Cerpen remaja: Balada Hujan

Selasa, 16 Juli 2019


Oleh Siska Yuniati
Minggu Pagi No. 33 Th 71 Minggu III November 2018

Wulan datang padaku bersama turunnya hujan. Hujan yang selalu aku benci di setiap rintiknya. Aku membenci hujan bukan tanpa sebab. Sebab hujanlah yang merenggut nyawa ayah ketika menjalankan tugasnya.

Ayahku seorang sopir barang pada sebuah perusahaan. Suatu kali mobilnya tergelincir di tengah hujan lebat. Menurut cerita ibu, waktu itu perasaan ibu sudah tak menentu. Ibu berusaha menahan ayah untuk tidak bekerja di hari libur. Namun kata ayah, ini sudah menjadi tanggung jawabnya, sehingga saat mendapat telepon untuk mengantarkan barang, ayah pun segera berangkat.

Akan halnya Wulan, saudara kembarku, tidaklah demikian. Ia selalu memandang ceria saat guyuran air dari langit itu jatuh ke bumi. Saat gerimis mengawali singgahnya hujan, mulut Wulan akan merapalkan doa-doa.

“Saat gerimis menghampiri, berdoalah, doamu akan terkabul,” lembut Wulan berucap kala mataku memandang sinis rintik air yang datang dari ujung langit.

“Ketika ayah dikebumikan, kata ibu, kita masih berusia empat tahun. Atas saran seluruh keluarga, kau, Wulan, akan dirawat Bude Lim, kakak dari ibu. Sedangkan diriku tetap tinggal bersama ibu. Hujan membawamu pergi, Wulan. Dalam hujan aku meronta-ronta, berusaha menggapai tubuhmu agar tidak beranjak. Pada kehidupan selanjutnya, hidupmu lebih makmur. Bude Lim sukses berniaga. Kau pun bergelimang harta. Berbeda denganku yang selalu menahan setiap keinginan lantaran menengok kondisi ibu yang tak menentu. Itulah Wulan, alasan lain mengapa aku membenci hujan.”

“Hujan sungguh lebat di luar. Bajuku basah karenanya,” Wulan berujar sambil mengibas gamis birunya.

Biarlah dia tahu bahwa hujan selalu menyiksa, merepotkan, dan mengabarkan hal-hal muram. Apa yang diharapkan penduduk ibu kota kala hujan datang, bukankah hujan selalu membawa banjir dan menimbulkan luka?

“Bukan hujan yang membawa petaka, tapi ulah manusia yang mengundang nestapa. Berdamailah dengan hujan, Sasi, hujan datang membawa cinta.”

“Cinta katamu? Aku justru kehilangan cinta bersama turunnya hujan. Randy memutuskanku beberapa pekan lalu. Dan hujan mengintip dari balik koridor sekolah. Lebih tragis lagi, aku menangis ditingkahi ricikan air hujan.”

“Endapkan segala egomu tentang hujan karena hujan sangat mencintai Sang Pencipta. Ia meluncur dan memeluk bumi karena cintanya pada Sang Pencipta. Ia turut mengantarkan kepergian ayah lantaran cintanya pada Sang Pencipta.”

Berbicara hujan selalu menusuk perasaanku. Terakhir kali hujan menyapaku bersama kilatan petir, gemuruh guntur, dan jalanan yang begitu semrawut. Mendung sepulang sekolah. Aku memacu sepeda motorku. Aku tidak ingin bertemu hujan dalam kekalutan seperti ini. Namun nyatanya hujan menyerangku tanpa ampun. Jalanan terasa licin, sepeda motorku oleng, dan aku rebah di atas aspal. Darah merembes bersama air mewarnai seragam putih abuku.

Aku terkapar di rumah sakit untuk beberapa waktu. Kulitku lecet-lecet. Tangan kiriku retak. Ibu yang menungguiku tergugu. Barangkali Tuhan masih enggan meregang nyawaku. Kondisiku membaik dan aku diizinkan pulang. Perawatan dilanjutkan di rumah. Tanpa masuk sekolah, hari-hariku terasa sepi.

“Tulislah segala resahmu di atas kertas. Kertas tidak akan memerotes apa yang akan kamu tuliskan sekalipun berupa umpatan. Kau tahu The Screet Anex? Buku itu telah menjadi saksi sejarah kenestapaan perang. Buku harian itu telah beredar di penjuru dunia dan menjadikan Anne Frank dikenal. Tidakkah itu menakjubkan? Anne Frank bukan siapa-siapa, ia gadis seusia kita.”

“Kuhargai usahamu untuk membuatku tetap tersenyum,” jawabku ketika itu dan aku mulai menulis dalam kesendirian. Tidak tentang kisahku, tidak tentang benciku kepada hujan, melainkan tentang cerita indah dalam khayalku. Aku menukar kepahitanku dengan rasa manis dalam setiap goresan cerpenku. Dan Wulan, akan selalu datang untuk membaca cerita-ceritaku. Kadang ia tergelak, tapi tak jarang mengernyit.

Aku menikmati kegiatan anyarku. Aku terus menulis. Terserah Wulan mau membawa ke mana tulisanku. Kadang tulisanku menempel pada majalah dinding sekolah Wulan. Sesekali singgah di majalah lokal. Namun lebih sering terkirim tanpa kabar.

Beberapa hari hujan turun tanpa henti. Di televisi dan koran sibuk memaparkan berita banjir, tanah longsor, pohon tumbang terkena hantaman petir. Inilah fakta buruk tentang hujan. Biarpun Wulan selalu berkata, hujan adalah rahmat. Hujan memainkan peranan penting dalam siklus hidrologi. Lembapan dari laut menguap, berubah menjadi awan, berganti mendung, lalu turun ke bumi dan akhirnya melalui aliran sungai kembali ke laut. Hujan dinanti oleh petani untuk menyiram tanaman, hujan dirindukan sang kodok agar dapat berenang dengan gembiranya.

Wulan belum datang juga. Apa ia terhalang hujan sehingga tidak bisa mengunjungiku? Apa Wulan mulai membenci hujan dan enggan berbasah ria untuk sampai ke tempatku? Perlahan aku merindukan hujan. Hujan yang menyertai kedatangan Wulan. Hujan yang disambut Wulan dengan suka cita seperti bumi kerontang yang tak kunjung berjumpa dengan air. Wulan, aku merindukanmu.

Pintu kamarku terbuka. Wulan datang tepat sepekan sejak aku menunggunya. Wajah putihnya selalu sumringah. Lagi-lagi, ia datang bersama hujan dan petir yang menggelegar.

“Lihatlah, aku membawa kabar untukmu. Kabar yang datangnya berteman hujan dan kasih sayang-Nya.”

Wulan memberiku selembar kertas ukuran folio. Diperlihatkannya nama-nama yang tertera dalam kertas itu. Salah satu nama yang ada adalah namaku. Cerpenku menjadi nomine dalam sebuah kompetisi tingkat nasional.

“Apa kau masih membenci hujan, sedangkan hujan selalu menyampaikan salam cinta dari-Nya?” Sebuah pertanyaan dari Wulan yang aku biarkan terpatri dalam hati. (*)



7/16/2019