Mengenal Prof. Dr. Marsigit, M.A., Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta

Senin, 25 Juni 2018

Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Abasrin.com--Marsigit dilahirkan di Kebumen, Jawa Tengah, tanggal 19 Juli 1957. Ketika kecil, tak terbayangkan di benaknya untuk menjadi seorang dosen, guru besar, apalagi menjadi orang nomor satu di Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta. Ketika menempuh pendidikan menengah, Marsigit hijrah ke Daerah Istimewa Yogyakarta. Saat duduk di bangku sekolah itu, Marsigit aktif membaca majalah bahasa Inggris. Ternyata hal ini berperan besar pada kariernya sebagai seorang dosen.

Dengan kemampuan bahasa Inggris yang dimilikinya, Marsigit dapat melanjutkan pendidikan ke Universitas London. Dari universitas inilah Marsigit mendapatkan gelar master of arts dalam bidang pendidikan dasar konsentrasi matematika. Di sini pula Marsigit belajar banyak tentang paradigma pendidikan. Dia juga menyadari, bahwa sebuah pembelajaran semestinya berorientasi atau berpusat kepada peserta didik, bukan kepada guru.

Selama ini, dia melihat, pembelajaran di sekolah lebih banyak sebatas mentransfer ilmu pengetahuan. Semestinya, menurut Marsigit, pembelajaran di sekolah itu sampai kepada untuk kepentingan membangun kehidupan. Marsigit pun menyimpulkan bahwa pembelajara selama ini sesungguhnya merupakan bentuk ego atau kepentingan orang dewasa.

Sepulang dari Inggris tahun 1991, ayah dua anak ini mulai mengubah cara mengajarnya. Dirinya pun lebih akrab dengan teknologi informasi. Para mahasiswa dapat dengan mudah berinteraksi dengannya. Dengan begitu, dia berharap dapat menemukan berbagai permasalahan dan kebutuhan yang sesungguhnya diperlukan oleh mahasiswanya. Maka, tidak heran jika Marsigit aktif mengelola blog dan media sosial.

Profesor Marsigit di Ruang Direktur PPs UNY
Setelah menunaikan tugas sebagai Ketua Program Studi Matematika di FMIPA UNY (1999-2003), Marsigit melanjutkan pendidikannya ke Universitas Gadjah Mada (UGM). Di kampus ini, Marsigit belajar filsafat dengan konsentrasi filsafat matematika. Belajar filsafat, membuat Marsigit semakin banyak bertransformasi dan banyak mengubah pandanganya atas berbagai persoalan terkait pendidikan. Marsigit lulus dari Universitas Gadjah Mada tahun 2007. Tahun 2012 Marsigit dikukuhkan sebagai guru besar pendidikan matematika di Universitas Negeri Yogyakarta dengan judul pidato pengukuhan "Pendidikan Karakter melalui Pembelajaran Matematika" Empat tahun kemudian dirinya diangkat menjadi Sekretaris Senat Universitas Negeri Yogyakarta.

Selepas menjadi Sekretaris Senat Universitas Negeri Yogyakarta tahun 2017, Marsigit dilantik menjadi Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta. Sebagai pemimpin, dirinya bertekad untuk menerapkan kepemimpinan yang transformatif, inovatif, dan kolegial.

Dengan peran strategisnya sebagai Direktur Program Pascasarjan Universitas Negeri Yogyakarta, Marsigit berkeinginan dapat berkontribusi dalam membawa bangsa Indonesia, khususnya bidang pendidikan, agar bisa berperan aktif di dunia secara terhormat.

Di balik kiprahnya di dunia akademis, Marsigit ternyata merupakan sosok yang sangat menghargai kebudayaan. Beberapa tulisannya tak lupa dikaitkan dengan kebudayaan Jawa. Bahkan, 19 Mei 2018 lalu, Marsigit pentas ketoprak di Auditorium UNY dengan judul "Rembulan Kekalang". Dalam pentas terkait Dies Natalis UNY tersebut, dirinya berperan sebagai Pangeran Sepuh Purbaya, sementara Rektor UNY, Sutrisna Wibawa berperan sebagai Pangeran Hadi Mataram.

Hal lain yang begitu menarik dari sosok ini adalah pandangan atau kesadarannya atas relasi orang tua-anak. Menurutnya, seorang anak wajib berbakti kepada orang tua. Seseorang wajib berikhtiar dan berdoa dan itu belum lengkap tanpa restu orang tua. Oleh karena itu, setiap akan melakukan sesuatu, seorang anak semestinya meminta restu kepada orang tua. Marsigit mengaku besyukur masih memiliki orang tua dan dapat berbakti kepada mereka.

Sebaliknya, seorang yang menjadi orang tua wajib berbuat terbaik untuk anak-anaknya. Segala sesuatu yang terjadi atas kehidupan sang anak, tidak terlepas dari peran orang tua.

"Hidup adalah membangun," ungkap Marsigit ketika ditemui di kantornya.

Sabjan Badio
Program Studi Linguistik Terapan Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta



6/25/2018