pak Yoyo sudah mempromosikan seri ketiga serial Laskar Pelawak dengan judul Balada Mukidi dan Wakijan. Melihat ramainya cerita Mukidi saat ini, siap-siap nih, bisa jadi dalam waktu dekat diterbitkan ulang oleh penerbit mayor.

Masih di tahun 2012, dikabarkan Deddy Mizwar dan sutradara Titien Wattimena menawarkan kepada Pak Yoyo untuk menulis cerita Mukidi yang lebih panjang untuk dijadikan film. Tapi, Pak Yoyo tidak berhasil menyelesaikan tantangan tersebut. Jadi, pembuatan film pun gagal. Nah, di tahun 2016 ini, Pak Yoyo dikabarkan kembali membuka peluang untuk bekerja sama dengan produser film. Ada yang tertarik?

Itu saja yang dapat saya kumpulkan. Sudah deadline pekerjaan nih. :)

Sabjan Badio, Blogger Jogja



8/27/2016