Menjadi Guru di Era Gadget

Sabtu, 02 Januari 2016


Sabjan Badio, Blogger Jogja

"Malam hari ada yang mendidik, televisi. Betul? Itu bisa mempengaruhi. Ada lagi yang sekarang. Namanya media sosial, media online, ada Facebook, ada YouTube, ada Twitter, ada Path, ada Instagram, itu juga sangat mempengaruhi karakter-karakter anak-anak kita. Hati-hati.” --Joko Widodo

Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Joko Widodo pada puncak peringatan Hari Guru di Istora Senayan Jakarta, 24 November 2015 lalu. Sebuah pernyataan yang tentunya menimbulkan pertanyaan di kepala guru dan orang tua, begitu fenomenalkah dampak televisi dan gadget sampai harus diangkat oleh presiden pada pidato resmi dalam peringatan hari besar nasional?

Identitas Generasi Y dan Z

Don Tapscott (2009), seorang konsultan Bisnis dari Kanada, membagi manusia yang hidup saat ini menjadi empat generasi, yaitu The Baby Boom Generation, Generation X, The Net Generation atau Generation Y, dan Generation Next atau Generation Z. Pembagian tersebut berdasarkan tahun kelahiran. Generasi pertama lahir pada era 1946-1964, generasi kedua lahir pada periode 1965-1976, generasi ketiga lahir pada periode 1977-1997, dan generasi keempat merupakan generasi yang lahir pada 1998 sampai sekarang.

Merujuk pembagian itu, para pelajar saat ini dapat dikategorikan dalam generasi Y dan Z. Oleh Tapscott, Generasi Y dan Z dikatakan berasimilasi (lebur) dengan teknologi. Bahkan, secara ekstrem Tapscott menyebut bahwa bagi generasi Y dan Z ini teknologi bagaikan udara.

Sebagai generasi yang dilahirkan bersama teknologi, wajar jika gaya bekerja kelompok ini cenderung multitasking. Dengan kata lain, mereka terbiasa mengerjakan banyak hal dalam waktu bersamaan. Cara bersosialisasinya pun memiliki kekhasan, banyak memanfaatkan jejaring sosial, seperti Facebook, Twitter, WhatsApp, dan lain-lain.

Kompetensi Abad 21

Hadir sebagai guru dan orang tua untuk generasi Y dan Z memiliki konsekuensi tersendiri. Jika pada generasi X dan sebelumnya didominasi oleh aktivitas fisik yang kasat mata, menghadapi generasi Y dan Z guru dan orang tua mau tidak mau harus hadir dalam aktivitas maya mereka.

Mengenai keterlibatan tersebut, telah diingatkan oleh Trilling dan Fadel tahun 2009 melalui buku 21st Century Skills Learning for Life in Our Times. Keduanya menegaskan bahwa rata-rata pekerja saat ini membutuhkan kompetensi dalam bidang teknologi dan informasi. Maka, pada setiap lowongan pekerjaan, senantiasa disertai persyaratan penguasaan atas teknologi dan informasi.

Jika kita menyempatkan mengamati, seorang petugas keamanan yang identik dengan aktivitas fisik pun, sudah harus mampu mengoperasikan komputer, menjalankan sistem presensi digital, hingga mengendalikan kamera pengintai yang serba canggih.

Untuk dapat mengantarkan anak didik mencapai kompetensi teknologi informasi, niscaya keahlian tersebut menjadi tuntutan bagi para pendidik. Pendidik tidak hanya berinteraksi secara fisik di dalam kelas, namun juga dituntut menyelenggarakan kegiatan belajar dan mengajar dengan pemanfaatan teknologi.

Dilema Guru dan Orang Tua

Kendati dipandang positif dengan kemampuan multitaskingnya, generasi X dan Y memiliki permasalahan serius. Survei Neilsen tahun 2013 menunjukkan bahwa pengguna smartphone menghabiskan rata-rata 3 jam per hari untuk telepon, SMS, jejaring sosial, game, menjelajah aplikasi baru, dan berselancar di internet. Pada publikasi yang berjudul Indonesia Smartphone Consumer Insight Mei 2013, Neilsen memperlihatkan fakta mengejutkan, 90 persen dari waktu tersebut ternyata
digunakan untuk chatting.

Jika diakumulasi dengan penggunaan televisi yang pada tahun 2013 menunjukkan angka 4,5 jam per hari, permasalahan yang dihadapi generasi Y dan Z ini terlihat semakin serius. Apalagi angka tersebut pada tahun 2015 ternyata telah mencapai 5 jam per hari. Mencermati hal ini, menjadi masuk akal dan wajar jika Presiden Joko Widodo merasa harus menyampaikan permasalahan televisi dan smartphone ini di hadapan ribuan guru pada acara puncak Hari Guru 24 November 2015 lalu.

Tingginya penggunaan smartphone, menurut catatan The Telegraph berdampak tujuh hal. Ketujuh hal tersebut meliputi kecelakaan, kegelisahan, kegemukan, depresi, masalah tidur , hubungan sosial, hingga menurunnya produktivitas.

Besarnya dampak negatif akibat televisi dan smartphone juga diingatkan oleh tim peneliti dari Universitas Osaka, Jepang. Berdasarkan temuan mereka, menggunakan gadget 5 jam per hari dapat menimbulkan ancaman embolisme paru akibat
pembekuan darah.

Bagaimana Harus Bersikap?

Psikolog Early Utami menawarkan kiat khusus untuk berperan aktif dalam kehidupan generasi Y dan Z ini. Solusi yang ditawarkan adalah menjadi wasit bagi anak-anak.

Seorang wasit menurut Early Utami harus memenuhi persyaratan kompetensi dan melalui rangkaian tes dan seleksi agar dapat dipercaya memimpin sebuah kompetensi bergengsi. Bahkan, selain pengetahuan dan skill yang dimiliki, seorang wasit pun dituntut memiliki jam terbang yang cukup.

Seperti halnya wasit, guru dan orang tua pun demikian. Agar dapat turut terlibat dalam mengedukasi siswa atau anak generasi Y dan Z, guru dan orang tua perlu meningkatkan kapasitasnya dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi.

Seorang guru atau orang tua yang memiliki pengetahuan cukup, tentu dapat memahami aplikasi yang tepat maupun membahayakan siswa atau anaknya. Guru dan orang tua juga dapat mengerti kapan saatnya anak dibolehkan menggunakan smartphone dan untuk tujuan apa penggunaannya.

Pada praktiknya, guru dan orang tua tidak cukup hanya melarang atau membatasi penggunaan gadget. Seorang anak biasanya tidak bisa diam begitu saja dan bisa jadi menuntut agar aturan yang dibuat dilonggarkan.

Mengatasi permasalahan ini Early Utami memberikan saran untuk menyibukkan siswa pada aktivitas lain yang edukatif dan membutuhkan konsentrasi sekaligus melibatkan aktivitas fisik. Untuk hal ini, guru dan orangtua hendaknya menyediakan berbagai tawaran aktivitas positif yang menyaingi gadget. []

Tulisan ini dipublikasikan pertama kali di majalah Pelangi edisi 9, Desember 2015, halaman 4-6.



1/02/2016