Budaya Literasi, Menuju Indonesia Lebih Benderang

12/30/2019
30/12/19
Sumber gambar: forumzakat.org

Oleh Siska Yuniati
Guru MTs Negeri 3 Bantul, Tim Pengelola Hasil Studi PISA 2018, dan Ketua Umum Perkumpulan Guru Madrasah Penulis (Pergumapi)


MEMBICARAKAN literasi di Indonesia, terlebih literasi di kalangan pelajar, dalam benak seakan tergambar bagaimana terseoknya kita mengejar peringkat survei literasi internasional. Survei yang kita aktif mengambil peran sebagai peserta tersebut di antaranya Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS), Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS), dan Programme for International Student Assessment (PISA). Hasil survei internasional tersebut acap kali menorehkan kesan mengenaskan daripada memuaskan. Taruhlah pada PISA 2015, posisi kita berada pada peringkat 64 dari 72 negera yang disurvei.

PISA merupakan survei tingkat literasi dunia untuk pelajar berusia 15 tahun. Survei ini dilaksanakan setiap tiga tahun. Pada 2018, survei meliputi literasi sains, matematika, ilmu sosial, membaca, serta literasi digital. Literasi digital menjadi bagian dari materi survei tersebut dikarenakan survei dilakukan berbasis komputer atau istilah trennya computer based test (CBT).

Dimunculkannya literasi digital pada materi PISA membuka pikiran kita bahwa literasi tidak sekadar membaca. Literasi menurut Koichiro Matsuura, Direktur Umum UNESCO, lebih menekankan pada kemampuan membangun kehidupan yang lebih baik. Harapannya dengan budaya literasi tinggi, sebuah bangsa akan mampu bersaing dengan bangsa lain dan menjadi bangsa unggul.

Budaya Literasi Kita

Betulkah budaya literasi kita rendah? Jika berdasarkan hasil survei literasi, barangkali jawabannya “betul”. Akan tetapi, jika merunut ke belakang atau mengamati kehidupan sekitar, bisa jadi kita sudah lama memiliki budaya literasi.

Menengok sejarah Majapahit, kita diingatkan dengan kitab Negarakertagama. Kitab yang ditulis Dang Acarya Nadendra atau Mpu Prapanca ini berangka tahun 1365 Masehi. Dalam kitab Negarakertagama dilukiskan bagaimana kehidupan masyarakat era pemerintahan Hayam Wuruk. Mpu Prapanca merupakan mantan pejabat sekaligus putra pembesar kerajaan Majapahit. Kitab tersebut ditulis sebagai rasa bakti dan cintanya kepada raja. Apa yang tertuang dalam Negerakertagama menjadi catatan penting kehidupan di masa lalu. Hal tersebut mengindikasikan bahwa saat itu bangsa kita telah berliterasi.

Dalam kehidupan pesantren, budaya literasi juga telah menjadi bagian para santri. Metode belajar bandogan telah menjadi ciri khas manakala santri belajar kitab kuning. Dalam metode bandongan, santri menyimak penjelasan kyai. Kyai membaca, menerjemahkan, juga menerangkan bahasan dalam sebuah kitab. Santri menyimak serta membuat catatan.

Pada metode sorogan, para santri menyodorkan materi yang akan dipelajari kepada guru untuk mendapatkan bimbingan. Dengan metode ini, santri wajib menguasai cara membaca kitab kuning serta mengerti terjemahannya. Konon, metode sorogan telah dilakukan ketika pembelajaran Alquran masih dilakukan di langgar-langgar (Muftysani, 2016).

Bukti lainnya adalalah adanya peninggalan sejarah yang tersebar di seluruh Indonesia. Adanya Candi Prambanan dan Borobudur nan megah, kapal pinisi karya masyarakat Bugis, berbagai macam prasasti, merupakan jejak bahwa kita adalah bangsa yang literat. Peninggalan tersebut tidak akan tercipta manakala tidak dilandasi dengan pengetahuan dan tradisi baca-tulis yang memadai.

Literasi Bikin Melek

Jika literasi telah menjadi budaya bangsa Indonesia, mengapa dalam survei-survei internasional kita masih berada pada peringkat bawah? Tentu ada sesuatu yang kurang pas di sini. Bisa jadi karena budaya literasi belum berkembang secara menyeluruh. Literasi baru menyentuh untuk kalangan tertentu. Pada masa kerajaan-kesultanan, literasi berkembang pada kehidupan bangsawan, kemudian di kalangan santri. Literasi belumlah menyentuh masyarakat pada umumnya.

Hal lain yang perlu disadari bahwa kita belum terbiasa dengan berpikir tingat tinggi (HOTS). Pengalaman penulis saat ikut serta menjadi pengelola hasil studi PISA tahun 2018, soal yang disajikan adalah soal yang pada Taksonomi Bloom berada pada level C4 (menganalisis), C5 (mengevaluasi), serta C6 (mencipta).

Pada soal-soal PISA, soal pilihan ganda akan menuntun siswa melakukan beberapa langkah sebelum bisa menjawab pertanyaan. Untuk soal esai, jawaban siswa tidak dihakimi sebagai jawaban salah atau benar, akan tetapi lebih pada bagaimana siswa bersikap kritis dan kreatif berdasarkan penalaran. Semua itu membutuhkan latihan dan pembiasaan dalam kehidupan siswa.

Masalah lainnya adalah belum tumbuhnya kerangka berpikir bahwa membaca adalah sebuah kebutuhan. Literasi seringkali dimaknai sebatas kegiatan baca-tulis semata. Padahal, lebih dari itu, kegiatan membaca semestinya dilandasi karena kita perlu pengetahuan tertentu untuk berkreasi. Oleh karena itu, ketika disodori soal-soal yang bersifat aplikatif, siswa menjadi bingung.

Pemerintah sudah berusaha mengambil langkah strategis untuk mengatasi permasalahan ini. Pada 2015, dicanangkan Gerakan Literasi Nasional (GLN). Gerakan ini meliputi tiga turunan, yaitu gerakan literasi keluarga, gerakan literasi sekolah, dan gerakan literasi masyarakat. Dalam gerakan tersebut, masing-masing individu dapat turut andil dan mendukung suksesnya program. Lalu, sebagai sebagai masyarakat, apa yang dapat kita lakukan?

Pertama, mendorong anak maupun masyarakat agar mempunyai kebutuhan membaca. Merunut artinya, litasi berasal dari kata literacy. Kata ini bermakna kemampuan membaca dan menulis serta kompetensi di bidang tertentu.  Dengan demikian, literasi lebih mengarah pada peningkatan keterampilan. Dalam masyarakat, keterampilan sangat dibutuhkan untuk dapat bertahan hidup.

Kedua, menjadi contoh dalam berliterasi. Contoh besar akhir-akhir ini, kita jumpai betapa mudahnya seseorang memberikan tanggapan atau menyebarluaskan berita maupun artikel di media sosial. Alih-alih memberikan manfaat, apa yang kita sebarkan justru menyesatkan lantaran rentan “hoax”. Hal ini merupakan contoh dalam literasi digital, bahwa sikap kritis serta konfirmatif sangatlah penting.

Ketiga, menumbuhkan literasi sejak dini. Pola asuh serta pembiasaan di sekolah/madrasah akan membentuk karakter anak. Jika sejak kecil telah dibiasakan dekat dengan buku, maka kelak anak akan menghargai kehadiran sebuah buku. Demikian pula jika anak dibiasakan berkreasi, ia pun akan menjadi anak yang kreatif.

Sebagai penutup, tak ada salahnya mengingat tulisan Han Hee Seok dalam Parent with No Property. Dalam buku tersebut diceritakan bahwa Han Hee Seok merupakan ayah yang miskin. Ketakutan menderanya menakala rapor anak sulungnya “sangat biasa”. Ia takut sang anak seperti dirinya, menjadi orang miskin. Salah satu usaha yang dilakukan adalah menyediakan artikel dari koran setiap hari. Meski mula-mula si anak enggan membacanya, lama-lama menjadi tertarik juga. Tujuan sang ayah adalah agar anaknya terbiasa berpikir runtut dan kritis melalui artikel yang dibaca. Pada masanya, si anak tumbuh cerdas dan terbiasa menulis paper. Hal itu pulalah yang mengantarkan si anak meraih beasiswa ke Amerika. Sang ayah begitu terharu, ternyata usaha kecilnya berbuah manis. Ini menjadi bukti betapa literasi membuat melek, menjadikan dunia lebih benderang. (*)

Tulisan ini terbit pertama kali di Majalah Banyumanik Vol. 17 Nomor 1 Agustus 2019 halaman 82-84, versi PDF bisa diunduh melalui tautan ini.

Thanks for reading Budaya Literasi, Menuju Indonesia Lebih Benderang | Tags:

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »

Related Posts

Show comments