Tulis Teenlit, Tak Perlu Berbahasa Alay, Gunakan Bahasa yang Baik dan Benar

Kamis, 16 November 2017

Raw Pixel/CNN Indonesia
Jakarta, Abasrin.com -- Menulis novel teenlit (novel remaja) itu tidak harus dengan bahasa alay khas anak remaja sekarang. Novel harus ditulis dalam bahasa Indonesia sesuai ejaan yang berlaku. Jika saat ini yang berlaku EBI, maka itulah yang semestinya digunakan.

Hal tersebut disampaikan Wiwien Wintarto dalam diskusi penulisan novel bersama guru-guru anggota Asosiasi Guru Madrasah Penulis Indonesia (Agumapi), Sabtu (15/10). Pada diskusi online tersebut, Wiwien dipandu Siska Yuniati, Ketua Umum Agumapi.

Kemunculan bahasa-bahasa alay bisa saja terjadi, yaitu pada komunikasi antartokoh, misalnya obrolan, SMS, atau komunikasi lain yang terjalin.

Hanya saja, menurut penulis 22 novel teenlit itu, kehadiran dialog dominan pada novel teenlit. Dengan dominannya dialog, secara otomatis, bisa saja bahasa-bahasa alay itu banyak muncul.

Hal tersulit dapat menulis menurut Wiwien adalah saat memulai. Selain perihal memulai, menentukan tema dan alur juga tidak mudah.

Agar dapat segera memulai, Wiwien menyarankan untuk tidak terbebani oleh ide-ide cemerlang atau luar biasa. Bisa jadi kita melahirkan ide megah nan inspiratif, tetapi jika penulis fokus memikirkan hal itu, tulisannya bisa jadi justru tidak pernah selesai.

Setelah mendapatkan ide, namun masih juga belum bisa memulai, Wiwien menyarankan untuk memulainya dengan hal sepele pada bab awal. Misalnya, tentang adegan seseorang yang bangun, memeriksa ponsel, mandi, menuju meja makan, sarapan bersama sekaligus mengenalkan tokoh-tokoh lain.

Bagian ini hanya mengantarkan saja ke bab-bab lain. Setelah cerita selesai, bab awal ini bisa direvisi atau diganti untuk disesuaikan dengan cerita yang telah dibangun atau untuk disesuaikan bahasanya hingga tampil lebih menarik.

Jadi, menurut Wiwien, bab pertama itu bisa jadi selesai paling akhir. Hal ini berlaku juga dengan judul. Wiwien mengaku, dari novel-novel yang ditulisnya, hanya satu yang judulnya dibuat terlebih dahulu. Rata-rata judul tulisan Wiwien ditentukan paling akhir.

Diskusi yang diikuti anggota Agumapi dari seluruh Indonesia itu berlangsung hangat. Beberapa pertanyaan muncul dari peserta, di antaranya tentang cara menembus penerbit yang diajukan Noor Sofi, guru MTs Negeri 9 Bantul.

Menurut pengalaman Wiwien, menembus penerbit memang bukan persoalan mudah. Kendati demikian, Wiwien menyampaikan dua tips khusus. Pertama, penulis harus menjalin hubungan dengan penerbit. Saat penulis menyelesaikan karyanya, tulisan tersebut dikirim ke relasi yang sudah dikenal.

Hal lain yang dapat dilakukan agar lebih mudah menembus penerbit menurut Wiwien adalah menulis novel-novel yang memang sedang banyak diproduksi oleh penerbit yang akan dibidik. Penerbit membutuhkan naskah yang bisa dijual. Novel standar yang potensi pembaca besar berpeluang lebih banyak diterima dibandingkan novel dengan kualitas tinggi namun target pembacanya sangat kecil. Jadi, untuk persoalan ini, pertanyaannya, apa yang sedang dan/atau laku dijual?

Selain Noor Sofi, beberapa guru lain juga menyampaikan pertanyaan-pertanyaannya. Diskusi berlangsung selama dua jam, dari pukul 17.30 sampai dengan 21.30 WIB. Di penghujung acara, Wiwien menyelipkan kata-kata penyemangat bagi Anggota Agumapi.

Seseorang yang rajin menulis, mentalnya akan sehat. Menulis bagi psikis seseorang ibarat tubuh yang berolahraga fisik. (Sabjan Badio/ded/ded/CNN Indonesia)



11/16/2017