Tampilkan postingan dengan label Featured. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Featured. Tampilkan semua postingan

Tujuh Hal yang Perlu Dilakukan Blogger Masa Kini

Aman 10/23/2018
itsallyogababy.com
MENJADI blogger sejak tahun 2000 membuat saya berkesempatan mengikuti pasang-surut dunia blogger. Dahulu, dunia blogger rata-rata diisi oleh "pekerja sosial" di mana di antara mereka banyak yang berbagi demi berbagi itu sendiri.

Pada perkembangannya, ketika pengetahuan para blogger semakin bertambah, tulisan semakin banyak, beberapa di antaranya mulai merambah dunia profesional. Profesional di sini saya maksudkan menulis sesuai keahlian serta mendapatkan uang dari proses tersebut. Ketika Google membuka keran Adsense di Indonesia, aktivitas ini semakin menggeliat.

Zaman terus berubah. Semakin cepatnya akses internet dan semakin murahnya harga paket data, membuat banyak blogger memiliki "saingan" baru, yaitu media berbasis foto dan video. Selain itu, para pemilik modal pun tiba-tiba muncul dengan situs-situs baru yang dikelola para ahli yang bekerja full time.

Menghadapi fenomena tersebut, mau tidak mau para blogger berubah. Mereka tidak bisa lagi berkubang di zona nyamannya jika tidak ingin tergilas zaman. Apa saja yang perlu dilakukan para blogger? Berikut ulasannya.

Mengelola konten secara baik

Dahulu banyak blogger yang sekadar copy-paste, saat ini mereka selalu dituntut dengan konten kreatif. Keadaan membuat para blogger tidak bisa lagi eksis hanya dengan modal copy-paste. Jika pun berhasil terkenal dengan modal copy-paste, risiko besar menanti. Hal ini di antaranya karena semakin berkembangnya media sosial. Suluruh dunia akan "dengan sukarela" mengawasi sekaligus menjadi hakim bagi kita. Sekali melangkah salah, tamat sudah nasib seorang blogger.

Permasalahan konten ini tidak hanya seputar teks, melainkan sampai kepada foto, video, hingga infografis. Oleh karena kompleksnya permasalahan konten ini, mungkin seorang blogger perlu bekerja sama dengan pihak lain yang memiliki kemampuan yang tidak dimiliki.

Aktif memublikasikan tulisan baru

Bagian ini sebenarnya terkait dengan konten. Blogger tidak cukup dengan menyajikan konten yang kreatif, para peselancar dunia maya membutuhkan lebih dari itu. Jika postingan kita menarik, mereka minta lagi dan lagi. Ketika seorang blogger membuat jeda, pengunjung akan beralih ke blogger lain atau media berbasis foto dan video yang mungkin dipandang lebih menarik.

Membranding blog

Branding ini dimulai dari konsep isi blog hingga bentuk blog, domain, dan hosting. Blogger yang baik sepantasnya memutuskan untuk mengangkat tema tertentu sesuai keahliannya.

Bentuk blog terkait desain yang sudah dibangun. Beberapa blogger bahkan harus membuat anggaran khusus untuk mendapatkan theme atau template yang bagus dan sesuai. Bagus di sini dalam artian mudah digunakan dan enak dipandang. Sementara sesuai dimaksudkan untuk memilih theme yang selaras dengan tema blog.

Membeli domain dan hosting

Domain itu penting, nama domain yang sesuai jauh lebih penting. Secara tidak langsung, domain terkait branding. Blogger penting memiliki nama domain yang sesuai dengan tema yang diangkat atau jika materi yang diangkat terlalu beragam, domain bisa disesuaikan dengan nama blogger itu sendiri.

Saat ini harga domain dan hosting sangat variatif, di Hostinger misalnya, kita bisa mendapatkan nama domain yang murah, dari nol rupiah hingga ratusan ribu rupiah. Tinggal sesuaikan dengan pilihan ekstensi domain yang diinginkan.

Harga domain sering didiskon bahkan digratiskan. Berdasarkan pantauan saya ketika menulis artikel ini, jika berlangganan hosting di Hostinger, kita bisa mendapatkan domain gratis. Jika tidak, ada beberapa domain dengan harga yang bahkan hanya belasan ribu.

Paket Domain Hostinger
Beberapa pilihan domain yang dapat digunakan blogger.

Domain yang sudah dibeli, bisa digunakan untuk hosting gratis, bisa juga untuk hosting berbayar. Jika diminta memilih, hosting berbayar jauh lebih baik. Ada beberapa alasan yang menunjukkan mengapa hosting berbayar lebih baik. Pertama, dengan berlangganan hosting, blogger memiliki kekuasaan menyimpan data, memilih theme bahkan memilih CMS, juga leluasa menyesuaikan URL artikel. Kedua, hosting berbayar mendapat dukungan dari penyedia layanan. Jika ada masalah dengan website atau blog, para blogger dapat menghubungi contact center penyedia domain dan hosting. Ketiga, tingkat kepercayaan pengunjung lebih tinggi kepada hosting berbayar daripada hosting gratisan, ini penting untuk mendukung brand yang sedang dibangun.

Ekstensi domain yang digunakan sebaiknya disesuaikan dengan tema blog. Blog atau website milik sekolah sebaiknya menggunakan ekstensi .sch.id, blog atau website milik perusahaan sebaiknya menggunakan .co.id, blog atau website milik organisasi sebaiknya menggunakan .or.id atau .org, sementara itu website toko sebaiknya menggunakan .store, dan seterusnya. Jika tidak atau ekstensi yang sesuai, kita bisa menggunakan ekstensi yang umum, misalnya .id atau .com.

Sebagaimana domain, hosting juga bisa didapatkan dengan mudah dan murah, di Hostinger blogger bisa mendapatkan paket hosting mulai harga Rp9.900 per bulan. Bahkan, paket tertentu menyediakan domain secara gratis sehingga para blogger tidak perlu berlangganan hosting dan domain secara terpisah.

Paket Web Hosting Hostinger
Paket hosting dengan harga terjangkau untuk blogger.

Membangun jejaring

Apatah artinya sebuah tulisan jika tidak ada yang membaca. Di saat pemodal besar mulai beraksi, bisa muncul di halaman pertama mesin pencari bukankah sesuatu yang mudah lagi. Untuk itu, para blogger perlu membangun kelompok untuk berjejaring.

Kelompok di sini bukan berarti kelompok blogger, melainkan kelompok yang memiliki minat yang sesuai dengan tema bahasan blog kita. Mereka ini sangat potensial dan berpotensi membaca serta membagikan tulisan kita.

Mencoba beriklan

Tidak ada salahnya mencoba beriklan. Media sosial biasanya menawarkan paket-paket iklan agar postingan kita bisa muncul di timeline pengguna lain bahkan sampai kepada orang-orang yang tidak terkoneksi secara langsung dengan kita. Sistem pada iklan biasanya bisa mengenali pengguna dengan minat tertentu.

Sebagai blogger kita bisa memilih paket iklan yang sesuai dengan kantong. Bahkan, beberapa perusahaan menyediakan paket gratis sebagai uji-coba. Layanan ini bisa dimanfaatkan.

Berinteraksi dengan pengunjung

Ketika memutuskan menjadi blogger, kita harus siap untuk banyak berinteraksi dengan pengunjung. Sistem website dan jejaring sosial, membuat sekat-sekat geografis menjadi tidak berarti. Para pengunjung dapat datang kapan saja serta berkomunikasi dengan kita kapan saja. Bisa jadi mereka tiba-tiba datang ke meda sosial kita sekadar mengucapkan teima kasih, bertanya lebih lanjut, mengusulkan membahas tema tertentu, hingga protes atas tulisan kita. Semua itu harus dilayani dengan baik.

Seorang blogger selain bertugas sebagai pengisi konten, secara otomatis juga bekerja sebagai marketing blog, manajer, sekaligus customer service. Komunikasi yang baik, sangat memungkinkan mengundang pengunjung yang setia. Bahkan, mungkin sekali-sekali kita bisa memberi penghargaan khusus kepada pengunjung dengan kriteria tertentu. (*)

Sabjan Badio, blogger Jogja

Mapel TIK kembali hadir di kurikulum sekolah dengan nama mapel Informatika

Aman 8/05/2018
Udemy.com
SETELAH sekian lama menghilang dan sempat menimbulkan kegalauan pada para pengajarnya, akhirnya mapel TIK atau teknologi informasi dan komunikasi direncanakan kembali hadir di kurikulum sekolah. Berdasarkan informasi yang dirilis Republika, mata pelajaran TIK hadir dengan nama baru, yaitu mata pelajaran informatika.

Masih berdasarkan informasi yang dirilis oleh Republika tersebut ada perbedaan mendasar antara mapel TIK dengan mapel Informatika. Pertama, mapel TIK wajib diikuti oleh semua sekolah dan siswa. Sementara itu, mapel Informatika merupakan pilihan, bisa diikuti oleh sekolah-sekolah yang menginginkan dan telah siap saja.

Perbedaan kedua, mapel Informatika direncanakan tidak sekadar mempelajari menu-menu yang ada pada aplikasi atau tombol-tombol pada perangkat keras, melainkan sampai kepada Computational Thinking dengan materi STEM (Computer Science or Coding Computer Programming).

Perbedaan ketiga, jika mapel TIK dapat diajarkan oleh banyak guru, bahkan oleh guru-guru yang sekadar memiliki pengalaman menggunakan komputer, internet serta aplikasi tertentu, pada mapel Informatika lebih dari itu. Guru Informatika dituntut untuk benar-benar mengusai bidangnya sehingga dapat mendampingi siswa dalam belajar hingga menciptakan sesuatu terkait teknologi digital.

Dengan kembalinya mapel TIK ini, guru-guru TIK dapat bernapas lega, ada harapan untuk tidak lagi dituntut menjadi guru BK-TIK. Hanya saja, pertanyaannya, apakah semua guru TIK akan mampu beradaptasi dengan mapel Informatika mengingat tidak semua guru TIK berlatar belakang pendidikan teknologi informasi? Kita tunggu saja. (sab)

Kunjungan Pengurus Perkumpulan Guru Madrasah Penulis ke Kementeran Agama Republik Indonesia

Aman 7/19/2018

Abasrin.com--Selasa malam (10/07), saya, Bu Shofi, Bu Septy, Bu Rina, Bu Nur Khasanah Rahmawati, serta Pak Pujarsono berangkat dari Jogja menuju Jakarta. Lewat WAG, kami tahu bahwa beberapa teman yang berasal dari provinsi-provinsi lain sudah dalam perjalanan sejak siang tadi menuju tempat yang sama. Perjalanan ini saya anggap tidak kalah heroiknya dengan gempita Perancis melawan Belgia di ajang Piala Dunia yang tayang malam itu. Tujuan kami, yaitu sowan ke Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kemenag RI, tak lain untuk memperkenalkan diri sekaligus menjalin kerja sama yang sinergis untuk perkembangan Pergumapi.

Tak ubahnya para pemain sepak bola, kami terus berkoordinasi. Kami bagi-bagi tugas. Bu Septy jauh-jauh waktu sudah pesan seragam batik juga mendistribusikannya untuk para pengurus. Bu Najmah aktif berkoordinasi dengan Kasubbag Tata Usaha GTK Madrasah Kemenag RI, Pak M. Sidik Sisdiyanto, S.Ag. Pak Ogi dengan cekatan menyiapkan segala keperluan surat-menyurat ke Kemenag RI juga ke Kanwil Kemenag serta madrasah para pengurus yang akan turut audensi. Bu Eza di tengah-tengah kesibukannya menyempatkan diri mengedit program kerja tiap-tiap bidang sekaligus menyiapkan proposal. Sementara itu, Bu Shofi dan Bu Rina siap merilis berita.

Dari DIY sendiri, Bu Nur Hasanah Rahmawati merelakan diri menenteng tas berisi buku-buku pendamping (buping) yang ditulis oleh anggota Pergumapi. Bu Ayu, kendati tidak dapat menyertai, menitipkan pesan-pesan untuk disampaikan ke GTK. Tidak hanya itu, Bu Ayu juga menyediakan “amunisi” makanan yang banyak untuk perjalanan kami. Pada akhirnya “amunisi” dari Bu Ayu menyertai rute kami dari Pasar Senen-Istiqlal-Kemenag RI. Baru habis tatkala dinikmati bareng-bareng dengan pengurus yang lain.

Dalam catatan ini, tidak dapat saya sebutkan satu-satu peran para pengurus. Paling pasti kami saling melengkapi. Para pengurus yang tidak dapat hadir karena urusan yang tidak bisa ditinggalkan tetap memberi dukungan dengan menyumbang saran dan tetap aktif berkomunikasi. Kami saling oper “bola” untuk mengegolkan misi Pergumapi. Saya pribadi sangat kagum dengan perjuangan kawan-kawan Pergumapi, termasuk masalah seragam. Rupa-rupanya masing-masing individu sukses merayu tukang jahit agar seragam selesai sebelum tanggal 10 Juli. Tentang seragam, insyaallah ada catatan tersendiri, yang kapan-kapan bisa saya tuliskan.

Pagi hari Rabu (11/07), kami sampai di Jakarta. Titik kumpul kami adalah Masjid Istiqlal dengan pertimbangan dekat dengan Kemenag RI serta dapat menjadi tempat transit yang nyaman. Sebelum Subuh, kami sudah berdandan rapi lengkap dengan seragam baru. Usai salat, kami berbincang-bincang tentang Pergumapi juga banyak hal yang akan kami sampaikan ketika nanti berada di Kemenag RI. Sesekali kami juga bercanda akrab dan tidak lupa mengambil gambar dengan berbagai gaya.

Berdasarkan surat yang diajukan ke GTK Madrasah, audensi akan dilaksanakan pada pukul 10.00--12.00 WIB. Masih ada waktu beberapa saat untuk sarapan dan beristirahat. Saya sendiri sudah bisik-bisik dengan Bu Shofi untuk menikmati nasi pecel di depan masjid. Di tengah-tengah obrolan, kami mempertimbangkan untuk dapat bertamu ke direktorat lain, seperti yang pernah diusulkan Bu Anita. Kami berhitung dengan waktu semoga semua bisa terlaksana, mengingat permohonan yang kami ajukan kemarin hanya untuk GTK Madrasah.

Bu Najmah dengan senyum renyahnya menghubungi Kasubdit Kesiwaan, Bapak Abdullah Faqih, M.A., M.Ed. Di luar dugaan, Pak Faqih menyilakan kami untuk bertandang ke ruangan Beliau pagi itu juga. Sekilas saya lirik jam tangan. Jarum panjang belum menunjukkan angka tujuh. Kami pun bergegas menuju ke Kemenag RI. Saya, Bu Najmah, dan Bu Syafa duluan berjalan kaki menuju kantor Kemenag RI. Kami khawatir Pak Faqih terburu ada agenda lain. Teman-teman yang lain akan segera menyusul sebab di antara kami masih ada yang menunaikan salat Duha juga ada yang masih di kamar mandi.

Di ruangan Pak Faqih, saya dan Bu Najmah menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan tim Pergumapi. Bu Syafa, bak wartawan profesional sibuk “cekrak-cekrek” mengambil gambar dari segala sudut. Kami sampaikan bahwa teman-teman akan segera menyusul, ada dua puluh orang dari Pergumapi yang turut serta. Setelah menyebutkan angka, saya dan Bu Najmah berharap teman-teman yang masih berada di Istiqlal segera merapat. Setengah jam berlalu, belum ada tanda-tanda kedatangan teman-teman. Kami terus menunggu sambil menyampaikan program-program Pergumapi kepada Pak Faqih.


Baru beberapa saat kemudian ada foto di WAG bahwa teman-teman baru turun dari  mobil. Saya dan Bu Najmah saling pandang. Rupa-rupanya teman-teman menggunakan jasa taksi untuk mencapai gendung Kemenag RI yang letaknya bersebelahan dengan Masjid Istiqlal. Alhasil jalannya memutar dan lebih banyak waktu yang digunakan.

Pak Faqih sangat ramah menyambut kami, terlebih ketika teman-teman yang lain mulai bergabung. Kami yang semula diterima di ruang tamu Kasubid Kesiswaan, diminta pindah ke ruang kerja Beliau. Kami pun nyaman berbincang. Pak Faqih mengharapkan Pergumapi mampu "tampil beda” dari organisasi lain. Terlebih, Pergumapi mengkhususkan diri pada bidang literasi. Ada beberapa pesan dari Pak Faqih untuk Pergumapi, yaitu untuk mengusai IT. Bagaimanapun saat ini sudah memasuki era disrupsi, di mana perkembangan IT begitu pesat. Pergumapi dapat memanfaatkan medsos untuk mengunggah karya-karya anggota sehingga bisa dimanfaatkan secara lebih luas.

Hal lain yang dipesankan Pak Faqih adalah untuk membuat karya-karya buku yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan Alquran. Tak kalah pentingnya adalah karya buku dengan memasukkan "standar PISA" agar siswa madrasah dapat meningkat literasinya. Di samping itu, jika memungkinkan juga melakukan pelatihan-pelatihan dengan menggandeng media massa yang sudah besar agar memperoleh ilmu dari ahlinya. Pak Faqih juga berpesan agar Pergumapi terus berkarya tanpa meninggalkan tugas utamanya sebagai guru.

Hampir dua jam kami berbincang dengan Pak Faqih. Waktu menunjukkan angka sembilan lebih. Kami undur diri dan segera menuju ke GTK Madrasah. Mengingat jumlah kami yang banyak, kami diarahkan untuk menempati ruang pertemuan KSKK Madrasah di lantai enam. Kami diantar oleh Pak Jamaludin, staf Subdit Kurikulum yang lebih dikenal dengan Pak JE bin Abdullah. Pak JE ini terkenal sebagai penulis novel Kafillah Al-Fatihah. Novelnya pun siap difilmkan. Luar biasa, ya?

Pak JE menemani kami sebelum perwakilan dari Direktorat GTK Madrasah hadir. Pak JE yang lulusan Pondok Pesantren Darussalam Gontor tersebut mempersilakan kami memperkenalkan diri satu per satu. Ruangan pun bertambah ramai ketika teman-teman yang lain bergabung. Ada Bu Kazma beserta putrinya yang jauh-jauh dari Sulawesi Selatan. Bu Eza yang baru saja melakukan penerbangan dari Bengkulu. Pak Ogi beserta rekannya, juga Pak Ruba dan Bu Tati langsung dari Bandung. Tak lama kemudian, Bu Nuraedah dari Sulawesi menyusul dengan senyum cerianya. Tidak ketinggalan Pak Bambang Sukarnoto dari DKI. Terakhir saya baru sadar kalau Ibu Murdaning dari Kulonprogro sudah hadir. Bu Daning sengaja tidak bareng rombongan DIY karena Beliau datang beserta bayi dan anggota keluarga yang lain. Ada juga Bu Sakti dari Tulungagung. Total ada delapan belas orang yang hadir. Ada dua pengurus yang tidak dapat merapat karena keadaan yang tidak memungkinkan. Semoga lain waktu dapat turut serta.

Di GTK kami diterima oleh Kasi Bina Guru MA, Dra. Hj. Faizah, M.Pd., Kasi Bina Kependidikan MA, Drs. Imam Sayogyo, M.Pd., dan Kasi Bina Tenaga Kependidikan MI dan MTs, Syahrul Sobirin, S.H., M.Ag. Sayang sekali Direktur Direktorat GTK Madrasah, Prof. Dr. Suyitno, M.Ag. sedang tidak berada di tempat. Beliau ada acara bersama Bapak Menteri Agama. Meskipun demikian baik Bu Faizah, Pak Imam, serta Pak Syahrul menanggapi kami dengan baik.


Selain memaparkan Pergumapi beserta program-programnya, kami juga melakukan dialog. Hasil yang dapat kami rangkumkan adalah bahwa GTK mendukung adanya Pergumapi. Harapannya, Pergumapi dapat meningkatkan kualitas guru untuk menulis karya ilmiah sehingga lebih mudah untuk memenuhi angka kredit. Dari Pergumapi sendiri, meminta dukungan secara kelembagaan kepada GTK agar keberadaan Pergumapi semakin eksis. Berkenaan dengan kelembagaan, Pak Syahrul meminta kami agar juga bersilaturahim dengan Direktorat Kurikulum, Sarana Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah.

Audiensi ditutup dengan sesi foto bersama, juga penyerahan buku-buku karya anggota Pergumapi serta kenang-kenangan dari Pergumapi. Setelahnya kami makan siang bersama. Asyiknya di sini. Bukan menu makan siangnya, melainkan Pak Imam dan dan Pak Syahrul masih berkenan menemani kami dan sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan kami.


Dari GTK, kami pun meluncur ke ruang KSKK. Kepala Subdit Kelembagaan dan Kerjasama, Bapak Drs. H. Irhas Sobirin dan Kasi Kelembagaan dan Kerjasama MI dan MTs, Bapak Zulkifli, S.Ag., M.Pd. menemui kami. Beliau berdua tidak kalah hangatnya memberi sambutan. Pak Zulkifli sangat mengapresiasi adanya Pergumapi. Bagaimanapun kenyataan di lapangan sulit untuk menemukan guru yang mau menulis. Oleh karenanya Pergumapi mempunyai peran yang strategis untuk mengembangkan kegiatan literasi di kalangan guru. Pak Zul, demikian sapaan akrab Beliau, siap bekerja sama dengan Pergumapi, semisal proyek penulisan buku inspiratif.

Demikian juga Pak Irhas Sobirin, mengingat sebuah organisasi perlu pendanaan, beliau mengusahakan dapat menganggarkan dana untuk kegiatan bersama Pergumapi. Alhamdulillah... semoga terealisasi.

Sebelum kami meninggalkan ruangan, kami sempatkan diri untuk berfoto bersama. Kali ini dengan gaya nyantai dan tidak lupa pamer senyum.

Setelah dari KSKK Madrasah lantas ke mana? Ajaib, para pengurus Pergumapi sudah mempunyai jadwal masing-masing. Ceritanya sambil menyelam minum air. Pak Ogi, langsung ke lantai tujuh karena ada urusan dengan akreditasi kampus yang beliau rintis. Bu Najmah dan Bu Kazma masih ada pembicaraan dengan Pak Jamaludin dan Pak Faqih. Bu Nur Hasanah, Bu Shofi, dan Bu Rina menemui Pak Muhtadin. Saya sendiri bersama Bu Eza dan Bu Karti menuju lantai tiga ke bagian Kepegawaian. Pengurus lain, sudah ada janjian dengan kerabat dan jadwal berbeda. Demikianlah, dalam waktu sekejap kami sudah berpencar kembali.

Ah, memang begitu singkat. Inginnya ada pertemuan setelah dari Kantor Kemenag RI. Akan tetapi, apa daya. Teman-teman Pergumapi memang orang-orang sibuk. Saya sangat bersyukur di sela-sela kesibukan tersebut teman-teman masih mau dan mampu berbagi waktu untuk Pergumapi.

Sebelum kembali ke Jogja, saya, Bu Shofi, Bu Rina, Bu Nur Hasanah, Pak Pujar, Bu Najmah, dan Bu Syafa meluangkan waktu mampir ke kota tua. Adapun Bu Septy sudah dijemput adiknya. (sayang sekali tidak bisa ikut jalan-jalan). Sore menjelang, museum di kota tua sudah tutup. Namun, masih ada yang bisa kami nikmati, yaitu keramaian kota tua dan semangkuk bakso dan air jeruk panas. Tentu saja kami melakukan groufie. Sebagai pengarah gaya Dr. Najmah. Fotografer Bapak Pujarsono. He.. he...

Dalam perjalanan pulang saya pribadi merasakan kelegaan luar biasa. Barangkali sama leganya dengan yang dirasakan tim penyelamat yang berhasil mengeluarkan 12 remaja Thailand dan pelatihnya yang terjebak di dalam Gua Tham Luang selama dua pekan lebih.

Kurun waktu setahun capaian Pergumapi adalah sebagai berikut.
  1. Mempunyai badan hukum, SK Menhumkan RI nomor AHU-0006654. AH.01.07.Tahun 2018, NPWP dan rekening atas nama Pergumapi
  2. Seminar di Tulungagung dan Banjar
  3. Pelatihan menulis di Malang
  4. Pelatihan pengelolaan website
  5. Pembuatan website, IG, Twiter, Facebook
  6. Launching website dengan satu bulan penuh untuk menulis
  7. Pemberian penghargaan penulis produktif dalam rangka launching website
  8. Penerbitan buku Merah Putih Sertifikasi dan Repertoar Perempuan
  9. Penerbitan buping kerja sama dengan penerbit mayor
  10. Kuliah daring
  11. dan lain-lain
Belum banyak memang yang sudah dilakukan dan pekerjaan rumah masih menunggu. Oya, saya pribadi sangat berterima kasih kepada teman-teman pengurus, juga teman-teman anggota Pergumapi yang banyak memberikan dukungan. Terima kasih juga kepada Bu Yeti yang nyangoni kami dengan jus kacang ijo. Bu Yeti tahu bahwa kami perlu asupan nutrisi yang banyak.

Saya juga memohon maaf, jika untuk kegiatan audensi ini masih banyak kekurangan. Barangkali banyak rencana yang tidak terlaksana dengan maksimal. Di antaranya Bu Sukarti yang sudah mempersiapkan diri untuk baca puisi menandai launching buku. Mohon maaf sekali, waktu jua yang tidak memungkinkan. Untuk Pak Ruba juga yang sampai ketinggalan kereta sehingga harus pulang dengan moda lain. Juga untuk bapak/ibu anggota pergumapi, mohon maaf belum bisa menyertakan Bapak/Ibu. Semoga lain waktu segera ada kegiatan yang melibatkan seluruh anggota pergumapi.

Oya, sampai saat ini anggota Pergumapi sudah tersebar di 12 provinsi di Indonesia. Semoga seiring bertambah banyak anggota, karya Pergumapi kian banyak pula.

Terakhir, menuliskan catatan ini penting. Seperti yang diwejangkan pak Faqih, Imam Syafei mengatakan bahwa ikatlah ilmu dengan tulisan. Jadi, di antara ramainya media mengulas pertandingan final Piala dunia Perancis vs Kroasia, saya gerakan tangan ini untuk membuat catatan sederhana ini. Semoga bermanfaat. Salam Pergumapi.

Bantul, 15 Juli 2018.
Siska Yuniati

Cara Melihat Info PTK atau GTK Terbaru 2018 Menggunakan Aplikasi HP Android

Aman 7/07/2018
Abasrin.con--Kabar baru bagi guru-guru, khususnya guru-guru penerima tunjangan sertifikasi. Mulai tahun 2018 ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia merilis aplikasi berbasis Android untuk cek atau melihat informasi GTK, terkait kelayakan pencairan tunjangan sertifikasi guru.

Dengan menggunakan aplikasi, cukup bermodal NUPTK, NRG, atau NIK serta tanggal lahir, informasi GTK langsung muncul di layar gawai. Mau tahu caranya? Berikut penjelasannya.

1. Unduh dan instal aplikasi

Anda dapat mengunduh serta menginstal aplikasi melalui Play Store atau Google Play, kemudian cari aplikasi Info Guru 2018. Ingat, cari aplikasi yang dikeluarkan oleh Ditjen GTK. Kalau yang mengeluarkan bukan Ditjen GTK, jangan diunduh, ya.

Cari yang logonya seperti gambar


Klik menu instal


2. Buka aplikasi yang sudah diinstal dengan cara klik menu buka

Klik menu buka

3. Login

Anda dapat login menggunakan username NUPTK, NRG, atau NIK. Silakan pilih salah satu yang menurut Anda mudah. Kemudian, isi kolom password menggunakan tanggal lahir terbalik. Contohnya, jika Anda lahir pada 1 Februari 1982, password Anda menjadi 19820201.

Masukkan NUPTK, NRG, atau NIK, serta password tanggal lahir dibalik, lalu pilih login.


4. Jika data yang dimasukkan benar, akan muncul layar utama seperti ini

Menu utama

5. Melihat verifikasi data TPG
Verifikasi Data TPG

6. Melihat data guru
Data Guru

7. Melihat status NUPTK

Status NUPTK


8. Melihaf into tunjangan guru

Tunjangan guru

9. Melihat data kelulusan

Data kelulusan


9, Melihat realisasi tunjangan
Realisasi tunjangan

Demikian informasi tentang cara melihat info GTK terbaru menggunakan aplikasi berbasis Android. Mudah, bukan? Selamat mencoba!

Mengenal Organisasi Guru Madrasah Penulis Pergumapi

Aman 2/18/2018
Logo Pergumapi
Yogyakarta, Abasrin.com--Akhir-akhir ini ada sebuah kesadaran--setidaknya gerakan--para guru untuk aktif menulis. Kesadaran tesebut di antaranya berwujud berbagai gerakan seperti Sagusabu dan Menemubaling yang diinisiasi oleh Ikatan Guru Indonesia.

Sagusabu merupakan singkatan dari Satu Guru Satu Buku, merupakan gerakan yang berusaha membantu para guru untuk melahirkan buku-bukunya sendiri. Sementara itu, Menemubaling merupakan singkatan dari membaca dengan mulut, menulis dengan telinga, sebuah gerakan untuk memfasilitasi para guru yang memiliki sedikit waktu atau menginginkan alternatif untuk membaca dan menulis.

Menulis dengan mulut dimaksudkan, melalui sebuah aplikasi berbasis Android, para guru dapat menulis dengan cara mengucapkan apa yang akan dituliskan. Ucapan tersebut oleh aplikasi diubah menjadi tulisan.

Jika menulis dengan mulut terkait revolusi cara menulis, sebaliknya membaca dengan telinga merupakan revolusi cara membaca. Dengan bantuan aplikasi, tulisan yang sejatinya hanya dapat dibaca dengan bantuan mata, dapat berubah suara yang dapat diserap melalui telinga secara santai, sambil tiduran, bahkan sambil memejamkan mata.

Di kalangan madrasah, ada juga sebuah gerakan menulis para guru dengan nama Perkumpulan Guru Madrasah Penulis yang disingkat Pergumapi. Organisasi ini dipimpin oleh Siska Yuniati, Guru MTs Negeri 3 Bantul.

Melalui organisasi ini, Siska bersama para pengurus lain mengajak guru menulis melalui beberapa kegiatan, seperti kuliah daring, menulis buku bersama, tantangan menulis, hingga memfasilitasi guru dalam menerbitkan buku.

"Organisasi ini baru berdiri. Kami secara perlahan menggagas kegiatan-kegiatan. Kami sadar, semua anggota memilik profesi sebagai guru, kepala madrasah, atau pengawas madrasah. Oleh karena itu, kegiatan yang kita gagas senantiasa mempertimbangkan kesibukan anggota," ungkap Siska Yuniati ketika dihubungi secara khusus.

Kuliah daring yang dimaksudkan Siska Yuniati adalah sebuah kegiatan diskusi online yang diselenggarakan dwimingguan di grup WhatsApp Pergumapi. Kegiatan ini dikelola oleh Pengurus Bidang Diklat dan Pelatihan Pergumapi, Ruba Nurzaman dan Edy Purwanto.

Pada kuliah daring ini, Tim Diklat Pergumapi berusaha mencari narasumber yang memiliki pengetahuan, keahlian, keterampilan, atau pemikiran tertentu yang dibutuhkan anggota, khususnya terkait kepenulisan atau literasi secara umum. Narasumber kegiatan ini diutamakan berasal dari anggota dan tidak menutup kemungkinan mengundang pihak luar.

Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk berbagi pengalaman. Selain itu, untuk meningkatkan pengalaman para guru dalam menjadi narasumber serta membiasakan para guru untuk mengemukakan pemikirannya di ruang publik secara baik.

Kuliah Daring Pergumapi dilaksanakan atas panduan seorang moderator. Paparan materi dan tanya jawab berlangsung atas komando moderator layaknya sebuah seminar tatap muka.

Sementara itu, menulis buku bersama adalah kegiatan untuk menulis buku dengan tema tertentu. Penulisan ini melibatkan anggota-anggota yang berminat. Saat ini, organisasi ini sedang memroses dua buku bersama, yaitu kumpulan artikel dan kumpulan puisi.

Selain kedua hal itu, ada juga kegiatan tantangan menulis. Siska Yuniati mengungkapkan, kegiatan tantangan menulis yang sedang dilangsungkannya melalui kerja sama antara sekretaris, bidang penulisan media massa, serta bidang humas pergumapi adalah tantangan menulis sebulan penuh.

"Kami sedang menyelenggarakan kegiatan menulis sebulan penuh. Kegiatan ini diselenggarakan atas kerja sama sekretaris, bidang penulisan media massa, serta bidang humas, informasi , dan kerja sama antarlembaga," ungkap Siska Yuniati.

Guru peraih Internet Sehat Blog & Content Award itu menjelaskan lebih lanjut, tantangan yang dilaksanakannya dalam rangka promosi website baru Pergumapi. Dalam proyek ini, anggota ditantang untuk mengisi website Pergumapi selama sebulan penuh. Tulisan-tulisan dipublikasikan tiap hari dengan tema-tema khusus.

"Hari Senin kami memublikasikan artikel, hari Selasa khusus esai, hari Rabu yang dipublikasikan resensi, hari Kamis dipublikasikan karya tulis ilmiah, hari Jumat khusus untuk publikasikan informasi buku-buku anggota, hari Sabtu untuk puisi, pantun, dan sejenisnya. Sementara itu, untuk hari Minggu, kami memublikasikan cerita pendek," papar Siska.

Berawal dari Agumapi

Menurut Siska, pihaknya melakukan promosi website karena memang baru saja membuat website.

"Sebelumnya organisasi ini bernama Asosiasi Guru Madrash Penulis Indonesia atau Agumapi. Terkait persyaratan nama dari Kementerian Hukum dan HAM RI, nama harus kami sesuaikan, maka Agumapi berubah nama menjadi Pergumapi atau Perkumpulan Guru Madrasah Penulis" jelas Siska.

"Dengan perubahan nama ini, otomatis website pun kami sesuaikan dari agumapi.org menjadi pergumapi.or.id. Dengan adanya website baru ini, website lama sudah tidak kami gunakan," lanjut Siska.
Logo Pergumapi ketika masih bernama Agumapi.
Berdasarkan hasil penelusuran Abasrin.com, Agumapi mulai digagas oleh guru-guru madrasah penulis tahun 2016. Organisasi ini dideklarasikan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tanggal 18 Mei 2017. Tanggal 8 Januari 2018, Agumapi berubah nama menjadi Pergumapi dan tanggal 9 Januari 2018, Pergumapi didaftarkan di Notaris Siti Hanifah di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tanggal 8 Januari 2018 inilah yang kemudian dianggap sebagai hari kelahiran Pergumapi.

Mengelola sepuluh bidang

Bidang-bidang yang menjadi suborganisasi Pergumapi meliputi (1) bidang oraganisasi yang dikelola oleh Dr. Sukarlan dan Umi Solikatun, S.Pd., (2) bidang pendidikan dan pelatihan yang dikelola oleh Ruba Nurzaman, S.Pd. dan Edy Purwanto, M.Pd., (3) bidang penulisan sastra yang dikelola oleh Sukarti, M.Pd. dan Ikha Mayashofa Arifiyanti, M.A., (4) bidang penulisan media massa yang dikelola oleh Dra. Rr. Ayu Dewi Widowati dan Kasmawati, M.Pd., (5) bidang penulisan buku yang dikelola oleh Sarifudin, M.Pd. dan Bambang Sukarnoto, M.Pd., (6) bidang penulisan bahan ajar yang dikelola oleh Zaenal Abidin, M.Si. dan Nurhasanah Rahmawati, M.M., (7) bidang penerbitan yang dikelola oleh Dr. Najmah dan Syafa'atul Maulida, S.Kom., (8) bidang kewirausahaan yang dikelola oleh Sri Saktiani, S.Pd. dan Moh. Rochimi, M.Pd., (9) bidang pengabdian masyarakat yang dikelola oleh Nuraedah, M.Pd. dan R. Rara Siti Murdaning Setyastutik, S.Pd.I., serta (10) bidang humas, informasi, dan kerja sama antarlembaga yang dikelola oleh Pujarsono, S.Pd. dan Rina Harwati, S.Pd.

Bidang-bidang tersebut menurut Siska dapat melaksanakan kegiatan secara mandiri, dapat pula melakukan kegiatan secara bersama-sama. Pihaknya memerdekakan bidang-bidang untuk berkreasi merancang program yang kira-kira bermanfaat dan dapat dilaksanakan.

Selain itu, ada pula sekretaris, bendahara, dan pengawas. Duduk sebagai sekretaris jenderal Dr. Ogi Lesmana dan wakil sekretaris jenderal Noor Shofiyati, S.Pd. Sementara bendahara umum, Septy Andari Putri, M.Pd. dan wakilnya Tati Nuryati, S.Pd. Sebagai pengawas, ada Anita Isdarmini, M.Pd. dan Ahmad Arif Ma'ruf, M.A., M.Si. Sebagai ketua umum Siska memiliki wakil Eza Avlenda, M.Si. dari Provinsi Bengkulu.

Targetkan memiliki penerbit sendiri

Siska mengungkapkan, bidang-bidang di Pergumapi sudah mulai berjalan. Khusus bidang penerbitan, saat ini masih bekerja sama dengan Penerbit MATsNUEPA di Kabuapten Malang yang dipimpin oleh Dr. Najmah. Ke depannya, Siska berharap bidang penerbitan mendirikan penerbit sendiri atas nama Pergumapi.

"Jika proses legalitas sudah selesai, kami sudah bisa membuat penerbit atas nama Pergumapi. Pengelolanya tetap sama, oleh Bu Najmah dan Bu Syafa. Jadi, kami tidak harus berjalan dari awal karena keduanya memang sudah berpengalaman di bidang tersebut," jelas Siska.

Terkait keberadaan penerbit yang akan dibentuk organisasinya, Siska berkeinginan menjadikannya memang untuk kepentingan anggota. Anggota Pergumapi dapat menerbitkan buku-bukunya secara mudah dan dengan harga yang terjangkau.

Tetap menjadikan guru sebagai guru

Siska berpandangan, seorang guru haruslah menjalankan tugasnya sebagai pendidik. Oleh karena itu, aktivitas berorganisasi dan menulis tidak boleh mengganggu kegiatan utama seorang guru.

"Kami para pengurus ingin organisasi ini memfasilitas para guru, tidak mengambil alih peran mereka dari pendidik menjadi penulis. Kami ingin para guru bergabung secara sadar, dengan enjoy, dan untuk perkembangan ke arah yang lebih baik." tutup Siska.

Hadirnya Pergumapi ini, semakin melengkapi gerakan-gerakan peduli literasi di kalangan pendidikan. Para guru merupakan di antara target gerakan literasi di sekolah. Dengan adanya inisiatif para guru untuk berorganisasi dan bergerak, tentu harapan untuk menjadikan para guru menjadi "lebih melek" akan lebih mudah untuk tercapai. Semoga!

Sabjan Badio, blogger Jogja dan mentor penulisan dan internet E & E Media Kreatif.

Tentang "Pribumi" dan Bagaimana Kita Mendayagunakan Bahasa

Aman 10/26/2017

"Dulu kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan. Kini telah merdeka, kini saatnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai Jakarta ini seperti yang dituliskan pepatah Madura. Itik telor, ayam singerimi. Itik yang bertelor, ayam yang mengerami."

Kutipan tersebut merupakan pidato Anies Rasyid Baswedan saat pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur Daerah Khusus Ibu kota (DKI) Jakarta pada Senin, 16 Oktober 2017. Siapa nyana, penggunaan kata “pribumi” dalam pidatonya berbuntut perdebatan sengit di media sosial. BBC Indonesia sendiri dalam lamannya melansir bahwa tak kurang dari 24 jam penggunaan kata “pribumi” muncul dalam sekitar 77.500 cuitan twitter dan mencapai angka 133.000 pada Selasa (17/10).

Angka itu bukan angka kecil untuk menunjukkan betapa antusiasnya masyarakat dalam memberikan respons. Tentu saja respons yang muncul beraneka ragam, berdasarkan kepentingannya. Dari lawan politik dikatakan bahwa penyebutan kata “pribumi” dinilai rasis, dapat menciptakan jurang antargolongan. Sementara itu, dari pihak Anies mengklaim jika pengucapan kata “pribumi” semata untuk konteks pada era penjajahan, bukan bertujuan memecah-belah. Di luar itu, yang penulis tangkap justru banyak yang bertanya apa itu pribumi.

Hal menarik dari fenomena pidato Anies adalah penyebutan kata “pribumi” yang sebagian orang tidak mengetahui apa artinya. Ada yang menafsirkan sebagai kelas rendah ada pula yang mengaitkan dengan lawan nonpribumi. Sementara itu, kalau merunut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “pribumi” bermakna ‘penghuni asli; yang berasal dari tempat bersangkutan’. Persoalan tersebut mengemuka seiring pemilihan diksi yang bagi sebagian masyarakat menimbulkan rasa sensitivitas. Jika dihubungkan dengan pendayagunaan bahasa, tentulah ada beberapa hal yang perlu dipertanyakan.

Pertama, apakah kata tersebut memang sengaja digunakan oleh pembicara untuk kepentingan politiknya? Jika memang demikian, hal ini sejalan dengan apa yang dituliskan Linda Thomas & Shan Wareing (1999: 57) bahwa bahasa tidak saja digunakan untuk memengaruhi cara berpikir orang, tetapi juga mengendalikan orang lain. Pendapat tersebut dieksplorasi dalam sebuah novel 1984 karangan George Orwell. Novel 1984 berkisah terbentuknya masyarakat masa depan dengan menggunakan bahasa baru yang disebut Newspeak. Sungguhpun berupa novel, teori tersebut didasarkan hipotesis Shapir-Whorf, yaitu bahasa menentukan bagaimana persepsi kita terhadap dunia.

Kedua, apakah ada unsur ketidaksengajaan pemakaian kata tersebut oleh pembicara sehingga menyinggung kelompok tertentu? Apabila ini terjadi, kemungkinan ada permasalahan pada pembicara baik dalam perbendaharaan kata atau kepekaan penggunaannya. Hal ini umum dialami oleh orang-orang yang kurang membaca. Pertanyaannya, apakah Anies kurang membaca?

Ketiga, dilihat dari masyarakat sebagai pendengar. Anies menggunakan kata “pribumi” dalam konteks masa lampau. Kata “pribumi” atau “inlander” banyak digunakan pada masa penjajahan. Ditilik dari reaksi yang muncul, tidak semua orang menganggap kata “pribumi” sebagai bentuk diskriminasi terhadap satu golongan. Beragam reaksi ini sangat mungkin berangkat dari pemahaman yang dimiliki. Bisa jadi karena sangat mengerti arti penggunaan kata “pribumi” sehingga menunjukkan sikap secara tegas, baik pro maupun kontra. Akan tetapi, bisa pula reaksi yang muncul karena demikian viralnya berita sehingga terdorong untuk urun rembuk tanpa disertai pemahaman yang memadai.

Lepas dari pro-kontra atas sikap masyarakat, seyogyanya pemahaman akan suatu hal itu penting. Salah satu caranya dengan banyak membaca sastra. Seorang pembaca sastra sejatinya adalah orang yang sedang melakukan pendidikan untuk dirinya sehingga diharapkan menjadi manusia yang lebih dewasa. Dalam kaitannya dengan kenyataan, A Teeuw ( 2017: 175) mengemukakan bahwa hubungan karya sastra ditentukan oleh tiga kelir. Ketiganya yaitu kelir konvensi bahasa, kelir konvensi sosio-budaya, dan kelir konvensi sastra yang menyaring dan menentukan kesan kita dan mengarahkan pengamatan dan penafsiran kita terhadap kenyataan. Bisa dikatakan, seorang pembaca sastra setidaknya berusaha bersikap berdasarkan ketiga kelir tersebut.

Keempat, jika akar permasalahannya pada pilihan kata, tidakkah dapat dibicarakan dengan duduk bersama? Bukankah kita mempunyai bahasa Indonesia yang selain berfungsi untuk komunikasi juga untuk menyatukan masyarakat? Jika itu tidak dapat ditempuh, mungkinkah masyarakat sudah kehilangan kata-kata untuk menciptakan kondisi yang lebih menenangkan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut muaranya akan menggiring kita pada pemaknaan bahwa pendidikan itu penting. Pendidikan merupakan sebuah proses pengubahan sikap dan tingkah laku ke arah yang lebih bijaksana. Pendidikan dapat dilakukan dengan mencintai bahasa serta banyak membaca karya sastra Indonesia.

Masyarakat yang mencintai bahasanya dapat teridentifikasi pada penggunaan bahasa secara tepat dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa akan merekatkan hubungan satu sama lain serta memperluas pengetahuan yang dimiliki. Sementara itu dengan banyak membaca karya sastra Indonesia, masyarakat akan memperoleh nilai-nilai yang akan menjadikannya lebih bestari dalam bersikap. Maka, dapat dibenarkan apa yang dikatakan oleh Ludwig Wittgenstein, seorang filsuf kelahiran Wina, bahwa batas bahasaku adalah batas duniaku. (*)

Siska Yuniati
Guru Bahasa MTs Negeri 3 Bantul, Ketua Umum Asosiasi Guru Madrasah Penulis Indonesia. Tulisan ini pertama dipublikasikan di Harian Bernas edisi 23 Oktober 2017.

Apa Pengertian Persekusi?

Aman 6/03/2017

Abasrin.com--Kata persekusi tiba-tiba menjadi tenar akhir-akhiri. Pada berita-berita koran dan televisi hingga status di media sosial, kata persekusi akhir-akhir ini sering disebut. Kendati telah menjadi tenar, ternyata banyak yang belum mengerti maknanya.

Berbeda dengan kasus lebaran kuda atau yang maknanya cenderung "misterius" karena hanya digunakan oleh sosok tertentu, yakni Susilo Bambang Yudhoyono, kata persekusi sesungguhnya merupakan kosakata baku dalam bahasa Indonesia. Dengan mengetikkan kata tersebut di KBBI V bahkan KBBI IV, kita akan menemukan makna persekusi, yakni

per.se.ku.si /pêrsékusi/
  • n pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga yang kemudian disakiti, dipersusah, atau ditumpas.
Penjelasan tersebut sudah menyajikan secara gamblang makna persekusi yang dalam bahasa Inggris mungkin disebut persecution. Tindakan persekusi dapat dilakukan oleh individu atau kelompok terhadap individu atau kelompok lain. Akhir-akhir ini, kasus persekusi lebih banyak terkait isu-isu agama dan politik--mungkin SARA secara keseluruhan. Kasus persekusi ini sudah menjadi isu internasional karena tidak hanya terjadi di Indonesia.

Tentu saja tidak semua tindakan melakukan pemburuan yang dikategorikan dalam wilayah ini. Pada definisi Kamus Bahasa Indonesia Edisi V yang saya petik di atas, ada kata-kata disakiti, dipersusah, atau ditumpas. Jadi, persekusi merupakan kategori perbuatan pemburuan dengan sewenang-wenang yang menciptakan ketakutan, penderitaan, entah karena pelecehan maupun karena penahanan.

Sebenarnya istilah persekusi ini telah didefinisikan secara spesifik oleh konstitusi internasional dan undang-undang di Indonesia. Pertama, konstitusi international (statuta) yang telah mendefinisikan persekusi adalah Rome Statute of Internacional Court. Kedua, undang-undang di Indonesia yang telah mendefinisikan persekusi adalah UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia.
For the purpose of this Statute, ‘crime against humanity’ means any of the following acts when committed as part of a widespread or systematic attack directed against any civilian population, with knowledge of the attack: Persecution against any identifiable group or collectivity on political, racial, national, ethnic, cultural, religious, gender as defined in paragraph 3, or other grounds that are universally recognized as impermissible under international law, in connection with any act referred to in this paragraph or any crime within the jurisdiction of the Court. -- Statuta Roma pasal 7 ayat (1) 
Kejahatan terhadap kemanusiaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 huruf b adalah salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil, berupa: penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang didasari persamaan paham politik, ras, kebangsaan, etnis, budaya, agama, jenis kelamin atau alasan lain yang telah diakui secara universal sebagai hal yang dilarang menurut hukum internasional.-- UU Nomor 26 Tahun 2000 pasal 9 huruf 
Sabjan Badio, blogger Jogja